Carmelitolindonesia’s Blog

Blog insan Karmel Indonesia: refleksi dan aksi

TELADAN YANG SELALU MEMBAHARUI

 

Imagen

Hari ini Gereja sedunia merayakan pesta St Petrus dan Paulus, dua saudara sejati dalam iman akan Yesus Kristus. Kedua tokoh ini disebut sebagai pillar-pilar utama bangunan Gereja. Dari dua saudara sejati ini, Petrus dikenal sebagai BATU, seorang yang teguh, berdiri kokoh sebagai pemimpin Komunitas Kristen Yahudi, Antiokia dan Roma. Kemudian, Paulus adalah rasul bangsa-bangsa yang dikirim ke daerah-daerah terpencil, daerah-daerah perbatasan untuk pekabaran Injil Yesus Kristus kepada kaum luar Yahudi di Galatia, Atena dan Tesalonika.

Namun dua saudara sejati ini, bukan saja selalu akur, mereka bahkan pernah saling debat. Ambil contoh di Surat kepada umat di Galatia 2: 11-12. Paulus katakan: “Saya menentang Petrus dari muka ke muka sebab ia benar-benar salah”. Petrus lalu mengubah pandangannya yang tidak mau menerima perbedaan antara orang-orang bersunat dan tidak bersunat, agar mereka bisa duduk makan semeja. Bagi Paulus, semua harus satu, semua diterima, semua Katolik, bisa menerima perbedaan dan mengenyahkan sikap yang membedakan.

Kesempatan lain juga menjadi inspitasi bagi kita, yakni bagaimana Petrus harus mengubah masa lalunya. Petrus membolehkan dirinya dikuasai oleh Roh Kudus, dan karena itu ia dapat mengenal Yesus Kristus sebagai Mesias, Putra Allah yang hidup. Tuhan pun menghembusi kelembutan Roh Kudus kepada Petrus dan menjadikan Petrus dengan nama baru: Simon anak Yonas, engkau adalah Petrus (Kefas) dan di atas batu karang ini, akan Kudirikan GerejaKU.

Masih dalam injil Matius, 5 ayat setelah ini, kita temukan bahwa Yesus tidak memanggil Petrus sebagai Kefas tetapi sebagai setan penggoda. Apa kiranya yang menjadi pembeda antara Kefas dan setan?

 

Paus Emeritus Benediktus ke 16 berkata: yang menjadi pembeda Kefas dan setan adalah saat di mana Simon Petrus bertindak berdasarkan darah dan dagingnya sendiri. Itulah yang membedakan bahwa manusia bukan apa-apa. Manusia tanpa Tuhan hanyalah seonggok daging lemah. Persoalnya, manusia suka menonjolkan dirinya. Manusia sering lupa sama Tuhan. Beda kalau saat Petrus menggunakan kuasa dari Roh Allah: semuanya ajaib.

Kalau dari Allah, maka segalanya menjadi baik. Contoh bagi kita, yakni ketika Petrus dan rasul-rasul ditangkap dan dipenjarakan di Yerusalem. Sebagai tokoh pewarta Kabar Baik, Petrus dkk pernah ditangkap dan dipenjarakan. Dalam Kisah Rasul-rasul bab 5 diberitakan bahwa pada malam hari, malaikat Tuhan datang dan membebaskan Petrus dkk. Caranya pun mencengangkan para sekuriti di sana. Pintu-pintu penjara terkunci sementara para rasul itu telah bebas dan memberitakan Kabar Gembira di Bait Allah, tanpa takut ancaman. Yang menarik juga adalah tentang cara malaikat Tuhan memerintah Petrus: Siapkan diri, pergi, berdirilah dan beritakanlah.

Petrus pun bersiap, ia pergi ke mana-mana, siap berdiri mewartakan berita kesukaan tentang Yesus Kristus dan bahkan siap menyerahkan nyawa di kota Roma.

Kitapun bisa seperti Petrus. Petrus pernah berdosa. Pernah 3 kali menyangkal. Pernah dicap setan oleh Yesus. Petrus itu orang berdosa. Kita juga orang berdosa. Bedanya, Petrus sadar dan bertobat dan membiarkan diri dikuasai oleh Tuhan. Kita? Masih tanda tanya. Namun tidak salah juga kalau kita mau belajar dari sikap Petrus. Kita bisa dipenjara. Kita dipenjara dosa. Kalau kita lebih tonjolkan daging dan darah manusia kita, maka kita akan tetap dipenjara dosa. Kalau kita tetap hidup dalam kedagingang, kita hanya akan menuai kebencian, konflik, pertikaian, perbantahan, permusuhan dan tak ada kedamaian.

