Nada Te Tubre…Sharing Seorang Dokter….

1407146642529

Ini adalah sharing seorang dokter…..Dalam beberapa kesempatan, saya telah membagikan pengalaman pribadi ini kepada beberapa pasien saya, yang telah berhasil menjadi suatu sokongan kuat dalam hal psikoterapik. Demikianlah, teks Teresa ini dibawa ke dalam mental mereka dan membuat mereka bahagia. Hal ini nampak dalam mekanisme positif pribadi mereka yang diikuti dengan praktek psikoterapi, membuat mereka melihat bahwa keseimbangan psikoafektif pribadi mereka adalah hal yang paling diperhatikan dari diri mereka sendiri di atas semua kegalauan hati. Penting bahwa penghargaan diri positif dari diri sendiri, tidaklah dilebih-lebihkan, berhadapan dengan semua hal lain, menyuburkan keinginan untuk hidup baik dan harapan untuk selalu mengusahakan hidup yang baik itu. Demikianlah pengalaman seorang sahabat yang pernah menjadi seorang pasien saya dan yang merasa wajib memahami teks ini. Lalu, ketika ia memahami teks santa Teresa yang saya pernah berikan, dengan segera ia dicopikan untuk digunakan secara pribadi. (Bersambung…..)

NADA TE TURBE…..SULIT…..LA PACIENCIA

Jerebuu - Bena - Ngada- Flores
Jerebuu – Bena – Ngada- Flores

Sebagaimana sebuah refleksi psikologis, teks ini membangkitkan secara mental bahwa apa yang kita rasakan di dalam kehidupan ini, baik itu tantangan kecil maupun besar, tidak pernah menguasai pribadi kita. “Diriku tidak diperalat oleh kemalangan-kemalangan hidup. Selanjutnya, akulah yang berusaha memampukan diri untuk suatu pasifitas (kedamaian), ketimbang menghadapi segala sesuatu dengan sikap defensif”. Dapat dilihat bahwa beban emosional yang berasal dari kesulitan-kesulitan itu, sebaliknya dapat memberikan kepada kita suatu rasa udara segar dan baru lantaran sikap serah diri yang total. Bukan suatu yang melemahkan, tetapi suatu pembelajaran untuk semakin kuat dalam kehidupan ini. Untuk itu, seringkali kita diingatkan oleh kata-kata ini: “Que nada te turbe lo que vale mas que lo que pasa: las paz comigo mismo” (Bahwa tak ada yang mengganggumu, itulah yang lebih bernilai dari semua yang berlalu: damai selalu bersama diriku ini”). Dengannya, kita belajar mengatasi apa yang mungkin mengganggu diri pribadi kita. Memang, ini bukan suatu soal yang gampang, karena pembelajaran ini sulit diletakkan di bagian dalam kehidupan kita. Namun, telah diamati bahwa, ketika seseorang menjadi terbiasa membawa kata-kata Santa Teresa ini di dalam memorinya, memberikan efek baik yang mendalam dan tak ada kata terlambat untuk berusaha mengalaminya sendiri. Hanya yang kurang, mungkin soal memanggilnya kembali dari memori kita dan menunggunya dengan sabar. Itulah yang menumbuhkan kata-kata penuh makna: la paciencia todo lo alcanza (Dengan kesabaran, segalanya tergapai). (bersambung….)

NADA TE TURBE; TAK ADA YANG MENGGANGGUMU

tumblr_inline_ney3yuYrmx1t4npdc

NADA TE TURBE, adalah sebait puisi Santa Teresa dari Avila. “Nada Te Turbe” adalah suatu kalimat yang menuntun pembaca menuju kedamaian batin, la paz interior. Dalam situasi-situasi sulit, yang pastinya dapat kita semua alami, kata-kata…”Nada Te Turbe” dapat menjadi hiburan batin bagi kita. “Nada Te Turbe” yang berarti; Tak ada yang mengganggumu” meyakinkan kita bahwa jika Allah di pihak kita, maka tak ada yang dapat mengganggu kita.

(bersambung….)

DURI DALAM DAGING

20140702_084201

Hidup adalah penderitaan. Lebih banyak susah dan derita. Apakah kita menyerah dan putus asa lalu lari mencari kehidupan lain di luar Tuhan?

