Carmelitolindonesia’s Blog

Blog insan Karmel Indonesia: refleksi dan aksi

PERGI SAMPAI KE UJUNG “JONG”

 

Imagen

Perjalanan Bajawa ke Aimere memakan waktu 1 jam. Jeep melaju pasti menuruni lembah indah. Beberapa kali saya mengabadikan pemandangan alam yang tidak mungkin ditemui di belahan bumi lainnya. Betapa indah karya Tuhan. Bukit, lautan, hewan-hewan liar, padang dan hutan memberikan pesona jiwa tersendiri. Memang, tidak ada yang mampu menandingi kehebatan Insinyur Semesta Alam ini. Jeep memasuki kota pelabuhan Aimere. Rumah Fr. Erik Wanggus, anak seorang militer TNI Angkatan Darat, tidak sulit bagi Bapak Dion. Kami langung menuju ke rumah Fr. Erik. Di depan rumah, pensiunan tentara ini menyalami kami dengan begitu hangat. Kami diajak masuk ke dalam rumah dan bertemu dengan ibunda Fr. Erik. Ibunda Fr. Erik ternyata sedang sakit. Namun, ia rela bertahan mengobrol bersama kami. Sambil mengobrol datang pula saudari-saudari Fr. Erik dari sekolahan. Ada yang di SMU, ada pula yang di SMP. Selanjutnya kami membicarakan maksud kunjungan kami dan keluarga prajurit ini tidak berkeberatan dan bahkan menerima semua anjuran dan pesan kami dengan amat bahagia. Selanjutnya seperti biasa, orang Flores selalu menjamu tamu, apalagi tamu yang datang itu seorang pastor. Maka, makan tidak boleh dilewatkan begitu saja. Setelah menikmati jamuan makan pagi-siang, kami pun bergegas menuju mobil Jeep. Kami berangkat menuju Kabupaten Manggaria Timur, tepatnya ke Kisol.

 

Perjalanan Aimere Kisol memakan waktu kurang lebih satu jam. Jam 11.00 kami bertolak dari Aimere dan tiba di Kisol, Manggarai Timur, pukul 12.00. Di Kisol, sudah menanti Fr. Sergio, calon Novis dari Kisol. Ayah dan Ibu Fr. Sergio juga ada. Kesan pertama, keluarga ini sederhana. Rumah berbahan “naja” atau bamboo, menjadi tempat tinggal keluarga. Bapak dan Mama Fr. Sergio, adalah petani sederhana. Di balik kesederhanaan ini mereka tidak memiliki setitik keberatanpun untuk mengongkosi dan menyanggupi keinginan putra sulung mereka menjadi imam. Setelah mengutarakan maksud kunjungan kami, lagi-lagi “lunch” menjadi penutup acara bersama keluarga sederhana ini. Dari Kisol, kami memulai perjalanan resiko ke daerah Jong, suatu desa terpencil di Kabupaten Manggarai (Tengah). Fr. Sergio menawarkan diri untuk menemani kami. Persoalan timbul ketika, Fr. Sergio pun baru pertama kali menuju kea rah kota Ruteng. Satu-satunya keuntungan disertakan Fr. Sergio adalah bahasa Manggarainya. Ia bisa diandalkan untuk bertanya dalam bahasa Manggarai kepada penduduk desa yang akan kami temui.

 