Maka, belajar pada Petrus. Kalau ada penjara dosa dan salah jangan simpan di dalam hati. Biarkan hati kita dikuasai oleh hembusan lembut Roh Tuhan. Minta Tuhan beri petunjuk dan bimbingan. Kalau kita tonjolkan Tuhan, maka hidup kita pun lebih diwarnai oleh kasih dari Tuhan. Di sana kita akan membawa damai, kelembutan, kehalusan budi. Kalau ada persoalan, jangan putus asa. Ingat, Petrus sekalipun di malam gelap, dalam penjara yang mengungkung, dibebaskan oleh Tuhan, maka kita pun percaya bahwa sekalipun hidup ini kadang gelap dan pekat, namun kalau ada Tuhan semuanya pasti berubah. Kita juga berdoa pada kesempatan ini untuk bangsa dan negara kita. Lagi beberapa hari kita melaksanakan pilpres. Kita doakan semoga bangsa kita dilindungi dan dibimbing Tuhan. Apa pun perbedaan kita, kita serahkan pada Tuhan. Tuhan bisa bekerja dahsyat dalam kelembutan. Kekuatan doa sudah terbukti dengan rosario yang digalakkan Santo Yohanes Paulus II ketika meruntuhkan sebuah kejayaan komunisme Uni Syoviet. Kita percayakan negara dan bangsa kita dalam doa-doa kita. Amin.

Written by John Lebe Wuwur Karmelito Teresiano Indonesiano

Juni 29, 2014 at 2:26 am

SEPULUH TAHUN TELAH BERLALU…

Bag dalam biara Karmel OCD Bogenga Bajawa

Bagian dalam Biara Karmel OCD Bogenga Bajawa

Pertama kali bertemu, ada kesan. Kesan itu diteruskan dengan datang dan melihat dan tinggal hidup bersama dia, di Bajawa khususnya di Bogenga. Saya bangga dengan seorang P. Thom (Panggilan akrab untuk alm.  Pater Thomas Kalloor, OCD). Saya bangga karena sebagai imam dari India, ia sendiri berjalan tanpa kenal lelah mempromosikan panggilannya sampai ke Lembata. Saya pertama kali mengenal P. Thom di Lewoleba Lembata. Saat itu musim hujan angin. Setelah itu datang memberi test di Larantuka.  Saya ingat P. Thom bersama Bapak Petrus Puli, (Guru Bahasa Indonesia SMA Negeri Bajawa) dan Bapak Anton Riwu (Guru KepSek pada SDI Waturutu). Saat itu juga hujan angin dan mereka harus memutar tujuan. Seandainya keadaan normal maka mereka pulang lewat Ende . namun hujan membuat jalan di Ende runtuh. Maka mereka terpaksa mengalami gempuran ombak laut sawu ke kupang baru kemudian, dengan kapal ke Ende dan terus ke Bajawa. Kesan saya waktu masih remaja: orang ini punya kekhususan. Lalu saya datang, dan alami sendiri kekhususannya itu adalah: kesabaran, keRAMAHAN, ketabahan, keuletan dan kebapaan.

 

Kalau kita membandingkan kehidupan di Bogenga dan Paroki Santo Yosef sejak tahun awal sampai saat ini maka kita akan mendapatkan perbedaan yang amat besar. Dulu hanya ada dua pater, P John Britto, OCD dan P. Thom yang menangani pelayanan di Paroki serentak di Biara. Sekarang pelayanan rohani sdh ditangani oleh banyak Pater.  Dulu, P. Thom  tidak pakai mobil. Ia setiap setengah lima pagi, sudah menyalakan mesin motor Yamaha, yg sekarang diparkir rusak di samping aula belakang Paroki St. Yosef. Itu satu2nya kendaraan yg dimiliki biara ini saat itu. Bandingkan saat ini….kita harus berterima kasih kepada P. Thom dan P. John Britto  dan syukur kepada Tuhan. Selanjut setiap pagi kelihatan bahwa P. Thom  selalu menggunakan jaket tebal menembus dingin dan kabut pagi Bajawa waktu itu. Perlu diingat, daerah sekitar Biara masih dipenuhi dengan pepohonan kopi dan dadap dan enau. Karena itu udaranya masih terasa amat dingin dan menusuk sampai ke tulang. Namun, kelihatan bahwa P. Thom yang setiap hari misa jam 5 pagi itu tidak merasakannya. Suatu saat, P. John Britto, diserang stroke. Kami bingung, pastor sudah tinggal dua, sakit parah, mau jadi apa? Hanya satu-satunya harapan kami adalah P. Thom.