Banyak orang yang demikian. Mereka lari dan tidak menghadapi tantangan kehidupan dan kenyataan yang tidak gampang ini. Mereka tidak seperti Yesus dan Paulus yang berani menghadapi tantangan, penolakan, penganiayaan bahkan nyawa menjadi taruhan mereka. Yesus yang Tuhan sendiri harus alami penolakan, penderitaan dan wafat di Salib. Lalu selesai. Apakah betul selesai? Ternyata tidak. Dibalik derita, di balik salib, ada kegembiraan dan sukacita Paskah Kebangkitan.
Mungkin ada banyak orang yang berkata, kita ikut Yesus supaya hidup kita aman. Kita dipanggil Tuhan supaya kita hidup tenang dan damai. Sabar dulu. Barangkali itu rayuan gombal. Sekadar suatu lips service. Ternyata ikut Yesus berarti: siapa yang mau mengikuti Aku harus bisa menyangkal diri….dan ….memanggul salib…baru ikut Aku….Kalau yang tidak bisa sangkal diri, maka salah satu syarat sudah tidak dipenuhi alias tidak lulus seleksi menjadi pengikut dan murid Kristus. Menjadi murid Kristus, kalau dalam bahasa Inggris disciples atau bahasa Spanyol, discipulos…berhubungan dengan disiplin. Itu berarti disiplin diri. Nah, di sini letak beratnya penyangkalan diri. Contoh menyangkal diri. Kalau sedang puasa…ada yang mengganggu saya…apakah saya bisa tahan marah atau tidak? Apakah saya bisa menyangkal kemarahan terhadap orang yang saya benci dan mengubahnya menjadi sebuah doa bagi dia dan berkat bagi dia ataukah saya mendamprat habis-habisan dengan kata-kata kebencian dan pandangan kebencian dan kutukan kebencian? Di sini letak kedisplinan diri yang berangkat dari kedispilinan roh dan batin. Santa Teresa dalam buku Jalan Kesempurnaan, coba baca cukup tiga bab dari bab 10, 11, 12…bagaimana dia ajak kita untuk sangkal diri. Sangkal diri dari ingat diri, dari rasa hormat dan dari rawat diri….

Tapi baik kalau kita kembali ke bacaan kita. Kita coba lihat St. Paulus. Bacaan ini  diambil dari Surat kedua Santu Paulus kepada jemaat di Korintus. Kita baca dari bab 12. Dari ayat satu, kita lihat suatu warna mistik yang kuat dari pengalaman Paulus, yang dipanggil Tuhan dengan cara khusus. Paulus alami penglihatan-penglihatan, visiones, dan dia tahu ada orang yang sudah tiba pada ruang ketiga bahkan sudah sampai pada Firdaus, ruang ke tujuh…kita teliti bacaan ini….biar seperti kursus Kitab Suci, tak apalah, hitung-hitung belajar lagi….: “12:1 Aku harus bermegah, sekalipun memang hal itu tidak ada faedahnya, namun demikian aku hendak memberitakan penglihatan-penglihatan dan penyataan-penyataan yang kuterima dari Tuhan.12:2 Aku tahu tentang seorang Kristen; empat belas tahun yang lampau — entah di dalam tubuh, aku tidak tahu, entah di luar tubuh, aku tidak tahu, Allah yang mengetahuinya — orang itu tiba-tiba diangkat ke tingkat yang ketiga dari sorga.12:3 Aku juga tahu tentang orang itu, — entah di dalam tubuh entah di luar tubuh, aku tidak tahu, Allah yang mengetahuinya –12:4 ia tiba-tiba diangkat ke Firdaus dan ia mendengar kata-kata yang tak terkatakan, yang tidak boleh diucapkan manusia.
12:5 Atas orang itu aku hendak bermegah, tetapi atas diriku sendiri aku tidak akan bermegah, selain atas kelemahan-kelemahanku.(kerendahan hati Paulus)12:6 Sebab sekiranya aku hendak bermegah juga, aku bukan orang bodoh lagi, karena aku mengatakan kebenaran. Tetapi aku menahan diriku, supaya jangan ada orang yang menghitungkan kepadaku lebih dari pada yang mereka lihat padaku atau yang mereka dengar dari padaku.12:7 Dan supaya aku jangan meninggikan diri karena penyataan-penyataan yang luar biasa itu, maka aku diberi suatu duri di dalam dagingku, yaitu seorang utusan Iblis untuk menggocoh aku, supaya aku jangan meninggikan diri.12:8 Tentang hal itu aku sudah tiga kali berseru kepada Tuhan, supaya utusan Iblis itu mundur dari padaku.12:9 Tetapi jawab Tuhan kepadaku: “Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna.” Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku.
12:10 Karena itu aku senang dan rela di dalam kelemahan, di dalam siksaan, di dalam kesukaran, di dalam penganiayaan dan kesesakan oleh karena Kristus. Sebab jika aku lemah, maka aku kuat.
Kita lihat, Paulus seorang yang dekat dengan Tuhan, seorang mistik hebat dan rendah hati. Hebatnya Paulus, hanya orang-orang hebat, yang tidak membanggakan apapun dari dirinya sendiri. Ia yang tidak bodoh membuat dirinya biasa saja supaya Dia yang memilih dan memanggil Paulus, Tuhan yang lebih diagungkan dan dibanggakan, bukan diri sendiri”.