Kami tinggalkan Kisol menuju Jong pada pukul 14.00. Tiba di cabang Baelaing, (15 Km sebelum kota Ruteng), kami mengambil arah perjalanan ke kanan. Perjalanan mendebarkan. Kabut tebal mengiringi perjalanan kami, dilengkapi dengan derasnya hujan di hutan Rana Meze. Jurang dan tebing menjadi hiburan untuk menaikan adrenalin. Sesekali mobil harus direm mendadak lantaran longsoran dan halangan tumbangnya pepohonan. Sekali lagi, jurang. Jurang mendalam, karena mobil harus menelurus jalanan di ketinggian Rana Meze, sebuah gunung berdanau di dekat kota Ruteng. Dari ketinggian itu, kampong Colol, Lengko Ajang dan Jong sekitarnya menjadi seperti mainan kotak-kotak kanak-kanak kecil yang dibalut awan dan kabut tipis maupun tebal. Oh “Fascinosum et Tremendum”. Pukul 17.00, kami melewati lembah Colol. Diskusi kami mengingatkan akan berita-berita Koran tentang masalah tanah dan keadilan di daerah ini. Memang tanah yang subur mengundang banyak hati untuk mendekatinya. Seterusnya, kami mendekati paroki Lengko Ajang. Jarum jam menunjuk pukul 18.00. Sambil terus menuruni lembah Lengko Ajang, doa Anjelus Sore dilantunkan diteruskan dengan doa Bapa Kami dan lagu-lagu pujian. Di samping Gereja Paroki Lengko Ajang, ternyata Fr. Eki Junaedi, calon Novis dari desa Jong, sudah menanti. Di tangannya terdapat 5 buah payung. Menurut rencana, payung-payung itu dipakai jika hujan. Lebih lagi, jalanan ke depan bukan jalanan beraspal, tetapi berbatu dan lumpur. Kemungkinan Jeep Tua ini tidak mampu mengarungi perjalanan siswa yang berjarak 15 km. Apaan ini? Lima belas kilo meter? Malam lagi!!!…. Keputusan ada pada Bapak Dion, sopir andalan kami. Bapak Dion berpikir sejenak, lalu katakan: Let it be, in the Lord. Maka, dengan penuh kecemasan kami menumpang Jeep. Benar-benar seperti balapan di arena “Off Road”. Jeep Tua itu, bergerak pasti, terguncang-guncang, terbanting namun tetap berada pada jalur. Saya tanyakan, Dion, mengapa Jeep ini bisa berjalan di batu-batu besar dan lumpur seperti ini? Ia menjawab, biar tua, tapi Jeep ini dilengkapi dengan Derek. Ini yang menjadikan Jeep ini siap tempur di medan seperti ini. Wuah…hebat ya. Hebat lagi, para pendahulu yang telah menghadirkan Jeep Tua ini. Seterusnya, jam menunjukkan waktu pukul 20.00. Rumah Fr. Eki pun telah kelihatan. Kendaraan berhenti karena jalanan memang berhenti di situ, tepat di depan rumah Fr. Eki. Kami pun berceletuk, ini benar-benar “Jong”, benar-benar sampai di ujung jalan di dunia ini.

 

Kami pun turun dari Jeep yang amat berjaza itu dan menuju ke depan rumah. Ada apa gerangan, ada beberapa tetua yang menunggu di pintu masuk. Kami mendekat dan ada sapaan adat bahasa Manggarai, istilah umumnya disebut “Kepok”. Kapok adalah ucapan selamat datang kepada tamu ke dalam suatu komunitas Manggarai. Dalam “Kepok” itu diberikan bir sebotol, seekor ayam putih hidup dan beberapa bungkus rokok. Setelah upacara sapaan “Kepok”, kami diundang masuk ke dalam rumah untuk selanjutnya membicarakan maksud kedatangan kami secara resmi. Kunjungan kekeluargaan dari Ordo OCD ke keluarga besar calon Novis OCD. Acara ini ditutup dengan makan malam.

 

Pagi, Sabtu 16 Februari 2013. Kampung Jong diselimuti sinar matahari pagi. Ada dingin yang menyaput kulit. Ada juga celoteh anak-anak sibuk berangkat ke sekolah di Desa itu. Aku ingin mandi, setelah sehari perjalanan yang melelahkan kemarin. Persoalannya, di mana aku dan kami harus mandi? Fr. Eki yang memecahkan persoalan. Yuuuk,  kita ke kali. Jarak ke kali kurang lebih 3 km, demikian ajak Fr. Eki. Maka kami pun berangkat ke kali dan membersihkan mulut dan badan di kali. Tak ada air hangat, tak ada shower yang ada adalah air penampungan yang dingin namun menyegarkan. Kami mandi di kali.

 

Setelah menyegarkan badan dengan mandi di kali, kami kembali ke rumah. Misa sudah disiapkan dan kami langung bertugas memimpin misa di tengah kesederhanaan masyarakat kampong Jong. Setelah misa syukur, kami pun tidak memiliki banyak waktu untuk bersantai mengingat jalanan pulang yang amat menantang. Jika hujan, makan perjalanan ini bisa menjadi amat sulit. Maka, kamipun segera meninggalkan kampong Jong ke Bajawa. Pukul 11.00 kami meninggalkan Jong, diiringi gerimis dan diteruskan guyuran hujan lebat. Mobil terombang ambing, namun kami harus mencapai Bajawa di Kabupaten Ngada malam  ini. Mobil tiba di Rumah Biara St. Yosef OCD Bogenga Bajawa, tepat pukul  21.00. Terima kasih Tuhan, sekalipun tergayut keletihan namun ada syukur berlimpah karena perlindunganMu, karena orang-orangMu dank arena kasihMU. Pujian bagi Allah kini dan selama-lamanya.  

