CINTA DI BIRUNYA LAUTAN 1

FB_IMG_1467521410663.jpg

Matahari memanggang samudra. Panas menyengat ubun-ubun setiap orang yang menyesaki kapal motor siang itu. Dahi anak-anak manusia mengerut menahan panas. Panas yang menghujam dari langit. Sekalipun demikian panasnya, alam ternyata masih bermurah hati memberikan semilir angin lautnya untuk mengusap wajah, melipur panas yang nyaris membakar kulit. Ternyata, di balik panas terik membaranya samudra menjelang Lembata, tangan-tangan halus angin laut membelai wajah-wajah letih, memberikan senyum di atas kecemasan kapal yang sebentar lagi melabuh pada daratan kehidupan nyata Lembata. Tidak hanya itu, panorama alam tersaji bagaikan sebuah lukisan paling indah yang tak ada tandingan di dunia ini. Gunung gemunung dari Flores, Solor, Adonara dan Lembata, menyusun sebuah Firdaus baru tempat Adam dan Eva bercinta. Mereka, Adam dan Eva, Bapak-Ibu pertama kita itu bercinta, dalam keindahan Firdaus.

“Itu Bukit Cinta”. Gadis  manis berbaju hijau memakai rok hijau, tersenyum manis memamerkan jemari lentiknya menunjuk sebuah bukit di Lembata. Samar bukit itu terlihat kersang bahkan menghitam. Ada bayang-bayang patung berukuran besar, berdiri menghadap ke laut.

“Oh, itu Bukit Cinta. Apa ada cinta di sana”? Gadis itu masih tersenyum. Manis. Menghalau panas yang lagi memanggang pesisir Lembata. Lalu menunduk malu. Terlihat sebaris rona merah menjalar di pipinya.

“Ada apa?” Tanyaku menyelidik.

“Oh, tidak ada apa-apa”.

“Terus, mengapa Nona menunduk”? Kejarku mengorek isi hatinya.

“Di sana, di kejauhan itu, di bukit itu, orang namakan Bukit Cinta”. Ia menjelaskan dengan bagus, dengan aksen asing dari orang Lembata dan sekitarnya. “Itu…Bukit Cinta”.

“Iya, Bukit Cinta, tetapi bukan Bukti Cinta, kan”? Godaku membuatnya tertawa kecil.

“Mungkin, barangkali, maybe, perhaps, namanya cinta tetapi bisa saja kosong. Mungkin, ada berbagai ornament penghias Bukit Cinta Lembata, namun harus bisa dibuktikan, apa benar ada cinta yang menjadi predikat dari bukit itu. Memang itu Bukit Cinta, tetapi cinta tidak hanya soal ketersediaan tempat. Cinta mengandaikan ruang. Ruang dan waktu untuk ada bersama mengisi dan saling mengisi hati dan kehidupan dalam cinta. Cinta bukan soal tempat saja. Lebih tepat, cinta itu soal ruang hati. Hati yang tertutup di Bukit Cinta bisa membuat Bukit Cinta menjadi Bukit Benci dan Dendam. Ini soal hati…” Jelas Gadis Berbaju hijau sedikit filosofis……(bersambung)….

CINTA DI BIRUNYA LAUTAN

 

 

20160120_140651

          CINTA DI BIRUNYA LAUTAN, adalah sebuah kisah fiktif berangkat dari refleksi atas kehidupan di tempat yang barusan kami kunjungi. Sebagai refleksi, kami coba membawa siapa saja yang membaca tulisan ini ke tempat yang bernama Lembata. Refleksi yang menjadi suatu ajakan untuk berdialog dalam batin tentang proses maju dan mundurnya suatu kehidupan. Ternyata, proses kehidupan yang dibangun, mencatatkan sejarahnya sendiri. Sejarah yang tidak dapat direkayasa. Sejarah kehidupan yang terbangun begitu saja, sekaligus tercatat apik dalam sanubari setiap manusia yang pernah terlempar ke dalam kesejarahan itu sendiri. Dalamnya, tercatat abadi segala sesuatu yang indah dan menarik, segala yang baik dan menghidupkan, tetapi juga serentak merekam segala bentuk kejahatan, kebobrokan dan ketimpangan.

