SAHABAT…..

Sahabat-sahabatku di Stadion Base Ball di Flushing New York USA
Sahabat-sahabatku di Stadion Base Ball di Flushing New York USA

Sahabat

Tonni Parera, penyanyi asal Timor Leste bersuara merdu itu, benar dalam mengekspresikan konsepnya tentang sahabat dalam lagunya Sahabatku. Tanpa sahabat, Toni merasa dirinya hampa, kosong dan terisolasi. Sahabat adalah cahaya, sahabat adalah kegembiraan, sahabat adalah harta, apalagi sahabat sejati.

Sahabat adalah kata yang direfleksikan bukan saja oleh Toni Parera, bukan saja oleh pengarang lagu Adios Amigos, atau oleh Brian Adams dalam lagunya Summer of 69, gambaran solidaritas sahabat-sahabat segenerasi. Namun apa kata Yesus tentang sahabat, pesan yang Ia berikan di Perjamuan Malam Terakhir.

“Aku menyebut kamu sahabat, bukan hamba. Karena seorang hamba tidak mengetahui apa yang dipikirkan, direncanakan dan dikerjakan tuannya. Kamu sahabat-Ku, karena apa yang aku pikirkan, apa yang menjadi rencanaKu, apa yang menjadi kerja-Ku bukan lagi rahasia untuk kamu. Kamu mengetahui rahasia ini: cintailah satu sama lain seperti Aku mencintai kamu”.

Yesus mencintai rasu-rasul-Nya dan para rasul itu adalah cikal bakal Gereja atau mereka adalah Gereja, bahkan mereka adalah, para rasul itu batu-batu fundamen Gereja. Berarti juga Yesus mencintai kita, setiap dan semua anggota Gereja. Semua yang masuk dalam persekutuan Gereja adalah pengikut Kristus dan setiap pengikut Kristus berhak mendapatkan dan merasakan cinta Yesus. Dan dalam cinta Yesus inilah kita disebut sahabat-Nya.

Sahabat dalam Yesus

Menyapa kita sebagai sahabat, berarti:

Yesus tidak menghendaki adanya perbudakan,tetapi persaudaraan, cinta dan damai, saling menghargai satu sama lain. “Cintailah satu sama lain, seperti Aku mencintai kamu”.

Yesus tidak menghendaki adanya perpecahan. Yesus menginginkan selalu adanya kesatuan. Perpecahan dan perpisahan selalu membawa luka dan sakit dan derita.

Yesus tidak membiarkan kita berjalan sendirian di perjalanan ziarah hidup ini. Ia menemani kita, ia menggandeng tangan kita bahkan ketika kita merasa paling ditinggalkan.

Anti interes pribadi maupun kelompok

Sahabat….. cintailah satu sama lain. Mencintai seperti Yesus, bukan seperti dunia menyodorkan cintanya. Mencintai seperti dunia adalah cinta dengan interes, cinta dengan fungsi kepentingan pribadi dan kelompok (groupism). Mencintai seperti dunia bukanlah cinta sejati melainkan akar dari dosa dan kesalahan. Mencintai seperti Yesus bertolak belakang dengan cinta yang ditawarkan dunia. Yesus mengajarkan cinta yang melupakan diri dan mengingat sesama; sahabat. Mencintai seperti Yesus berarti melayani tanpa meminta upah yang berlebihan. Mencintai seperti Yesus juga tidak diungkapkan dalam kesan melayani bukan untuk diperhatikan, melainkan sebagai bukti bahwa “Jesus I love You”. Mencintai seperti Yesus berarti melepaskan segalanya dan tidak merasa memiliki apa pun, agar hati ringan memberi bantuan kepada sesama-sahabat. Mencintai seperti Yesus berarti belajar memberi diri kepada orang lain: “tidak ada seorang pun yang mampu memberi nyawa untuk orang lain, sahabat-sahabat…. Yesus melakukannya dengan sempurna”.

Sahabat….. jadilah sahabat satu sama lain.

Vitoria, 15 Mei 2009
John Lebe Wuwur