Ditulis oleh Gracia Creativo Karmel Teresiano Indonesia

Februari 17, 2013 pada 1:17 pm

MEMANDANG PADA YANG TERSALIB

Kristus mati di salib dan kematianNya itu membawa kesembuhan dan pengampunan dan kehidupan kekal. Itu inti diskusi antara Yesus dan Nikodemus. Tentang siapa diriNya, Yesus sudah menjelaskannya kepada Nikodemus dalam Injil Yohanes bab 3. Dalam DiskusiNya dengan Nikodemus, seorang farisi, golongan yang ketat menjalankan aturan agama Yahudi itu, Yesus menekankan bahwa orang harus lahir dua kali. Artinya, orang harus bertobat, dan bertobat berarti membaharui diri di dalam gerak Roh Kudus, Roh Yesus dan Bapa di Surga. Tetapi bagaimana orang harus lahir kembali, bagaimana orang harus bertobat? Yesus menjawab pertanyaan ini dengan menggunakan teks dari Kitab Ulangan, ketika Musa membawa orang-orang Israel keluar dari Mesir menuju ke Tanah Terjanji, Israel. Dalam perjalanan selama 40 tahun itu, dikisahkan bahwa ada banyak orang Israel yang mati dipagut ular berbisa. Melihat ancaman bencana serius itu, Tuhan menyuruh Musa membuat Ular dari Perunggu agar ketika orang yang dipagut ular itu melihat ke luar besi, dan bisa mendapatkan kesembuhan. Yesus menggunakan simbol ular yang diunjuk atau dinaikkan untuk menggambarkan siapa diriNya. Ada tiga hal di sini untuk kita lihat. Pertama, racun ular itu berbahaya dan mematikan. Karena itu perlu obat penangkalnya. Yakni Ular Besi. Racun ular itu bisa ditawarkan dengan kekuatan Ular Besi. Namun, patut diingat, bahwa bukan Ular Besi itu yang menyelamatkan melainkan kekuatan Tuhan yang memerintahkan Musa untuk membuat Ular Besi itulah yang menjadi kesembuhan. Kedua, dosa. Dosa itu berbahaya dan lebih berbahaya dari racun ular. Karena, dosa tidak hanya mematikan tubuh seperti ular, melainkan juga mematikan jiwa. Satu-satunya kesembuhan melawan racun dosa itu adalah “memandang Dia yang diunjukkan di atas salib”, Yesus Kristus, Tuhan yang menjadi manusia dan mati untuk menebus kita dari dosa. Hanya dengan memandang Dia, hanya dengan membuat mata kita fokus pada Yesus, kita bisa mendapatkan keselamatan. Keselamatan yang tidak hanya di sini, di dunia ini, melainkan juga keselamatan kekal. Keselamatan yang tidak dibatasi oleh waktu sebelum kematian badani dan sesudah kematian fisik kita. Soal ketiga adalah, bagaimana kita bisa selalu memandang pada Dia yang tersalib itu?

Sebab Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya oleh Dia. Barangsiapa percaya kepada-Nya, ia tidak akan dihukum; barangsiapa tidak percaya, ia telah berada di bawah hukuman, sebab ia tidak percaya dalam nama Anak Tunggal Allah.
“3:19 Dan inilah hukuman itu: Terang telah datang ke dalam dunia, tetapi manusia lebih menyukai kegelapan dari pada terang, sebab perbuatan-perbuatan mereka jahat.3:20 Sebab barangsiapa berbuat jahat, membenci terang dan tidak datang kepada terang itu, supaya perbuatan-perbuatannya yang jahat itu tidak nampak;3:21 tetapi barangsiapa melakukan yang benar, ia datang kepada terang, supaya menjadi nyata, bahwa perbuatan-perbuatannya dilakukan dalam Allah”.