 

Merasa menjadi sandaran kami angkatan pertama, P. Thom begitu penuh pengorbanan. Bayangkan, misa di Paroki jam 5 pagi, melayani pengakuan, mememperhatikan kelanjutan pembangunan gereja, melayani misa di stasi-stasi dan tidak lupa, kami di Bogenga. Waktu itu P Thom sendiri yang menjadi magister kami. Kalau sudah sibuk, ia hanya tinggalkan tugas, terus kami selesaikan dan malam baru berkumpul.

 

Pertanyaan yang muncul: apakah ada novis angkatan perdana yang bolos di tengah pengorbanan seorang magister pertama? Kelihatan agak sulit untuk bolos. Belum ada rumah di sekitar sini. Batas hutan masih di SD I Watutura. Kemudian kalau muncul di kota semua orang pada tegur: Fraterr,  jalan-jalan  ke mana. Hati-hati…” jadi, sekalipun hanya satu pastor untuk kami, tetapi ada semacam karya Tuhan yang menyertai kami untuk bersemangat membantu P Thom.

 

Saya juga ingat, kalau rekreasi, Pater Thom selalu memilih bermain kartu. Dan permainan menjadi amat serius. Kadang saling marah dan saling mempersalahkan. Tapi dari situ muncul keakraban. Keakraban juga terlihat dalam makan bersama. Ketika kembali dari pelayanan di stasi, P Thom  selalu bawa sesuatu. Misalnya pisang, advokad, markis, jambu air dll. Apakah ia simpan di kamarnya? Tidak pernah. Ia dari stasi bersama sopir waktu itu, Bapa Kobus, langsung bawa ke dapur untuk dihidangkan di kamar makan. Kalau tidak sempat dihantar ke kamar makan, beliau akan menyuguhkan saat rekreasi.

 

Dari  sedikit tentang P Thom di atas, kita dapat menarik satu pesan kecil untuk kita semua. P Thom. Kisah tentang sebuah  sepeda motor bebek Yamaha dan rekreasi dengan makanan camilan pisang masak kiriman dari stasi2 yang dibawa P. Thom.  Bagi saya, pesan itu adalah KASIH, AGAPE, kasih yang selalu memberi tanpa sisa untuk kehidupan dan kelanjutan hidup orang lain. P. Thom punya AGAPE, agar Ordo OCD ini bisa eksis terus di Indonesia. Agar, OCD yang pertama hanya mulai dengan ‘satu sepeda motor bebek Yamaha itu”, boleh memiliki lebih dari satu kendaraan. Tentu bukan untuk show dan hidup mewah, tetapi untuk semakin memperluas pelayanan dan pewartaan Injil dan juga menebarkan spiritualitas doa kontemplasi Karmel Teresa kepada sesama.  Hanya dengan kasih yang selalu memberi ini, kita bisa memberi diri, waktu, perhatian, pengorbanan kepada sesame.

 

Bapa kita P. Thom sudah menunjukkan hal itu. Ia memberi diri seutuhnya setiap hari kepada Tuhan dan sesame. Ia memberi diri dalam pelayanan kepada umat, dgn setiap pukul setengah lima pagi dalam dingin untuk misa pagi di Gereja. Terus misa lagi di Biara, terus misa di stasi. Belum lagi pembangunan Gereja dan BIara. Semua jika tanpa kasih yang memberi diri, tak mungkin ada sukses nyata seperti ini. Maka, mari kita belajar utk selalu siap memberi diri, mempersembahkan diri setiap hari. P. Thom sudah menjadi persembahan yang harum kepada Tuhan dengan sekian pencapaian kiprah OCD Indonesia. Semoga keharuman semangatnya itu juga menjadi semangat kita. Amin.