Santa Teresa juga demikian. Ibu kita ini seorang mistik yang tidak kalah hebatnya. Tetapi kerendahan hati yang selalu mendorong dia berkata: Aku seorang wanita yang bodoh. Namun kita lihat secara teleti, ternyata Teresa juga pernah digoda dan diganggu iblis dalam doa-doa yang mendalam. Ia nasihatkan supaya hati-hati dengan setan Lusifer. Lusifer itu dari kata Lucem, yang berarti terang. Bahasa Spanyol, la Luz berarti terang. Nah, Lucifer sebenarnya malaikat terang tetapi karena kesombongannya ia melawan Allah. Terus ia didepak dari hadapan Allah dan harus terus berada dalam pertempuran dengan malaikat-malaikat yang baik dan rendah hati dan setia terhadap Tuhan. Nah, St. Teresa nasihatkan, jangan sekali-kali percaya pada Lucifer, si iblis bapak dari segala kebohongan. Santa Teresa katakan bahwa ada beda yang besar sekali antara malaikat pembohong dan malaikat yang baik. Bisa baca di buku Hidup, saya juga baca di buku The Eternal Mystic, tulisan Pater Joseph Glynn, OCD dan sangat bagus. Di situ, Pater Glynn jelaskan bahwa kalau malaikat yang baik itu bawa damai sejati, cinta sejati, sahabat sejati dan keheningan batin dan lahir. Tapi kalau Luci…bawa yang buruk-buruk. Maka jangan percaya. Dia hanya tawarkan yang bagus, terang yang sangat terang tapi silau.  Penderitaan harus kita hadapi dengan keberanian di dalam iman. Jangan takut karena Yesus sendiri juga pernah alami. Dia pernah menderita dan sangat menderita dan Dia tahu jalan-jalan yang benar untuk mengatasi semua itu. Dia bukan orang lain, Yesus itu sahaba kita; sahabat yang paling dekat. Dia katakan, Aku telah memberitahukan semua yang Ku dengar dari BapaKu, kamu ada sahabatKu, bukan hambaKu. Aku telah memilih kamu supaya kamu berbuah banyak dan buahmu itu tetap. Kita serahkan segala doa kita,  ke dalam tangan Sahabat paling setia kita, Yesus Kristus.

TELADAN YANG SELALU MEMBAHARUI

 

Imagen

Hari ini Gereja sedunia merayakan pesta St Petrus dan Paulus, dua saudara sejati dalam iman akan Yesus Kristus. Kedua tokoh ini disebut sebagai pillar-pilar utama bangunan Gereja. Dari dua saudara sejati ini, Petrus dikenal sebagai BATU, seorang yang teguh, berdiri kokoh sebagai pemimpin Komunitas Kristen Yahudi, Antiokia dan Roma. Kemudian, Paulus adalah rasul bangsa-bangsa yang dikirim ke daerah-daerah terpencil, daerah-daerah perbatasan untuk pekabaran Injil Yesus Kristus kepada kaum luar Yahudi di Galatia, Atena dan Tesalonika.