Siapa yang tidak percaya, tidak apa-apa. Tidak apa-apa buat Yesus, tetapi rugi besar buat yang sudah mendengar tentang Yesus tetapi tidak percaya. Kepercayaan dan keyakinan kita inilah yang membuat hidup kita berbeda. Siapa yang percaya kepada Yesus akan mengatur hidupnya agar sesuai dengan Sabda Dia yang bergantung di Kayu Salib. Siapa yang tidak percaya, ia berjalan sesuai dengan kehendaknya sendiri. Mengapa demikian? Manusia ini, kalau sendirian, kalau mau mengandalkan kekuatan sendiri, tidak punya arti apa-apa. Manusia kalau mau ikut diri sendiri, kemauan sendiri, ego sendiri, maka ia akan berjalan dalam kegelapan. Semuanya gelap. Lalu kita lihat: Lawan dari gelap adalah terang. Siapa yang percaya pada Dia yang ditinggikan, dan mengarahkan langkah hidupnya sesuai dengan Yang Tersalib, maka ia memiliki terang. Terang yang akan menuntun segala tindak tanduknya agar ia selalu berjalan menuju kehidupan yang kekal. Di sini, kita melihat, ada dua hal: terang dan gelap. Terang adalah simbol kebaikan. Gelap adalah simbol dosa. Siapa yang selalu berbuat baik, walaupun kulitnya hitam, dipandang sebagai orang yang berhati putih. Orang akan melihat perbedaan. Santa Teresa katakan di Buku Puri Batin, setiap kita yang memilih hal yang baik, perbuatan baik, kata-kata yang baik, memilih Allah. Sebab Allah itu Maha Baik, sumber segala kebaikan. Karena itu, Sekalipun Pater Rikar itu kulit hitam, tetapi ketika ia selalu tersenyum, tegur sapa dan membantu orang lain, mendengarkan orang lain, sekalipun itu orang kecil…anak-anak kecil, maka orang akan melihat “si pembalap ini’ (pemuda berbadan gelap ini) sebagai orang yang baik, orang terang, orang yang memberikan kegembiraan dan kebahagiaan bagi sesama. Beda dengan orang yang suka akan kegelapan: orang yang suka akan kegelapan lebih senang tinggal dalam dosa. Dosa yang membuat perselisihan, perbantahan, cekcok, trik-trik kotor dalam kehidupan bersama dll.

Kita sedang dalam persiapan menuju Paska. Malam Paska nanti akan ada pembaharuan janji pembaptisan. Kita berjanji untuk memerangi perselisihan, hiburan yang tidak sehat dan perjudian. Mengapa kita ulangi janji pembaptisan? Pembaptisan menjadi dasar bagi kita untuk hidup sesuai Yesus, hidup sebagai anak-anak terang. Tetapi pertanyaannya: sudahkah kita hidup sebagai anak-anak terang? Bukankah Bajawa ini sudah dikelilingi oleh tempat-tempat judi? Hampir di setiap sudut kota Bajawa ada judi Billiard. Uang yang didapat dari kerja untuk keluarga, dihabiskan dengan mengadu keuntungan yang belum jelas di meja judi Billiard. Padahal Billiard bukan pertama-tama untuk judi. Untuk olahraga. Hanya di sini Bajawa, kita sudah tukar menjadi alat judi, alat dosa. Dan dosa itu mematikan. Hal lain lagi: Bukankah kita sudah hidup dalam gairah hiburan yang tidak sehat? Kita coba cek di hp kita masing-masing? Mungkin ada gambar atau video yang tidak sehat….kita bergaul dengan budaya konsumeristik yang mematikan. Kita bergaul dengan dosa. Bahayanya, kita menjadi orang-orang gelap. Karena itu saatnya bagi kita untuk merubah diri. Kembalikan fokus mata kita hanya untuk memandang Tuhan yang tersalib. Salah satu caranya adalah dengan menyembuhkan hati kita dari racun dosa lewat Sakramen Pertobatan atau Pengakuan. Minggu ini kita siapkan hati kita untuk mengaku dosa dan membaharui diri. Ingat, Tuhan sudah membeli kita dengan DarahNya yang tertumpah di Kayu Salib. Jangan bilang, “epen ka”….dengan Sakramen Pengakuan? Mari kita siapkan diri kita untuk bertemu dengan Tuhan yang mengorbankan diriNya di altar kudus.

Ditulis oleh Gracia Creativo Karmel Teresiano Indonesia

Maret 17, 2012 pada 4:01 pm

RUMAH HATIKU
“Rumahku kini telah Sepi seluruh”

JOHN LEBE WUWUR, OCD

RUMAH HATIKU
“Rumahku kini telah Sepi seluruh”

Cetakan 1 : Januari 2012

PENERBIT INSTITUT SPIRITUALITAS
ORDO KARMEL TIDAK BERKASUT
Biara Karmel San Juan Penfui-Kupang-NTT
Telp.0380820927

Nihil Opstat : Komisaris OCD Indonesia
Kupang, 1 Januari 2012

Imprimatur: Mgr. Petrus Turang
Uskup Agung Kupang

ISBN 979-99932-2-9

Hak Cipta dilindungi Undang-undang
Dilarang memperbanyak karya tulis ini dalam bentuk dan cara apapun tanpa izin tertulis dari penerbit.