          Tidak dapat dilupakan suatu hal ini: kisah kasih dan cinta dari para pelaku sejarah kehidupan. Jika bukan karena cinta, maka kehidupan ini tak akan bertahan dan berkembang. Dengan demikian, benar kata-kata berbahasa Spanyol ini: “Pon amor y sacaras el amor”, “tanamkan cinta, maka cinta jua yang akan dipetik” (San Juan de la Cruz).

         Dalam cinta kepada semua yang mencintai, kisah Cinta di Birunya Lautan dihadirkan di hadapan kita semua. Cinta, bukan hanya sebatas soal erotika, cinta tidak hanya sebatas permainan emosi sesaat lalu lenyap. Cinta adalah segalanya, cinta adalah kehidupan dan kehidupan tidak hanya sampai pada hilangnya denyut nafas manusia. Cinta melampaui segalanya…. Selamat membaca, selamat bermenung dan selamat bercinta.

Lembata, Kupang, Yogyakarta, Surabaya dan Trawas

September-Oktober 2016

Terima Kasih Tuhan dan Sesama

Tahbisan 9 Imam Perdana OCD, oleh Mgr. Abdon Longinus da Cunha

dan Mgr. Donatus Djagom, SVD.20160225_144024.jpg

Syukur kepada Tuhan atas hari ini, atas denyut kehidupan ini dan atas ditemukan kembali “password” ke dalam Blog ini. Saya merasa bersyukur karena “tanah” dunia maya ini aku temukan kembali.

 

Syukur yang ke dua adalah ulang tahun imamatku yang ke 17, suatu sweet seventeenth. Terasa manis, ketiga ucapan pertama datang di pagi buta, dari daerah dingin di ketinggian bukit Flores, Bajawa. Dari ucapan pertama ini, bagai gelombang, berdatangan membelai sanubariku yang telah melanlang buana dalam bahtera imamat selama tujuh belas tahun. Tak terasa. Memang, ada saat getir. Ada saat cemas. Ada saat gelisah namun tidak sedikit juga saat-saat keterpesonaan bahagia datang dalam jiwa. Dari Surabaya, tempat pijak saya kini, bertandang ke hp saya, ucapan tulus full kasih dari sama saudara OCDS Surabaya. Kam sia. Kemudian, datanglah ucapan dari sahabat, kenalan dari seluruh pelosok dunia.

Terima kasih Tuhan. Semua jempol dan ucapan selamat yang ratusan itu. Rasanya sulit untuk membalas satu per satu ucapan itu. Saya hanya sempat melantunkan suatu doa kecil: “Tuhan, saya tak tahu bagaimana membalas semua kasih yang tersalur lewat sama saudara ini. Saya benar-benar tak tahu. Saya hanya punya satu sikap hati. Kiranya, Dikau, ya Tuhanku dan Allahku, membalas semua jempol, ucapan dan semangat yang mereka berikan kepadaku. Saya percayakan segala perjuangan mereka kepada-MU. Buatlah mereka bahagia dan sejahtera. Tuntunlah mereka, agar damai sentosa selalu perjalanan hidup mereka dan hidup keluarga mereka. Hanya pada-Mu, dalam pandangan mata penuh kasih pesona, kami serahkan semua dan siapa saja yang singgah meneteskan setitik kasih pendorong semangat di ziarah kehidupan ini.

Tuhan, hanya padaMu aku menengadah dan berharap. Solo Dios Basta, quien a Dios tiene, nada le falta.

 

 

Trawas, 5 September 2016

 

Nada Te Tubre…Sharing Seorang Dokter….

