HAKEKAT “AKU” DAN “TAK BERSEPATU”

Teluk Santander Cantabria di suatu senja yang sepi
Teluk Santander Cantabria di suatu senja yang sepi

Chairil Anwar pernah hidup dan Indonesia patut bersyukur memiliki seorang yang pikiran dan kata-katanya dahsyat bagai halilintar:

Aku ini binatang jalang
Dari kumpulan yang terbuang
Luka dan bisa ku bawa berlari
Berlari ……..
Hingga hilang pedih dan perih……

Kata-kata ini begitu menarik, begitu bertenaga: aku dan kau… kita… terus berlari, mengejar perubahan menuju pembaharuan. Pembaharuan setiap hari bahkan setiap saat. Pembaharuan itulah hakikat “Tak Bersepatu” (Sin Zapatos). Sin Zapatos: dua kata bahasa Spanyol yang berarti tidak bersepatu (sin: tidak dan zapatos: sepatu). Sin Zapatos adalah sebuah prinsip hidup yang mengalir dari kekayaan spiritual dua mistik kristen asal Spanyol: San Juan de la Cruz dan Santa Teresa de Jesus. Keduanya merupakan pencetus reformasi kehidupan spiritual; reformasi diri yang didasarkan, diawali dan berpusat dari dalam batin seseorang. Untuk mereformasi diri, jangan lupa bahwa aku dan kita berasal dari KETIADAAN dan berziarah menuju KETIADAAN pula. Jelasnya… dihadapan Tuhan, kita hanyalah sebutir debu. Hanya debulah kita. Dan hanya satu yang penting bagi kita, JIWA kita dan selain dari itu hanya ketiadaan (Nada – nothingness). Dalam kaitan dengan ini Sang Mesias bahkan berkata: “Dan janganlah kamu takut kepada mereka yang dapat membunuh tubuh, tetapi yang tidak berkuasa membunuh jiwa; takutlah terutama kepada Dia yang berkuasa membinasakan baik jiwa maupun tubuh di dalam neraka”.

So, manakah yang paling penting? Sepatu, duit, harta ataukah ….. jiwa dan keselamatannya? Pikirkanlah baik-baik sebelum terlambat. Hasta pronto.

John Lebe Wuwur