Written by John Lebe Wuwur Karmelito Teresiano Indonesiano

Februari 3, 2014 at 11:23 pm

MALAM DI BADJAVA

Bandung Jakarta

Bandung Jakarta

Jalan sunyi malam sepi

Aku terlusuri jalanan di kota Badjava

Terus ku daki berawal dari Waiwoki

Hingga fajar menyingsing di kaki Lebijaga

Tapi kini sepi…sepi …teramat sepi

Mengapa sunyi mencekam seperti ini

Hati terasa galau di pinggir kota

Antara Naru dan Bogenga

Kenangan itu berputar mengiringi  Wakomenge

Entah kapan Bolonga telah menantiku memelukku

Dalam dekapan sunyi yang kian sepi

Sunyi se sunyi ini

Dalam rintik rinai gerimis

Di Bologna tempat kita pernah bertemu

Saat kita berpadu dalam sunyi

Sunyi yang semakin hanyut

Malam se sunyi di Bologna

Bajawa, 27 Januari 2014

Written by John Lebe Wuwur Karmelito Teresiano Indonesiano

Januari 27, 2014 at 1:20 pm

TERIMA KASIH UNTUK GADIS BERJILBAB

Imagen

Kemarin, 21 Januari 2014. Mobil Hardtop tua menuruni lembah berpemandangan indah Bajawa menuju ke dataran Soa, hingga tiba pada Bandara Turulelo. Saya menemani seorang saudara berkewarganegaraan Amerika Serikat, P. Alo G. Deney, OCD yang hendak berangkat ke Kupang, seterusnya mengunjungi beberapa negara Asia-Pasifik. Mumpung Beliau ditugaskan “Roma” sebagai orang yang mendampingi saudara-saudara OCD di Jepang, Filipina, Australia dll. Setelah check in pkl 06.00, kami menunggu sambil bersenda gurau menanti dengan harap besar, bahwa pesawat terbang milik maskapai Trans Nusa akan mendarat di Turulelo. Jam keberangkatan tiba, pukul 07.00. Tapi pesawat belum juga turun. Sesekali terdengar dengung pesawat di balik awan pekat langit Turulelo. Pukul 08.00, diumumkan pihak Bandara bahwa pesawat mengalami penundaan lantaran cuaca yang tidak bersahabat. Pukul 09.00 kembali terdengar pengumuman dari pengeras suara bahwa pesawat Merpati Airlines dan Trans Nusa batal mendarat di Bandara Turulelo Soa dengan alasan cuaca buruk. Lantas, saat itu juga, Bandara terlihat sibuk. Semua penumpang mencoba mencari Bandara alternatif di Ende maupun di Maumere. Kami ditawarkan untuk menghubungi pihak Trans Nusa di Bandara Ende. Setelah mengurus segala yang perlu dengan Trans Nusa Bajawa, kami diyakinkan untuk pergi ke Ende, menggunakan layanan penerbangan esok harinya via Ende.

Dengan keyakinan ini, pukul 02.00 dini hari tadi, kami bergegas menuju Bandara Ende dengan bermodalkan pesanan pihak Trans Nusa di Turulelo Soa bahwa “cukup melapor di Trans Nusa Ende dan siap terbang ke Kupang pada pukul 07.00. Artinya, setelah check in, pkl 06.00″. Dengan penuh keyakinan kami mendekati Ruang Trans Nusa. Namun keyakinan kami mulai susut, setelah mendapati bahwa Kantor TN masih tertutup. Kami mencoba mencari informasi tentang TN pada beberapa pihak Bandara Ende. Kepada kami diberitahu bahwa pkl 08.00, akan ada check in untuk TN. Kami menanti dengan penuh kecemasan. Pukul 08.00 sdh terlihat pegawai2 berseragam TN. Kami bertanya, apakah ada penerbangan TN pagi ini ke Kupang? Jawaban yang diberikan: “Trans Nusa akan terbang dari Ende ke Kupang pada pukul 16.00″. Kepercayaan kami langsung patah tak berdaya. Bayangkan, tanpa tidur semalam dan menempuh perjalanan Bajawa – Ende hanya demi mendapatkan pelayanan penerbangan ke Kupang, yang sudah dijanjikan, ternyata dibatalkan. Dibatalkan dengan cara yang tidak masuk di akal karena pernyataan asal omong dari orang-orang yang bertugas. Kami lalu mengecek status tiket kami. Ternyata, dari bantuan petugas Trans Nusa, seorang gadis berjilbab yang tak sempat aku tanyakan identitas dirinya, membuat kami terkejut. Nama Saudara saya yang berkewarganegaraan USA itu masih berstatus penumpang Bajawa – Kupang. Gila..Crazy. Demikian keluh Padre Opa yang terlihat keletihan.

