CINTA SANG JANDA

Ingin mengikuti jejak Vedruña
Ingin mengikuti jejak Vedruña

Hari-hari ini saya melayani sebuah biara para suster dari Karmel Cinta Kasih. Para suster ini bekerja dalam bidang pendidikan dan Rumah Sakit. Hari ini, para Suster merayakan HUT pendiri mereka, Joaquina de Vedruña, seorang janda beranak delapan, yang digelar kudus. Berikut adalah kisah singkat hidup Santa Joaquina de Vedruña.

*******

Terlahir di kota Barcelona, Spanyol, pada tahun 1773 dari sebuah keluarga Katolik. Nama bayi perempuan itu: Joaquina de Vedruña. Sejak kecil “La Niña” sudah memiliki cinta dan devosi yang kuat terhadap Kanak-kanak Yesus.

Ada satu hal yang menjadi ciri khusus Joaquina sejak kecil adalah perhatiannya akan kebersihan. Ia tidak akan menolerir noda dan kekotoran pada pakaiannya. Ciri ini yang membawanya pada satu prinsip bahwa tidak satu pun noda dosa diijinkan mengotori jiwanya.

Pada usia dua belas tahun Joaquina mengutarakan keinginan besarnya untuk menjadi biarawati Karmel. Namun para biarawati Karmel tidak menerimanya dengan alasan, ia masih terlalu muda.

Kemudian, pada usia yang ke dua puluh enam, ia menikah dengan don Teodoro de Mas, seorang pekerja kantor. Pada mulanya, ada sedikit ketakutan akan hidup pernikahan akibat ketertarikannya untuk hidup sebagai biarawati demi mendapat kekudusan. Namun, tumbuh juga keyakinan kuat dalam hatinya bahwa hidup berkeluarga pun dapat mengantar seseorang kepada kekudusan. Keyakinan ini memberinya ketenangan dan bersama suaminya mengarungi bahtera kehidupan keluarga selama enam belas tahun. Pasangan ini dikaruniai 8 anak. Empat dari mereka menjadi biarawati begitupun beberapa dari cucunya.

Ketika Napoleon menginvasi Spanyol, Teodor, suami Joaquina memutuskan untuk masuk tentara demi membela tanah airnya. Joaquina dan 8 anaknya ditinggalkan di Barcelona dan dari sana mengungsi ke sebuah dusun kecil, Vich.

Dalam perjalanan menuju tempat pengungsian itu Joaquina dan anak-anak sempat terlantar, namun secara kebetulan muncul seorang Ibu yang bersedia mengantar mereka sampai ke suatu keluarga yang baik hati di Vich. Setelah mereka masuk ke rumah keluarga itu dan diterima dengan baik, Ibu pengantar tadi menghilang tanpa jejak. Itu diyakini Joaquina sebagai bantuan Bunda Maria penolong orang yang menderita.

Suatu hari, ia merasa bahwa tidak lama ia akan menjanda, akibat lama tak didengar kabar dari suami tercinta. Dengan itu, ia segera menyiapkan mentalnya, menerima kenyataan yang akan terjadi. Dan benar, setelah dua bulan kemudian, suaminya, don Teodor, meninggal dunia. Joaquina saat itu berusia 33 tahun dengan beban berat, 8 orang anak.

Sejak saat itu, ia menanggalkan pakaian mewah ciri khas perempuan-perempuan kaya dan benar-benar bekerja hanya untuk orang-orang miskin dan telantar, juga orang-orang sakit di Rumah Sakit. Orang-orang sekitarnya berprasangka bahwa Joaquina menjadi gila akibat kesedihan ditinggal suami. Namun semuanya pelan namun pasti menjadi jelas. Joaquina bukan seorang gila.

Selama sepuluh tahun Joaquina hidup dalam matiraga, doa dan karya kasih kepada orang miskin. Ia kemudian bertemu dengan Pater Esteban, seroang Fransiskan dan bersama-sama membangun sebuah biara yang diperuntukkan untuk merasul secara aktif dalam kehidupan.

********

Benih yang ditanam bertumbuh subur. Dari 13 anggota, biara yang didirikan “Doña Vedruña” ini menjadi sebuah kumpulan kuat dan besar, beranggotakan seratus orang.

Biara baru ini diberi nama Karmel Cinta Kasih (La Comunidad de Carmelitas de la Caridad). Biara ini memiliki 290 komunitas di seluruh dunia dengan anggota 2.274 biarawati. Sebanyak 40.079 putri dididik di sekolah-sekolah mereka dan 4.443 orang dirawat di pelbagai Rumah Sakit yang mereka kelola.

Semoga, ada banyak Joaquina di dunia, ada banyak perempuan yang mencintai anak-anak, suami dan mengasihi Tuhan dan sesama dengan hati keibuan mereka. Feliz fiesta a las Vedruñas.

John Lebe Wuwur