PROLOG

Suatu hari di bulan Oktober 2011. Dalam suasana hati yang penuh gejolak, antara sedih dan gembira, saya meninggalkan kota Metropolitan Surabaya. Dari Bandara Juanda saya akhiri perjalanan hari itu di gerbang kota Bajawa. Bajawa, dalam selimut kabut tipis berada di sebuah lembah pegunungan yang sejuk dan sunyi. Dalam rasa yang sulit dilukiskan, Jeep Tua warisan dua Pendiri: Pater John Britto, OCD dan Pater Thom Kalloor, OCD, memasuki rumah Biara Santo Yosef – Bajawa, di dusun Bogenga, Kelurahan Susu. Sejenak saya sadari, ada suasana kontras antara Surabaya yang sibuk dan Bajawa yang tenang dan sunyi. Surabaya dan Bajawa memang beda. Surabaya dengan gaya hidup metropolis, kota besar, sementara Bajawa dengan kesederhanaan sebuah kota kecil yang sederhana. Kadang sunyi dan kadang dingin. Namun, di balik dua kontras ini, terkandung kemiripan. Kemiripan itu nampak dalam kehausan manusia untuk menimba “air spiritual” demi suatu kehidupan yang lebih bermakna. Jelasnya bahwa, di balik kesibukan dan ketenangan aktivitas manusia, terbersit kerinduan yang sama akan suatu relasi yang menguatkan dan mengisi penuh hati manusia; relasi dengan Allah.

Kerinduan dan rasa haus akan suatu “sumber air spiritual” dari manusia Metropolitan Surabaya dan Kota Kecil Bajawa ini dapat kita alami secara kuat ketika kita turut masuk ke dalam kehidupan kaum awam Katolik yang giat mempraktekkan iman kristiani secara sejati. Kehausan saudara-saudari awam inilah yang membuat kami berani menuangkan refleksi sederhana dalam catatan ini. Refleksi kecil ini kami timba dari kerendahan dan keagungan hati pembaharu Ordo Karmel, Santa Teresa dari Avila dan Santo Yohanes dari Salib. Tidak lupa pula buku tulisan Henri J. M. Nouwen, “Kembalinya Si Anak Hilang” buah tangan seorang sahabat rohani saya, Romo Bruno Joko, Pr, seorang imam diosesan Keuskupan Surabaya, pendamping frater TOR di Jatijejer-Trawas, Keuskupan Surabaya, telah sedikit memberikan kepada saya suatu pengertian yang semakin baik tentang arti kehadiran seorang Bapa dalam suatu komunitas kehidupan manusia.

Bukan tidak penting peran saudara sekomunitas. Mereka bertiga (P. Abdul, P Rikard dan P. Adam) menampakkan sosok Bapa Ilahi dalam kebersamaan kami yang saban hari mendampingi calon-calon biarawan OCD di Rumah Formasi Novisiat. Mungkin penampilan mereka sederhana. Namun dalam kesederhaan itu, terjalin suatu kerja sama dalam pelayanan kepada kehidupan komunitas Novisiat. Dari kesederhanaan ini juga muncul refleksi sederhana seperti yang ada di tangan kita ini. Ketiganya, “los tres padres” dari komunitas OCD Bogenga ini, memang berusaha memberikan yang terbaik dari kemampuan mereka untuk kehidupan rohani suatu komunitas dan pelayanan apostolik bagi umat di sekitar Bajawa. Tentunya, semangat ini muncul dari terpatrinya semboyan Karmel di hati mereka dan kita: Zelo zelatus sum pro Domine Deo excercituum”: Aku bekerja segiat-giatnya demi Allah bala tentara.

Semoga refleksi spiritual ini bermakna untuk kita semua, terutama bagi yang membacanya dalam cinta akan Allah. Shalom dalam nama Allah yang maha Tingggi.

Bogenga-Bajawa, Medio Januari 2012.

(Untuk mengetahui isi tulisan ini selanjutnya, nantikan penerbitan buku “Rumah Hatiku”. Semoga berguna. Shallom).

Ditulis oleh Gracia Creativo Karmel Teresiano Indonesia

Februari 10, 2012 pada 12:17 am

MELAWAN ZAMAN YANG SIBUK

Semakin kita sibuk, seharusnya semakin kita tahu menempatkan diri di hadapan Allah, semakin kita mampu menyisihkan waktu untuk berdoa, untuk berelasi dengan Allah. Semakin kita merasa tidak memiliki waktu untuk berdoa, seharusnya kita melawan kecendrungan ini dengan menyiapkan waktu untuk berdoa

Ditulis oleh Gracia Creativo Karmel Teresiano Indonesia

Februari 4, 2012 pada 2:49 pm

CHALLENGE IS MY CHANCE

Banyak orang berkata: “Tantangan adalah rintangan dan halangan yang memberatkan langkah”. Ada juga yang berkata: “Tantangan membuat kita menjadi matang dan dewasa. Seperti emas harus diuji dalam panasnya api, demikian ibaratnya, manusia harus mengalami tantangan untuk pematangan diri”. Jadi…mana yang harus saya pilih? Challenge is my Chance.