Sejenak berpikir. Kami lalu menanyakan, apakah pagi ini ada penerbangan ke Kupang dengan pesawat apa saja? Kami dijawab: “Penerbangan ke Kupang akan terjadi pada sore hari”. Padahal, Padre Opa sudah harus terbang mengingat “connecting flight to Kupang” terjadi pada pukul 15.00 sore ini. Jelas, ini kacau. Padahal semuanya harus dijalani. Dari Flores, Yogyakarta, Jakarta, Manila, Kyoto dll.Kami coba lagi bertanya, apakah ada penerbangan ke luar Flores pada hari ini langsung ke Jawa? Gadis Berjilbab itu menjawab: “Ada. Mari saya bantu carikan. Itu….di Garuda”. Dengan harap-harap cemas, kami mendekati Kantor Garuda Indonesian Airways di Bandara Ende. Setelah berdialog dengan petugas Garuda, yang melayani dengan begitu baik, kami mendapat kepastian bahwa Padre Opa bisa mendapat pelayanan penerbangan hari ini pada pukul 15.00. Tiket bisa didapat saat itu juga. Setelah berpikir sejenak, dengan resiko harga tiket yang melangit mahal, kami berkeputusan untuk menggunakan Penerbangan Garuda pada sore itu dengan rute: Ende – Denpasar – Yogyakarta. Tiket kemudian diberikan dan terbang dengan Garuda menuju Yogyakarta pun menjadi suatu kepastian. Saya ucapkan terima kasih banyak untuk Gadis Berjilbab dari Trans Nusa: “Nona manis, kamu manis sekali. Terima kasih atas bantuanmu. Semoga Tuhan memberkatimu”. Saat kisah ini ku tulis, Padre Opa sedang dalam penerbangan Denpasar-Yogyakarta. Quidate Padre, hasta la vista. Que Dios el Buen Senyor le protege. Dios le bendiga.

Bajawa, 22 Januari 2014.

Diposting di Facebook tgl 22 Januari 2014

Written by John Lebe Wuwur Karmelito Teresiano Indonesiano

Januari 27, 2014 at 6:15 am

Terang itu menyinari jalanku

Terang itu menyinari jalanku

Terang

Written by John Lebe Wuwur Karmelito Teresiano Indonesiano

Januari 26, 2014 at 5:03 pm

PERGI SAMPAI KE UJUNG “JONG”

Imagen

Perjalanan Bajawa ke Aimere memakan waktu 1 jam. Jeep melaju pasti menuruni lembah indah. Beberapa kali saya mengabadikan pemandangan alam yang tidak mungkin ditemui di belahan bumi lainnya. Betapa indah karya Tuhan. Bukit, lautan, hewan-hewan liar, padang dan hutan memberikan pesona jiwa tersendiri. Memang, tidak ada yang mampu menandingi kehebatan Insinyur Semesta Alam ini. Jeep memasuki kota pelabuhan Aimere. Rumah Fr. Erik Wanggus, anak seorang militer TNI Angkatan Darat, tidak sulit bagi Bapak Dion. Kami langung menuju ke rumah Fr. Erik. Di depan rumah, pensiunan tentara ini menyalami kami dengan begitu hangat. Kami diajak masuk ke dalam rumah dan bertemu dengan ibunda Fr. Erik. Ibunda Fr. Erik ternyata sedang sakit. Namun, ia rela bertahan mengobrol bersama kami. Sambil mengobrol datang pula saudari-saudari Fr. Erik dari sekolahan. Ada yang di SMU, ada pula yang di SMP. Selanjutnya kami membicarakan maksud kunjungan kami dan keluarga prajurit ini tidak berkeberatan dan bahkan menerima semua anjuran dan pesan kami dengan amat bahagia. Selanjutnya seperti biasa, orang Flores selalu menjamu tamu, apalagi tamu yang datang itu seorang pastor. Maka, makan tidak boleh dilewatkan begitu saja. Setelah menikmati jamuan makan pagi-siang, kami pun bergegas menuju mobil Jeep. Kami berangkat menuju Kabupaten Manggaria Timur, tepatnya ke Kisol.

Perjalanan Aimere Kisol memakan waktu kurang lebih satu jam. Jam 11.00 kami bertolak dari Aimere dan tiba di Kisol, Manggarai Timur, pukul 12.00. Di Kisol, sudah menanti Fr. Sergio, calon Novis dari Kisol. Ayah dan Ibu Fr. Sergio juga ada. Kesan pertama, keluarga ini sederhana. Rumah berbahan “naja” atau bamboo, menjadi tempat tinggal keluarga. Bapak dan Mama Fr. Sergio, adalah petani sederhana. Di balik kesederhanaan ini mereka tidak memiliki setitik keberatanpun untuk mengongkosi dan menyanggupi keinginan putra sulung mereka menjadi imam. Setelah mengutarakan maksud kunjungan kami, lagi-lagi “lunch” menjadi penutup acara bersama keluarga sederhana ini. Dari Kisol, kami memulai perjalanan resiko ke daerah Jong, suatu desa terpencil di Kabupaten Manggarai (Tengah). Fr. Sergio menawarkan diri untuk menemani kami. Persoalan timbul ketika, Fr. Sergio pun baru pertama kali menuju kea rah kota Ruteng. Satu-satunya keuntungan disertakan Fr. Sergio adalah bahasa Manggarainya. Ia bisa diandalkan untuk bertanya dalam bahasa Manggarai kepada penduduk desa yang akan kami temui.