1407146642529

Ini adalah sharing seorang dokter…..Dalam beberapa kesempatan, saya telah membagikan pengalaman pribadi ini kepada beberapa pasien saya, yang telah berhasil menjadi suatu sokongan kuat dalam hal psikoterapik. Demikianlah, teks Teresa ini dibawa ke dalam mental mereka dan membuat mereka bahagia. Hal ini nampak dalam mekanisme positif pribadi mereka yang diikuti dengan praktek psikoterapi, membuat mereka melihat bahwa keseimbangan psikoafektif pribadi mereka adalah hal yang paling diperhatikan dari diri mereka sendiri di atas semua kegalauan hati. Penting bahwa penghargaan diri positif dari diri sendiri, tidaklah dilebih-lebihkan, berhadapan dengan semua hal lain, menyuburkan keinginan untuk hidup baik dan harapan untuk selalu mengusahakan hidup yang baik itu. Demikianlah pengalaman seorang sahabat yang pernah menjadi seorang pasien saya dan yang merasa wajib memahami teks ini. Lalu, ketika ia memahami teks santa Teresa yang saya pernah berikan, dengan segera ia dicopikan untuk digunakan secara pribadi. (Bersambung…..)

NADA TE TURBE…..SULIT…..LA PACIENCIA

Jerebuu - Bena - Ngada- Flores
Jerebuu – Bena – Ngada- Flores

Sebagaimana sebuah refleksi psikologis, teks ini membangkitkan secara mental bahwa apa yang kita rasakan di dalam kehidupan ini, baik itu tantangan kecil maupun besar, tidak pernah menguasai pribadi kita. “Diriku tidak diperalat oleh kemalangan-kemalangan hidup. Selanjutnya, akulah yang berusaha memampukan diri untuk suatu pasifitas (kedamaian), ketimbang menghadapi segala sesuatu dengan sikap defensif”. Dapat dilihat bahwa beban emosional yang berasal dari kesulitan-kesulitan itu, sebaliknya dapat memberikan kepada kita suatu rasa udara segar dan baru lantaran sikap serah diri yang total. Bukan suatu yang melemahkan, tetapi suatu pembelajaran untuk semakin kuat dalam kehidupan ini. Untuk itu, seringkali kita diingatkan oleh kata-kata ini: “Que nada te turbe lo que vale mas que lo que pasa: las paz comigo mismo” (Bahwa tak ada yang mengganggumu, itulah yang lebih bernilai dari semua yang berlalu: damai selalu bersama diriku ini”). Dengannya, kita belajar mengatasi apa yang mungkin mengganggu diri pribadi kita. Memang, ini bukan suatu soal yang gampang, karena pembelajaran ini sulit diletakkan di bagian dalam kehidupan kita. Namun, telah diamati bahwa, ketika seseorang menjadi terbiasa membawa kata-kata Santa Teresa ini di dalam memorinya, memberikan efek baik yang mendalam dan tak ada kata terlambat untuk berusaha mengalaminya sendiri. Hanya yang kurang, mungkin soal memanggilnya kembali dari memori kita dan menunggunya dengan sabar. Itulah yang menumbuhkan kata-kata penuh makna: la paciencia todo lo alcanza (Dengan kesabaran, segalanya tergapai). (bersambung….)

NADA TE TURBE; TAK ADA YANG MENGGANGGUMU

tumblr_inline_ney3yuYrmx1t4npdc

NADA TE TURBE, adalah sebait puisi Santa Teresa dari Avila. “Nada Te Turbe” adalah suatu kalimat yang menuntun pembaca menuju kedamaian batin, la paz interior. Dalam situasi-situasi sulit, yang pastinya dapat kita semua alami, kata-kata…”Nada Te Turbe” dapat menjadi hiburan batin bagi kita. “Nada Te Turbe” yang berarti; Tak ada yang mengganggumu” meyakinkan kita bahwa jika Allah di pihak kita, maka tak ada yang dapat mengganggu kita.

(bersambung….)