Namun dua saudara sejati ini, bukan saja selalu akur, mereka bahkan pernah saling debat. Ambil contoh di Surat kepada umat di Galatia 2: 11-12. Paulus katakan: “Saya menentang Petrus dari muka ke muka sebab ia benar-benar salah”. Petrus lalu mengubah pandangannya yang tidak mau menerima perbedaan antara orang-orang bersunat dan tidak bersunat, agar mereka bisa duduk makan semeja. Bagi Paulus, semua harus satu, semua diterima, semua Katolik, bisa menerima perbedaan dan mengenyahkan sikap yang membedakan.

Kesempatan lain juga menjadi inspitasi bagi kita, yakni bagaimana Petrus harus mengubah masa lalunya. Petrus membolehkan dirinya dikuasai oleh Roh Kudus, dan karena itu ia dapat mengenal Yesus Kristus sebagai Mesias, Putra Allah yang hidup. Tuhan pun menghembusi kelembutan Roh Kudus kepada Petrus dan menjadikan Petrus dengan nama baru: Simon anak Yonas, engkau adalah Petrus (Kefas) dan di atas batu karang ini, akan Kudirikan GerejaKU.

Masih dalam injil Matius, 5 ayat setelah ini, kita temukan bahwa Yesus tidak memanggil Petrus sebagai Kefas tetapi sebagai setan penggoda. Apa kiranya yang menjadi pembeda antara Kefas dan setan?

 

Paus Emeritus Benediktus ke 16 berkata: yang menjadi pembeda Kefas dan setan adalah saat di mana Simon Petrus bertindak berdasarkan darah dan dagingnya sendiri. Itulah yang membedakan bahwa manusia bukan apa-apa. Manusia tanpa Tuhan hanyalah seonggok daging lemah. Persoalnya, manusia suka menonjolkan dirinya. Manusia sering lupa sama Tuhan. Beda kalau saat Petrus menggunakan kuasa dari Roh Allah: semuanya ajaib.

Kalau dari Allah, maka segalanya menjadi baik. Contoh bagi kita, yakni ketika Petrus dan rasul-rasul ditangkap dan dipenjarakan di Yerusalem. Sebagai tokoh pewarta Kabar Baik, Petrus dkk pernah ditangkap dan dipenjarakan. Dalam Kisah Rasul-rasul bab 5 diberitakan bahwa pada malam hari, malaikat Tuhan datang dan membebaskan Petrus dkk. Caranya pun mencengangkan para sekuriti di sana. Pintu-pintu penjara terkunci sementara para rasul itu telah bebas dan memberitakan Kabar Gembira di Bait Allah, tanpa takut ancaman. Yang menarik juga adalah tentang cara malaikat Tuhan memerintah Petrus: Siapkan diri, pergi, berdirilah dan beritakanlah.

Petrus pun bersiap, ia pergi ke mana-mana, siap berdiri mewartakan berita kesukaan tentang Yesus Kristus dan bahkan siap menyerahkan nyawa di kota Roma.

Kitapun bisa seperti Petrus. Petrus pernah berdosa. Pernah 3 kali menyangkal. Pernah dicap setan oleh Yesus. Petrus itu orang berdosa. Kita juga orang berdosa. Bedanya, Petrus sadar dan bertobat dan membiarkan diri dikuasai oleh Tuhan. Kita? Masih tanda tanya. Namun tidak salah juga kalau kita mau belajar dari sikap Petrus. Kita bisa dipenjara. Kita dipenjara dosa. Kalau kita lebih tonjolkan daging dan darah manusia kita, maka kita akan tetap dipenjara dosa. Kalau kita tetap hidup dalam kedagingang, kita hanya akan menuai kebencian, konflik, pertikaian, perbantahan, permusuhan dan tak ada kedamaian.