Kami tinggalkan Kisol menuju Jong pada pukul 14.00. Tiba di cabang Baelaing, (15 Km sebelum kota Ruteng), kami mengambil arah perjalanan ke kanan. Perjalanan mendebarkan. Kabut tebal mengiringi perjalanan kami, dilengkapi dengan derasnya hujan di hutan Rana Meze. Jurang dan tebing menjadi hiburan untuk menaikan adrenalin. Sesekali mobil harus direm mendadak lantaran longsoran dan halangan tumbangnya pepohonan. Sekali lagi, jurang. Jurang mendalam, karena mobil harus menelurus jalanan di ketinggian Rana Meze, sebuah gunung berdanau di dekat kota Ruteng. Dari ketinggian itu, kampong Colol, Lengko Ajang dan Jong sekitarnya menjadi seperti mainan kotak-kotak kanak-kanak kecil yang dibalut awan dan kabut tipis maupun tebal. Oh “Fascinosum et Tremendum”. Pukul 17.00, kami melewati lembah Colol. Diskusi kami mengingatkan akan berita-berita Koran tentang masalah tanah dan keadilan di daerah ini. Memang tanah yang subur mengundang banyak hati untuk mendekatinya. Seterusnya, kami mendekati paroki Lengko Ajang. Jarum jam menunjuk pukul 18.00. Sambil terus menuruni lembah Lengko Ajang, doa Anjelus Sore dilantunkan diteruskan dengan doa Bapa Kami dan lagu-lagu pujian. Di samping Gereja Paroki Lengko Ajang, ternyata Fr. Eki Junaedi, calon Novis dari desa Jong, sudah menanti. Di tangannya terdapat 5 buah payung. Menurut rencana, payung-payung itu dipakai jika hujan. Lebih lagi, jalanan ke depan bukan jalanan beraspal, tetapi berbatu dan lumpur. Kemungkinan Jeep Tua ini tidak mampu mengarungi perjalanan siswa yang berjarak 15 km. Apaan ini? Lima belas kilo meter? Malam lagi!!!…. Keputusan ada pada Bapak Dion, sopir andalan kami. Bapak Dion berpikir sejenak, lalu katakan: Let it be, in the Lord. Maka, dengan penuh kecemasan kami menumpang Jeep. Benar-benar seperti balapan di arena “Off Road”. Jeep Tua itu, bergerak pasti, terguncang-guncang, terbanting namun tetap berada pada jalur. Saya tanyakan, Dion, mengapa Jeep ini bisa berjalan di batu-batu besar dan lumpur seperti ini? Ia menjawab, biar tua, tapi Jeep ini dilengkapi dengan Derek. Ini yang menjadikan Jeep ini siap tempur di medan seperti ini. Wuah…hebat ya. Hebat lagi, para pendahulu yang telah menghadirkan Jeep Tua ini. Seterusnya, jam menunjukkan waktu pukul 20.00. Rumah Fr. Eki pun telah kelihatan. Kendaraan berhenti karena jalanan memang berhenti di situ, tepat di depan rumah Fr. Eki. Kami pun berceletuk, ini benar-benar “Jong”, benar-benar sampai di ujung jalan di dunia ini.

Kami pun turun dari Jeep yang amat berjaza itu dan menuju ke depan rumah. Ada apa gerangan, ada beberapa tetua yang menunggu di pintu masuk. Kami mendekat dan ada sapaan adat bahasa Manggarai, istilah umumnya disebut “Kepok”. Kapok adalah ucapan selamat datang kepada tamu ke dalam suatu komunitas Manggarai. Dalam “Kepok” itu diberikan bir sebotol, seekor ayam putih hidup dan beberapa bungkus rokok. Setelah upacara sapaan “Kepok”, kami diundang masuk ke dalam rumah untuk selanjutnya membicarakan maksud kedatangan kami secara resmi. Kunjungan kekeluargaan dari Ordo OCD ke keluarga besar calon Novis OCD. Acara ini ditutup dengan makan malam.

Pagi, Sabtu 16 Februari 2013. Kampung Jong diselimuti sinar matahari pagi. Ada dingin yang menyaput kulit. Ada juga celoteh anak-anak sibuk berangkat ke sekolah di Desa itu. Aku ingin mandi, setelah sehari perjalanan yang melelahkan kemarin. Persoalannya, di mana aku dan kami harus mandi? Fr. Eki yang memecahkan persoalan. Yuuuk,  kita ke kali. Jarak ke kali kurang lebih 3 km, demikian ajak Fr. Eki. Maka kami pun berangkat ke kali dan membersihkan mulut dan badan di kali. Tak ada air hangat, tak ada shower yang ada adalah air penampungan yang dingin namun menyegarkan. Kami mandi di kali.