Ditulis oleh Gracia Creativo Karmel Teresiano Indonesia

Februari 3, 2012 pada 7:32 am

Ditulis dalam Perlas Orientales

KECEMASAN DAN KEYAKINAN

Bunga di tepi jalan

Bunga di Tepi Jalan

“Dapatkah Tuhan melupakan anakNya?” Mungkin kita bertanya seperti itu,dan bacaan pertama, sabda Tuhan sendiri menjawab: “Dapatkah seorang perempuan melupakan bayinya,sehingga ia tidak menyayangi anak dari kandungannya? Sekalipun ….. ia melupakannya, Aku tidak akan melupakan engkau…..” Allah mau menggambarkan kasihNya, bahwa kasih yang Ia miliki melebih kelembutan kasih seorang perempuan kepada anaknya. Bisa juga, jadi kritik manusia dewasa ini dengan maraknya pembuangan bayi orang ibu yang mengandungnya atau aborsi provokatur (aborsi yang dilakukan dengan tahu dan mau dengan segala rencana….melenyapkan kehidupan seorang dari dalam rahimnya sendiri).

Seorang pemuda nakal, berubah menjadi baik, ketika ia bertemu dengan seorang gadis. Semasa SMA anak ini sudah bergaul dengan narkoba dan wanita-wanita yang tidak baik hidupnya. Ketika bertemu dengan “angelita”, anak muda ini terpengaruh dengan sikapnya yang lemah lembut. Ia diajak untuk tidak ugal-ugalan, agar melepaskan narkoba, agar lebih rajin ke Gereja dan berdoa. Terakhir, mereka memutuskan untuk berziarah bersama ke suatu tempat ziarah Bunda Maria yang terkenal. Mereka berjalan bersama, dan sungguh larut dalam suasana doa. Ia yakin, hidupnya berubah dengan perkenalannya dengan Angelita. Setelah pulang, Anjelita ternyata memutuskan masuk biara Suster. Ia kaget tapi tidak bisa menahan keinginan Angelita. Rasanya tulang-tulangnya menjadi lepas, ia lemas tapi apa mau dikata. Semuanya harus terjadi seperti ini. Ia kemudian memutuskan untuk kembali ke hidup yang lama. Beberapa hari tenggelam dalam kesalahan narkoba yang sama, perempuan-perempuan nakal dll, ia sadar bahwa ini semua tidak berarti. Namun ia bimbang, apakah sendirian ia mampu memulai hidup yang lebih baik? Di antara rasa bimbang, ia jalan saja ke Gereja di parokinya. Ternyata, umat yang lain sedang mengarak patung Bunda Maria. Melihat kedatangannya, beberapa orang pemuka umat memanggilnya untuk turut memikul tenda patung Bunda Maria. Ia merasa berat, tidak pantas dan kotor. Namun, semuanya sudah terjadi, keputusannya untuk datang ke Gereja saat itu telah mendorong dirinya untuk terus teratur datang ke Gereja dan berusaha hidup baik, seperti orang-orang lain di sekitarnya.

Kadang, ada suatu saat di mana kita harus memberi keputusan untuk menyatakan “ya” atau “tidak”. Keputusan kita ini yang akan menentukan seluruh diri kita. Jika kita terlambat melakukan keputusan, maka hidup kita bisa tidak memiliki orientasi. Kita berjalan dalam kegelapan.
Hari ini, injil mengajak kita untuk belajar memilih antara Allah atau mammon. Mari kita lihat secara lebih jeli tentang Injil ini: Tak seorang pun dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian, ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Mengabdi kepada dua tuan….ini bukan saja suatu peringatan, melainkan suatu kenyataan hidup. Yesus melihat kenyataan bahwa manusia gampang terpecah. Terpecah oleh apa? Oleh cinta dan benci. Kepribadian manusia bisa seimbang dan harmonis kalau satu, kalau hanya ada cinta. Kalau dibagi dengan kebencian, manusia tidak mengalami kebahagiaan atau disharmoni. Ini bukan soal sepeleh. Ini bukan soal perasaan dan emosi saja. Melainkan soal pilihan. Memilih hal yang lebih berguna dan melepas hal yang tidak berguna. Soal memilih ini berkaitan erat dengan soal cinta dan benci. Lebih lanjut mari kita baca lagi: kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon. …Ini yang menjadi soal bagi manusia. Mammon, dalam bahasa Yunani diterjemahkan sebagai kekayaan, namun harus diperhatikan baik-baik, jika kata Mammon itu diawali dengan huruf besar, M huruf besar, maka artinya sudah berubah. Mammon dengan awal huruf besar ini berarti nama dari seorang dewa bangsa kafir. Kafir artinya yang tidak memiliki agama. Orang yang tidak percaya pada Allah. Nah dalam hubungan dengan Mammon ini, kita harus melihatnya dalam dua segi. Pertama, kalau mammon ini dijadikan milik, itu bukan menjadi soal. Sehingga dikatakan, gunakan Mammon selagi ia dapat digunakan untuk kebaikan, namun jangan dikuasai oleh Mammon. Di sini Yesus tidak melarang orang menggusahakan kekayaan. Tetapi…Yesus menasihatkan lebih dalam: “Jangan menimbun harta kekayaanmu di bumi…tetapi…timbunlah kekayaan untuk masa depan di Surga. Dalam hal ini, kalau Mammon ini dijadikan tuan bagi diri kita, maka kita menjadi pelayan dan hambanya. Kita menjadi sama dengan tuan kita, “Mammom”yang tidak berguna ini.

