Mutiara Sabda untuk Esok 1

Avila di waktu salju
Avila di waktu salju

Sahabatku, bacalah Injil Yohanes bab 10, 22-30. Renungkan sejenak dan mari kita lihat latar belakangnya munculnya perikop ini.

1. Saat itu musim dingin. Saat itu di Jerusalem dirayakan pesta dan Yesus ada di Bait Allah.

Penginjil di sini bertindak sebagai seorang seniman. Dengan tiga kenyataan yang ada, dikembangkan menjadi inspirasi untuk banyak ide. Terutama dalam soal penting ini, soal kultus, peribadatan. Penginjil menyinggung tentang waktu: musim dingin. Musim dingin yang beku menjadi awal gambaran kultus atau peribadatan yang dingin di Bait Allah di Jerusalem.

Salah satu efek dari kebekuan itu digambarkan dengan nyata oleh kekerasan hati orang-orang Yahudi yang berdiri mengelilingi dan mendengarkan-Nya. Mereka berdiri dekat dengan Yesus dan mendengarkan tetapi hati mereka beku, tertutup dan jelas dapat kita tarik kesimpulan: mereka tidak mau berubah, mereka tidak mau maju dan sebagainya. Mereka senang bergeming dalam kedinginan dan kebekuan.

2. “Berapa lama lagi Engkau membiarkan kami hidup dalam kebimbangan?…. katakanlah terus terang kepada kami.”
Yesus menjawab mereka: “Aku telah mengatakannya kepada kamu, tetapi kamu tidak percaya….”.-

Adalah sangat mungkin terbersit sejuta kebimbangan dalam hati kita, ketika kita dihadapkan pada pertanyaan dan tantangan hidup yang sulit. Tetapi satu hal penting, percaya kepada Yesus bukan berarti segalanya menjadi terang dan jelas. Yang menjadi sikap kita sebenarnya adalah menyerahkan diri dan membiarkan hati dituntun dan dibimbing Yesus. Kadang kita merasa hidup dekat dengan Yesus, dan kita berprinsip itu sudah cukup. Tetapi kita disodorkan tawaran untuk berubah, kita menjadi kaku. Kita bukan lagi percaya kepada Yesus tetapi percaya pada ide, pendapat dan pandangan-pandangan kita sendiri. Maukah kita berubah….? Jadilah pada kita menurut kehendak-Nya.

John Lebe Wuwur
Vitoria- España