Setelah menyegarkan badan dengan mandi di kali, kami kembali ke rumah. Misa sudah disiapkan dan kami langung bertugas memimpin misa di tengah kesederhanaan masyarakat kampong Jong. Setelah misa syukur, kami pun tidak memiliki banyak waktu untuk bersantai mengingat jalanan pulang yang amat menantang. Jika hujan, makan perjalanan ini bisa menjadi amat sulit. Maka, kamipun segera meninggalkan kampong Jong ke Bajawa. Pukul 11.00 kami meninggalkan Jong, diiringi gerimis dan diteruskan guyuran hujan lebat. Mobil terombang ambing, namun kami harus mencapai Bajawa di Kabupaten Ngada malam  ini. Mobil tiba di Rumah Biara St. Yosef OCD Bogenga Bajawa, tepat pukul  21.00. Terima kasih Tuhan, sekalipun tergayut keletihan namun ada syukur berlimpah karena perlindunganMu, karena orang-orangMu dank arena kasihMU. Pujian bagi Allah kini dan selama-lamanya.

Written by John Lebe Wuwur Karmelito Teresiano Indonesiano

Februari 17, 2013 at 1:17 pm

MEMANDANG PADA YANG TERSALIB

Kristus mati di salib dan kematianNya itu membawa kesembuhan dan pengampunan dan kehidupan kekal. Itu inti diskusi antara Yesus dan Nikodemus. Tentang siapa diriNya, Yesus sudah menjelaskannya kepada Nikodemus dalam Injil Yohanes bab 3. Dalam DiskusiNya dengan Nikodemus, seorang farisi, golongan yang ketat menjalankan aturan agama Yahudi itu, Yesus menekankan bahwa orang harus lahir dua kali. Artinya, orang harus bertobat, dan bertobat berarti membaharui diri di dalam gerak Roh Kudus, Roh Yesus dan Bapa di Surga. Tetapi bagaimana orang harus lahir kembali, bagaimana orang harus bertobat? Yesus menjawab pertanyaan ini dengan menggunakan teks dari Kitab Ulangan, ketika Musa membawa orang-orang Israel keluar dari Mesir menuju ke Tanah Terjanji, Israel. Dalam perjalanan selama 40 tahun itu, dikisahkan bahwa ada banyak orang Israel yang mati dipagut ular berbisa. Melihat ancaman bencana serius itu, Tuhan menyuruh Musa membuat Ular dari Perunggu agar ketika orang yang dipagut ular itu melihat ke luar besi, dan bisa mendapatkan kesembuhan. Yesus menggunakan simbol ular yang diunjuk atau dinaikkan untuk menggambarkan siapa diriNya. Ada tiga hal di sini untuk kita lihat. Pertama, racun ular itu berbahaya dan mematikan. Karena itu perlu obat penangkalnya. Yakni Ular Besi. Racun ular itu bisa ditawarkan dengan kekuatan Ular Besi. Namun, patut diingat, bahwa bukan Ular Besi itu yang menyelamatkan melainkan kekuatan Tuhan yang memerintahkan Musa untuk membuat Ular Besi itulah yang menjadi kesembuhan. Kedua, dosa. Dosa itu berbahaya dan lebih berbahaya dari racun ular. Karena, dosa tidak hanya mematikan tubuh seperti ular, melainkan juga mematikan jiwa. Satu-satunya kesembuhan melawan racun dosa itu adalah “memandang Dia yang diunjukkan di atas salib”, Yesus Kristus, Tuhan yang menjadi manusia dan mati untuk menebus kita dari dosa. Hanya dengan memandang Dia, hanya dengan membuat mata kita fokus pada Yesus, kita bisa mendapatkan keselamatan. Keselamatan yang tidak hanya di sini, di dunia ini, melainkan juga keselamatan kekal. Keselamatan yang tidak dibatasi oleh waktu sebelum kematian badani dan sesudah kematian fisik kita. Soal ketiga adalah, bagaimana kita bisa selalu memandang pada Dia yang tersalib itu?

Sebab Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya oleh Dia. Barangsiapa percaya kepada-Nya, ia tidak akan dihukum; barangsiapa tidak percaya, ia telah berada di bawah hukuman, sebab ia tidak percaya dalam nama Anak Tunggal Allah.
“3:19 Dan inilah hukuman itu: Terang telah datang ke dalam dunia, tetapi manusia lebih menyukai kegelapan dari pada terang, sebab perbuatan-perbuatan mereka jahat.3:20 Sebab barangsiapa berbuat jahat, membenci terang dan tidak datang kepada terang itu, supaya perbuatan-perbuatannya yang jahat itu tidak nampak;3:21 tetapi barangsiapa melakukan yang benar, ia datang kepada terang, supaya menjadi nyata, bahwa perbuatan-perbuatannya dilakukan dalam Allah”.