Kita coba memberi waktu untuk melihat beberapa ayat dari Injil hari ini? Mungkin cukup satu ayat lagi. Yesus tidak berhenti dalam soal Mammon. Ia maju menggelitik hati manusia, Ia tahu, manusia itu seperti apa? Ia tahu…. Manusia itu makhluk yang selalu cemas. Dan kecemasan, kekawatiran dan kegelisahan itu melumpukan manusia. Salah satu iklan tv di Indonesia, tentang nasi kalau tidak salah….di situ ditayangkan dua anak yang mengeluh tentang makanan yang tidak enak: malessss. Ga enak dll. Dua ana kecil itu kelihatan males dan tidak bergairah. Itulah kecemasan … membuat kita tidak bergairah dan tidak bertenaga dan melumpuhkan usaha kerja di otak, memori dan hati. Lawannya…..keyakinan. keyakinan dan terlebih iman, menguatkan kita untuk menghadapi kehidupan ini dengan kepala tegak. Maka tidak mengherankan bahwa Yesus mengambil contoh tentang burung dan bunga yang tidak bekerja mengumpulkan harta namun indahnya melebih keindahan dari sebuah kekayaan manusia. Manusia lebih berharga dari burung dan bunga. Karena itu, benar juga ungkapan kebijaksanaan orang Jawa. Setiap manusia, setiap anak manusia ini, tidak mungkin hidup tanpa rejeki. Allah yang menghadirkan manusia, Allah juga pasti menyiapkan apa yang perlu untuk kehidupannya. Karena itu, bapa, ibu, saudara-saudari terkasih. Kuatlah dalam iman. Iman tidak membuat kita malas, iman tidak mengajarkan kita untuk tidak memiliki rencana hidup. Iman mengajarkan kita untuk kuat menghadapi kecendrungan manusia yang cemas dengan harta benda. Ingat, dunia ini hampir hancur dengan materi, dengan prinsip komunisme Marxis, bahwa segalanya materi dan kecendrungan manusia zaman ini, adalah mau kejar materi dan kenikmatan atas materi. Namun, apa yang ia hadapi? Kosong…hatinya kosong. Ia tidak memiliki semangat, ia tidak memiliki roh dan gairah kehidupan karena imannya lemah atau bahkan kosong. Jika demikian, manusia gampang jatuh dalam kecemasan. Setelah cemas, ia menjadi stress. Setelah stress ia kehilangan kesadarannya. Dan ini berbahaya. Orang gampang dihasut, orang mudah menjadi marah dan bisa melakukan kejahatan yang paling mengerikan. Mari….kita kembali ke pada iman, mari kita masuk dalam dada kita, menyatakan bahwa Aku mencintai imanku.

Ditulis oleh Gracia Creativo Karmel Teresiano Indonesia

Februari 26, 2011 pada 1:57 pm

Ditulis dalam Inspirasi Sabda

MEMBEDAH SAMBUTAN VIKARIS DALAM BUKU KONSTITUSI OCDS

Malam itu, malam Minggu, 14 November 2010. Pak Lingga Putra bersama istrinya, Ibu Sherly Gunawan beserta dua putri mereka, menjemput saya di Hening Griya, Wisma Resi Aloysii, Claket-Pacet-Mojokerto. Singgah sebentar di Biara Bintang Kejora, milik Suster-suster Ursulin, mengintip sebentar kegiatan Marriage Encounter, Distrik IV Surabaya, berjabat tangan Yang Mulia, Uskup Surabaya, Mgr. Vinsentius Sutikno, lalu meluncur ke Surabaya. Di bilangan Sepanjang-Krian, saya di Jemput Bos OCDS Surabaya, Pak Yasin Onggara, untuk seterusnya melaju di tol menuju ke alamat Graha Familia Nomor 26, Surabaya.

