MERASAKAN DENYUT PANGGILAN MEMBIARA

Fr. Jon Rojas dan P. Tomas: dua negara satu semangat pengabdian
Fr. Jon Rojas dan P. Tomas: dua negara satu semangat pengabdian

Menghidupkan kembali denyut Panggilan

Tema minggu panggilan Gereja Spanyol kali ini adalah “Terpikat pada tatapan-Nya”. Salah satu hal menarik adalah, video yang disebarkan Konferensi Gereja Spanyol adalah gambaran kehidupan di Indonesia. Tapi yang menjadi soal kita di sini adalah, kita tidak bisa membandingkan kegiatan minggu Panggilan di Spanyol dan di Indonesia. Sangat berbeda. Indonesia, sekalipun mempunyai masyarakat muslim terbanyak di dunia, namun dari masyarakat Indonesia yang pluralis: Islam, Katolik, Protestan, Hindu, Budha itu, muncul banyak anak muda yang menjawab serius panggilan menjadi imam dan biarawan-biarawati. Gereja Indonesia adalah gereja yang aktif. Karena itu, Indonesia merupakan salah satu negara penyumbang tenaga paling banyak untuk karya Gereja di dunia. Sedang Spanyol mungkin kebalikan. Sangat sedikit kaum muda yang mau mengabdikan diri kepada hidup imamat dan religious. Tetapi bukan berarti tidak ada panggilan sama sekali. Ada juga anak muda yang menjawabi panggilan ini secara sungguh-sungguh. Hanya sedikit yang menjawab, karena itu seminari-seminari dan fakultas-fakultas teologi dan filsafat kebanyakan diisi oleh kaum awam. Kaum awam ini, bukan orang-orang yang tidak memilik kerja alias pengangguran, melainkan yang bekerja sebagai guru, psikolog, ahli hukum, dokter dan lain-lain. Mereka ini menjadi teman-teman sekolah para seminaris. Memang, agak aneh, tidak seperti di Indonesia atau umumnya di Asia. Tapi itulah, Gereja Spanyol bertahan hidup dengan caranya sendiri. Dan itu lebih baik bagi Gereja Spanyol ketimbang bergantung pada negara tertentu untuk soal tenaga dalam imamat dan kehidupan religious.

Kisah Nyata

Saya hidup di sebuah biara dengan anggota 12 orang. Semuanya pastor. Ada yang sudah berusia 80-an tahun tetapi masih sangat aktif mengajar dan menulis buku-buku sejarah. Ada juga yang berusia 50-an hingga 70-an dan mereka amat produktif dalam berkarya. Mereka sering bepergian ke kota dan negara lain untuk ceramah-ceramah spiritual.

Satu hal menarik, suatu hari datang seorang anak muda (usia dua puluhan) dan menyatakan keinginannya untuk hidup membiara di biara kami. Tapi, ia harus menyesuaikan dirinya. Dengan itu berarti pertama, ia harus meninggalkan rumahnya. Padahal, ia anak tunggal, ayahnya telah tiada dan ibunya sendirian. Ibunya harus ditinggalkan sendirian. Tapi…. apa boleh buat, keinginannya lebih kuat dari sekedar sebuah rasa emosi. Hanya, hari-hari pertama, ia diijinkan menerima telpon dari sang ibu. Setelah itu serius dalam belajar.

Kedua, ia harus meninggalkan pekerjaannya. Ia bekerja sebagai pegawai pada sebuah perusahan informasi (ia ahli dalam bidang informasi) dan ia juga harus meninggalkan murid-muridnya ( ia guru yang amat dibanggakan murid-muridnya).

Ketiga, kalau bicara soal kerja berarti bicara juga soal upah. Ia bekerja di dua tempat, berarti ia memiliki gaji yang cukup bahkan amat cukup. Ia mampu membeli rumah dan mobil buat ibunya dan buat dirinya sendiri. Itu semua…. harus ia tinggalkan demi sebuah panggilan membiara.

Keempat, ia harus memulai segalanya dari dasar. Dari formasi aspiran kemudian potulan dan novisiat. Ia harus kembali berada sebagai murid dan belajar filsafat dan teologi: dan ia harus belajar dengan serius. Artinya, harus lulus ujian dan harus lulus penilaian budi pekerti oleh para formator.

Dan kelima, itulah kisah anak muda itu. Ia merasa terpanggil, ia datang dan ia menghidupi panggilan itu. Ia telah melepaskan segalanya dan segalanya. Termasuk…. hehehee… namanya juga anak muda dari negara maju: cewek. Ia tinggalkan pacarnya, demi panggilan ini. Bagaimana reaksi cewek itu? Positip…. menerima dengan segala kebebasan keputusanya dan melepaskan pula dengan segala kebebasan sambil mendoakan calon biarawan muda itu. Setiap hari minggu ada seorang perempuan remaja yang berlutut di bangku gereja paling akhir. Itulah cewek itu, katanya kepada saya pada suatu senja.

Ya….Semoga ….. semoga …. ia tidak menjadi pemuda yang sedih karena melepaskan banyak harta, melainkan menjadi seorang pemuda yang bahagia karena mendapatkan harta yang lebih mulia: menjalani kehidupan yang menjadi dambaan hatinya.

Adios.