Maka, belajar pada Petrus. Kalau ada penjara dosa dan salah jangan simpan di dalam hati. Biarkan hati kita dikuasai oleh hembusan lembut Roh Tuhan. Minta Tuhan beri petunjuk dan bimbingan. Kalau kita tonjolkan Tuhan, maka hidup kita pun lebih diwarnai oleh kasih dari Tuhan. Di sana kita akan membawa damai, kelembutan, kehalusan budi. Kalau ada persoalan, jangan putus asa. Ingat, Petrus sekalipun di malam gelap, dalam penjara yang mengungkung, dibebaskan oleh Tuhan, maka kita pun percaya bahwa sekalipun hidup ini kadang gelap dan pekat, namun kalau ada Tuhan semuanya pasti berubah. Kita juga berdoa pada kesempatan ini untuk bangsa dan negara kita. Lagi beberapa hari kita melaksanakan pilpres. Kita doakan semoga bangsa kita dilindungi dan dibimbing Tuhan. Apa pun perbedaan kita, kita serahkan pada Tuhan. Tuhan bisa bekerja dahsyat dalam kelembutan. Kekuatan doa sudah terbukti dengan rosario yang digalakkan Santo Yohanes Paulus II ketika meruntuhkan sebuah kejayaan komunisme Uni Syoviet. Kita percayakan negara dan bangsa kita dalam doa-doa kita. Amin.

SEPULUH TAHUN TELAH BERLALU…

Bag dalam biara Karmel OCD Bogenga Bajawa
Bagian dalam Biara Karmel OCD Bogenga Bajawa

Pertama kali bertemu, ada kesan. Kesan itu diteruskan dengan datang dan melihat dan tinggal hidup bersama dia, di Bajawa khususnya di Bogenga. Saya bangga dengan seorang P. Thom (Panggilan akrab untuk alm.  Pater Thomas Kalloor, OCD). Saya bangga karena sebagai imam dari India, ia sendiri berjalan tanpa kenal lelah mempromosikan panggilannya sampai ke Lembata. Saya pertama kali mengenal P. Thom di Lewoleba Lembata. Saat itu musim hujan angin. Setelah itu datang memberi test di Larantuka.  Saya ingat P. Thom bersama Bapak Petrus Puli, (Guru Bahasa Indonesia SMA Negeri Bajawa) dan Bapak Anton Riwu (Guru KepSek pada SDI Waturutu). Saat itu juga hujan angin dan mereka harus memutar tujuan. Seandainya keadaan normal maka mereka pulang lewat Ende . namun hujan membuat jalan di Ende runtuh. Maka mereka terpaksa mengalami gempuran ombak laut sawu ke kupang baru kemudian, dengan kapal ke Ende dan terus ke Bajawa. Kesan saya waktu masih remaja: orang ini punya kekhususan. Lalu saya datang, dan alami sendiri kekhususannya itu adalah: kesabaran, keRAMAHAN, ketabahan, keuletan dan kebapaan.

 

Kalau kita membandingkan kehidupan di Bogenga dan Paroki Santo Yosef sejak tahun awal sampai saat ini maka kita akan mendapatkan perbedaan yang amat besar. Dulu hanya ada dua pater, P John Britto, OCD dan P. Thom yang menangani pelayanan di Paroki serentak di Biara. Sekarang pelayanan rohani sdh ditangani oleh banyak Pater.  Dulu, P. Thom  tidak pakai mobil. Ia setiap setengah lima pagi, sudah menyalakan mesin motor Yamaha, yg sekarang diparkir rusak di samping aula belakang Paroki St. Yosef. Itu satu2nya kendaraan yg dimiliki biara ini saat itu. Bandingkan saat ini….kita harus berterima kasih kepada P. Thom dan P. John Britto  dan syukur kepada Tuhan. Selanjut setiap pagi kelihatan bahwa P. Thom  selalu menggunakan jaket tebal menembus dingin dan kabut pagi Bajawa waktu itu. Perlu diingat, daerah sekitar Biara masih dipenuhi dengan pepohonan kopi dan dadap dan enau. Karena itu udaranya masih terasa amat dingin dan menusuk sampai ke tulang. Namun, kelihatan bahwa P. Thom yang setiap hari misa jam 5 pagi itu tidak merasakannya. Suatu saat, P. John Britto, diserang stroke. Kami bingung, pastor sudah tinggal dua, sakit parah, mau jadi apa? Hanya satu-satunya harapan kami adalah P. Thom.

 

Merasa menjadi sandaran kami angkatan pertama, P. Thom begitu penuh pengorbanan. Bayangkan, misa di Paroki jam 5 pagi, melayani pengakuan, mememperhatikan kelanjutan pembangunan gereja, melayani misa di stasi-stasi dan tidak lupa, kami di Bogenga. Waktu itu P Thom sendiri yang menjadi magister kami. Kalau sudah sibuk, ia hanya tinggalkan tugas, terus kami selesaikan dan malam baru berkumpul.