Tiba di alamat tersebut, saudara-saudari OCDS telah lama menanti. Karena kelamaan menunggu, acara “persaudaraan” yakni makan bersama, dijadikan sebagai acara pembuka. Selanjutnya Doa Ibadat Sore kami daraskan bersama, dipimpin Saudari Mita. Proses acara pun memasuki tahap inti, yakni pembahasan Konstitusi yang telah disiapkan oleh para formatores. Pembahasan Konstitusi difokuskan pada topic “Membedah Sambutan Vikaris”. Alasannya, sambutan ini bisa menjadi materi refleksi yang mendalam. Saudari Lucy Damayanti mengawali “studi” Konstitusi OCDS ini dengan menyajikan apa arti nama Karmel. “Karem El” artinya kebun anggur, suatu tempat yang indah dan subur, berada di ketinggian sebuah bukit. Selanjutnya, dijelaskan pula letak geografis Gunung Karmel. Penyajian kedua, dipaparkan oleh saudara Rico Tancho. Rico menjelaskan tentang posisi penting Regula St. Albertus dan pentingnya penjabarannya dalam Konstitusi dan aturan-aturan suatu komunitas. Jadi, Aturan Albertus ini, menjadi suatu Undang-Undang Dasar Karmel, yang harus dirincikan lagi ke dalam Konstitusi setiap Ordo dan Kelompok untuk selanjutnya dijabarkan dalam praktek hidup komunitas, sesuai dengan cirri khas, kebutuhan dan kebudayaan suatu komunitas. Penyajian ketiga, diberikan oleh saudari Dr. Rita Sulantari. Dalam pembahasan ini, Beliau menjelaskan tentang susunan kepengurusan OCD, mulai dari jenjang pusat, Generalat di Roma hingga Kevikariatan Indonesia. Juga dijelaskan tentang adanya tiga kelompok dalam OCD. Kelompok Biarawati Kontemplasi dengan cirri klausura (tertutup untuk umum), kelompok Biarawan yang juga kontemplasi namun tidak terikat dalam suatu tembok klausura ketat, demi karya kerasulan dan kelompok Awam, yang juga menghayati suatu cirri kontemplasi dalam hidup bergereja dan bermasyarakat. Singkatnya, demikian Dr. Sulantari, “Inilah ‘three in one’, tiga dalam satu. Tiga kelompok besar dalam satu semangat Karmel Teresiani”. Sajian keempat, oleh Saudara Yasin Onggara, beliau menjelaskan tentang pengesahan Konstitusi OCDS oleh Kongregasi Suci Hidup Bakti dan Karya Kerasulan di Vatikan. Konstitusi OCDS ini disodorkan oleh Pater General bersama Dewannya kepada Kepausan untuk disahkan. Pengesahan itu diberikan oleh Kongregasi yang disebut di atas. Dengan demikian, kita memiliki keyakinan bahwa, Konstitusi OCDS ini adalah suatu petunjuk hidup yang bisa dipraktekkan Kaum Awam dalam Ordo Karmel Teresiani. Pada sajian ke lima, dijelaskan oleh kami tentang siapa itu Albertus, pemberi Regula Karmel dan siapa itu Brokardus.

Tahap berikut, Saudari Lucy Damayanti membimbing peserta memasuki meditasi. Meditasi ini berlangsung selama kurang lebih tiga puluh menit. Setelah meditasi, pertemuan dilanjutkan dengan acara pengumuman dan pembahasan soal-soal keliling. Tahapan ini dipandu oleh Ketua OCDS Surabaya, Saudara Yasin Onggara. Dalam tahap ini, diputuskan beberapa kegiatan penting yang harus ditindaklanjuti, termasuk sumbangan kasih kepada Korban Letusan Merapi di Yogyakarta. Pertemuan ditutup dengan sebuah doa singkat dan berkat penutup.

Jam menunjukkan pukul 22.00. Rico Anja membawa saya ke terminal Bungurasi dan seterusnya mengambil bus malam menuju Mojokerto. Tiba di Mojokerto, pukul 11.30. Terima kasih kepada kebaikan hati Pak Sulkan yang menanti dengan sabar, dan dengan sabar pula membonceng saya kembali ke kesejukkan Bukit Claket. Saya lirik arloji tua saya, jam menunjukkan pukul 12.30. Waktu untuk beristirahat. Besok jam 6 harus memimpin Misa di Suster Karmel OCD. Terima kasih dan Tuhan memberkati.

Ditulis oleh Gracia Creativo Karmel Teresiano Indonesia

Januari 31, 2011 pada 12:05 pm

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.