DURI DALAM DAGING

20140702_084201

Hidup adalah penderitaan. Lebih banyak susah dan derita. Apakah kita menyerah dan putus asa lalu lari mencari kehidupan lain di luar Tuhan?

Banyak orang yang demikian. Mereka lari dan tidak menghadapi tantangan kehidupan dan kenyataan yang tidak gampang ini. Mereka tidak seperti Yesus dan Paulus yang berani menghadapi tantangan, penolakan, penganiayaan bahkan nyawa menjadi taruhan mereka. Yesus yang Tuhan sendiri harus alami penolakan, penderitaan dan wafat di Salib. Lalu selesai. Apakah betul selesai? Ternyata tidak. Dibalik derita, di balik salib, ada kegembiraan dan sukacita Paskah Kebangkitan.
Mungkin ada banyak orang yang berkata, kita ikut Yesus supaya hidup kita aman. Kita dipanggil Tuhan supaya kita hidup tenang dan damai. Sabar dulu. Barangkali itu rayuan gombal. Sekadar suatu lips service. Ternyata ikut Yesus berarti: siapa yang mau mengikuti Aku harus bisa menyangkal diri….dan ….memanggul salib…baru ikut Aku….Kalau yang tidak bisa sangkal diri, maka salah satu syarat sudah tidak dipenuhi alias tidak lulus seleksi menjadi pengikut dan murid Kristus. Menjadi murid Kristus, kalau dalam bahasa Inggris disciples atau bahasa Spanyol, discipulos…berhubungan dengan disiplin. Itu berarti disiplin diri. Nah, di sini letak beratnya penyangkalan diri. Contoh menyangkal diri. Kalau sedang puasa…ada yang mengganggu saya…apakah saya bisa tahan marah atau tidak? Apakah saya bisa menyangkal kemarahan terhadap orang yang saya benci dan mengubahnya menjadi sebuah doa bagi dia dan berkat bagi dia ataukah saya mendamprat habis-habisan dengan kata-kata kebencian dan pandangan kebencian dan kutukan kebencian? Di sini letak kedisplinan diri yang berangkat dari kedispilinan roh dan batin. Santa Teresa dalam buku Jalan Kesempurnaan, coba baca cukup tiga bab dari bab 10, 11, 12…bagaimana dia ajak kita untuk sangkal diri. Sangkal diri dari ingat diri, dari rasa hormat dan dari rawat diri….