Siapa yang tidak percaya, tidak apa-apa. Tidak apa-apa buat Yesus, tetapi rugi besar buat yang sudah mendengar tentang Yesus tetapi tidak percaya. Kepercayaan dan keyakinan kita inilah yang membuat hidup kita berbeda. Siapa yang percaya kepada Yesus akan mengatur hidupnya agar sesuai dengan Sabda Dia yang bergantung di Kayu Salib. Siapa yang tidak percaya, ia berjalan sesuai dengan kehendaknya sendiri. Mengapa demikian? Manusia ini, kalau sendirian, kalau mau mengandalkan kekuatan sendiri, tidak punya arti apa-apa. Manusia kalau mau ikut diri sendiri, kemauan sendiri, ego sendiri, maka ia akan berjalan dalam kegelapan. Semuanya gelap. Lalu kita lihat: Lawan dari gelap adalah terang. Siapa yang percaya pada Dia yang ditinggikan, dan mengarahkan langkah hidupnya sesuai dengan Yang Tersalib, maka ia memiliki terang. Terang yang akan menuntun segala tindak tanduknya agar ia selalu berjalan menuju kehidupan yang kekal. Di sini, kita melihat, ada dua hal: terang dan gelap. Terang adalah simbol kebaikan. Gelap adalah simbol dosa. Siapa yang selalu berbuat baik, walaupun kulitnya hitam, dipandang sebagai orang yang berhati putih. Orang akan melihat perbedaan. Santa Teresa katakan di Buku Puri Batin, setiap kita yang memilih hal yang baik, perbuatan baik, kata-kata yang baik, memilih Allah. Sebab Allah itu Maha Baik, sumber segala kebaikan. Karena itu, Sekalipun Pater Rikar itu kulit hitam, tetapi ketika ia selalu tersenyum, tegur sapa dan membantu orang lain, mendengarkan orang lain, sekalipun itu orang kecil…anak-anak kecil, maka orang akan melihat “si pembalap ini’ (pemuda berbadan gelap ini) sebagai orang yang baik, orang terang, orang yang memberikan kegembiraan dan kebahagiaan bagi sesama. Beda dengan orang yang suka akan kegelapan: orang yang suka akan kegelapan lebih senang tinggal dalam dosa. Dosa yang membuat perselisihan, perbantahan, cekcok, trik-trik kotor dalam kehidupan bersama dll.

Kita sedang dalam persiapan menuju Paska. Malam Paska nanti akan ada pembaharuan janji pembaptisan. Kita berjanji untuk memerangi perselisihan, hiburan yang tidak sehat dan perjudian. Mengapa kita ulangi janji pembaptisan? Pembaptisan menjadi dasar bagi kita untuk hidup sesuai Yesus, hidup sebagai anak-anak terang. Tetapi pertanyaannya: sudahkah kita hidup sebagai anak-anak terang? Bukankah Bajawa ini sudah dikelilingi oleh tempat-tempat judi? Hampir di setiap sudut kota Bajawa ada judi Billiard. Uang yang didapat dari kerja untuk keluarga, dihabiskan dengan mengadu keuntungan yang belum jelas di meja judi Billiard. Padahal Billiard bukan pertama-tama untuk judi. Untuk olahraga. Hanya di sini Bajawa, kita sudah tukar menjadi alat judi, alat dosa. Dan dosa itu mematikan. Hal lain lagi: Bukankah kita sudah hidup dalam gairah hiburan yang tidak sehat? Kita coba cek di hp kita masing-masing? Mungkin ada gambar atau video yang tidak sehat….kita bergaul dengan budaya konsumeristik yang mematikan. Kita bergaul dengan dosa. Bahayanya, kita menjadi orang-orang gelap. Karena itu saatnya bagi kita untuk merubah diri. Kembalikan fokus mata kita hanya untuk memandang Tuhan yang tersalib. Salah satu caranya adalah dengan menyembuhkan hati kita dari racun dosa lewat Sakramen Pertobatan atau Pengakuan. Minggu ini kita siapkan hati kita untuk mengaku dosa dan membaharui diri. Ingat, Tuhan sudah membeli kita dengan DarahNya yang tertumpah di Kayu Salib. Jangan bilang, “epen ka”….dengan Sakramen Pengakuan? Mari kita siapkan diri kita untuk bertemu dengan Tuhan yang mengorbankan diriNya di altar kudus.

Written by John Lebe Wuwur Karmelito Teresiano Indonesiano

Maret 17, 2012 at 4:01 pm

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.