 

Pertanyaan yang muncul: apakah ada novis angkatan perdana yang bolos di tengah pengorbanan seorang magister pertama? Kelihatan agak sulit untuk bolos. Belum ada rumah di sekitar sini. Batas hutan masih di SD I Watutura. Kemudian kalau muncul di kota semua orang pada tegur: Fraterr,  jalan-jalan  ke mana. Hati-hati…” jadi, sekalipun hanya satu pastor untuk kami, tetapi ada semacam karya Tuhan yang menyertai kami untuk bersemangat membantu P Thom.

 

Saya juga ingat, kalau rekreasi, Pater Thom selalu memilih bermain kartu. Dan permainan menjadi amat serius. Kadang saling marah dan saling mempersalahkan. Tapi dari situ muncul keakraban. Keakraban juga terlihat dalam makan bersama. Ketika kembali dari pelayanan di stasi, P Thom  selalu bawa sesuatu. Misalnya pisang, advokad, markis, jambu air dll. Apakah ia simpan di kamarnya? Tidak pernah. Ia dari stasi bersama sopir waktu itu, Bapa Kobus, langsung bawa ke dapur untuk dihidangkan di kamar makan. Kalau tidak sempat dihantar ke kamar makan, beliau akan menyuguhkan saat rekreasi.

 

Dari  sedikit tentang P Thom di atas, kita dapat menarik satu pesan kecil untuk kita semua. P Thom. Kisah tentang sebuah  sepeda motor bebek Yamaha dan rekreasi dengan makanan camilan pisang masak kiriman dari stasi2 yang dibawa P. Thom.  Bagi saya, pesan itu adalah KASIH, AGAPE, kasih yang selalu memberi tanpa sisa untuk kehidupan dan kelanjutan hidup orang lain. P. Thom punya AGAPE, agar Ordo OCD ini bisa eksis terus di Indonesia. Agar, OCD yang pertama hanya mulai dengan ‘satu sepeda motor bebek Yamaha itu”, boleh memiliki lebih dari satu kendaraan. Tentu bukan untuk show dan hidup mewah, tetapi untuk semakin memperluas pelayanan dan pewartaan Injil dan juga menebarkan spiritualitas doa kontemplasi Karmel Teresa kepada sesama.  Hanya dengan kasih yang selalu memberi ini, kita bisa memberi diri, waktu, perhatian, pengorbanan kepada sesame.

 

Bapa kita P. Thom sudah menunjukkan hal itu. Ia memberi diri seutuhnya setiap hari kepada Tuhan dan sesame. Ia memberi diri dalam pelayanan kepada umat, dgn setiap pukul setengah lima pagi dalam dingin untuk misa pagi di Gereja. Terus misa lagi di Biara, terus misa di stasi. Belum lagi pembangunan Gereja dan BIara. Semua jika tanpa kasih yang memberi diri, tak mungkin ada sukses nyata seperti ini. Maka, mari kita belajar utk selalu siap memberi diri, mempersembahkan diri setiap hari. P. Thom sudah menjadi persembahan yang harum kepada Tuhan dengan sekian pencapaian kiprah OCD Indonesia. Semoga keharuman semangatnya itu juga menjadi semangat kita. Amin.

MALAM DI BADJAVA

Bandung Jakarta
Bandung Jakarta

Jalan sunyi malam sepi

Aku terlusuri jalanan di kota Badjava

Terus ku daki berawal dari Waiwoki

Hingga fajar menyingsing di kaki Lebijaga

Tapi kini sepi…sepi …teramat sepi

Mengapa sunyi mencekam seperti ini

Hati terasa galau di pinggir kota

Antara Naru dan Bogenga

Kenangan itu berputar mengiringi  Wakomenge

Entah kapan Bolonga telah menantiku memelukku

Dalam dekapan sunyi yang kian sepi

Sunyi se sunyi ini

Dalam rintik rinai gerimis

Di Bologna tempat kita pernah bertemu

Saat kita berpadu dalam sunyi

Sunyi yang semakin hanyut

Malam se sunyi di Bologna

Bajawa, 27 Januari 2014