Tapi baik kalau kita kembali ke bacaan kita. Kita coba lihat St. Paulus. Bacaan ini  diambil dari Surat kedua Santu Paulus kepada jemaat di Korintus. Kita baca dari bab 12. Dari ayat satu, kita lihat suatu warna mistik yang kuat dari pengalaman Paulus, yang dipanggil Tuhan dengan cara khusus. Paulus alami penglihatan-penglihatan, visiones, dan dia tahu ada orang yang sudah tiba pada ruang ketiga bahkan sudah sampai pada Firdaus, ruang ke tujuh…kita teliti bacaan ini….biar seperti kursus Kitab Suci, tak apalah, hitung-hitung belajar lagi….: “12:1 Aku harus bermegah, sekalipun memang hal itu tidak ada faedahnya, namun demikian aku hendak memberitakan penglihatan-penglihatan dan penyataan-penyataan yang kuterima dari Tuhan.12:2 Aku tahu tentang seorang Kristen; empat belas tahun yang lampau — entah di dalam tubuh, aku tidak tahu, entah di luar tubuh, aku tidak tahu, Allah yang mengetahuinya — orang itu tiba-tiba diangkat ke tingkat yang ketiga dari sorga.12:3 Aku juga tahu tentang orang itu, — entah di dalam tubuh entah di luar tubuh, aku tidak tahu, Allah yang mengetahuinya –12:4 ia tiba-tiba diangkat ke Firdaus dan ia mendengar kata-kata yang tak terkatakan, yang tidak boleh diucapkan manusia.
12:5 Atas orang itu aku hendak bermegah, tetapi atas diriku sendiri aku tidak akan bermegah, selain atas kelemahan-kelemahanku.(kerendahan hati Paulus)12:6 Sebab sekiranya aku hendak bermegah juga, aku bukan orang bodoh lagi, karena aku mengatakan kebenaran. Tetapi aku menahan diriku, supaya jangan ada orang yang menghitungkan kepadaku lebih dari pada yang mereka lihat padaku atau yang mereka dengar dari padaku.12:7 Dan supaya aku jangan meninggikan diri karena penyataan-penyataan yang luar biasa itu, maka aku diberi suatu duri di dalam dagingku, yaitu seorang utusan Iblis untuk menggocoh aku, supaya aku jangan meninggikan diri.12:8 Tentang hal itu aku sudah tiga kali berseru kepada Tuhan, supaya utusan Iblis itu mundur dari padaku.12:9 Tetapi jawab Tuhan kepadaku: “Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna.” Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku.
12:10 Karena itu aku senang dan rela di dalam kelemahan, di dalam siksaan, di dalam kesukaran, di dalam penganiayaan dan kesesakan oleh karena Kristus. Sebab jika aku lemah, maka aku kuat.
Kita lihat, Paulus seorang yang dekat dengan Tuhan, seorang mistik hebat dan rendah hati. Hebatnya Paulus, hanya orang-orang hebat, yang tidak membanggakan apapun dari dirinya sendiri. Ia yang tidak bodoh membuat dirinya biasa saja supaya Dia yang memilih dan memanggil Paulus, Tuhan yang lebih diagungkan dan dibanggakan, bukan diri sendiri”.

Santa Teresa juga demikian. Ibu kita ini seorang mistik yang tidak kalah hebatnya. Tetapi kerendahan hati yang selalu mendorong dia berkata: Aku seorang wanita yang bodoh. Namun kita lihat secara teleti, ternyata Teresa juga pernah digoda dan diganggu iblis dalam doa-doa yang mendalam. Ia nasihatkan supaya hati-hati dengan setan Lusifer. Lusifer itu dari kata Lucem, yang berarti terang. Bahasa Spanyol, la Luz berarti terang. Nah, Lucifer sebenarnya malaikat terang tetapi karena kesombongannya ia melawan Allah. Terus ia didepak dari hadapan Allah dan harus terus berada dalam pertempuran dengan malaikat-malaikat yang baik dan rendah hati dan setia terhadap Tuhan. Nah, St. Teresa nasihatkan, jangan sekali-kali percaya pada Lucifer, si iblis bapak dari segala kebohongan. Santa Teresa katakan bahwa ada beda yang besar sekali antara malaikat pembohong dan malaikat yang baik. Bisa baca di buku Hidup, saya juga baca di buku The Eternal Mystic, tulisan Pater Joseph Glynn, OCD dan sangat bagus. Di situ, Pater Glynn jelaskan bahwa kalau malaikat yang baik itu bawa damai sejati, cinta sejati, sahabat sejati dan keheningan batin dan lahir. Tapi kalau Luci…bawa yang buruk-buruk. Maka jangan percaya. Dia hanya tawarkan yang bagus, terang yang sangat terang tapi silau.  Penderitaan harus kita hadapi dengan keberanian di dalam iman. Jangan takut karena Yesus sendiri juga pernah alami. Dia pernah menderita dan sangat menderita dan Dia tahu jalan-jalan yang benar untuk mengatasi semua itu. Dia bukan orang lain, Yesus itu sahaba kita; sahabat yang paling dekat. Dia katakan, Aku telah memberitahukan semua yang Ku dengar dari BapaKu, kamu ada sahabatKu, bukan hambaKu. Aku telah memilih kamu supaya kamu berbuah banyak dan buahmu itu tetap. Kita serahkan segala doa kita,  ke dalam tangan Sahabat paling setia kita, Yesus Kristus.