REFLEKSI HARI RAYA KENAIKAN

Refleksi ini adalah kiriman Pater Hendrik Bala Wuwur, SVD. Beliau, setelah menyelesaikan program S2 Teologia di STFK Ledalero Maumere – Flores – Indonesia, memilih menjadi misionaris di tanah Afrika. Dari Togo- Afrika, beliau sering kali membagikan renungan-renungan yang singkat namun padat makna dan enak dibaca. Terima kasih untuk P. Enrique, salam kompak selalu. Semoga Pater selalu di lindungi Tuhan.

P. Hendrik sedang minum tuak di "konok".

Menarik merenungkan bacaan Hari Raya Yesus Naik ke surga.
Yesus naik ke surga, menarik karena Dia tidak minta kita rame-rame naik ke surga. Dia malah perintah kita untuk pergi mewartakan Kabar Gembira. Enak saja dia eee, hahaha. Dia minta kita tahan-tahan untuk ikut Dia, karena waktunya belum tiba, Dia belum siap kamar untuk kita barangkali…. Dia tidak ajak kita untuk naik rame-rame dengan Dia ke Surga karena Dia masih sangat membutuhkan kita untuk menjadi SAKSI CINTANYA. Kalau kita ikut naik, siapa yang akan jadi saksi? Yesus takut juga kalau orang dan dunia akan melupakan Dia kalau tak ada saksi, atau Dia takut namaNya hilang dari perhelatan Sejarah. Hahaha bukan itu jawabannya, Dia butuh kita agar CINTA Tuhan yang Agung yang tampak nyata dalam diriNya dan MisiNya di dunia tetap dikidungkan dan dimaklumkan ke seluruh pelosok dunia. Dia percayakan kepada kita TugasNya yang mulia yang sudah Dia penuhi di tanah Palestina. Sekarang Dia minta giliran kita untuk teruskan ke segala penjuru dunia. Kita penting juga padahal. Sekarang kita di Afrika, Asia, Amerika Latin, Eropa dan di mana-mana gara-gara ikut bodoh-bodoh apa yang Yesus katakan ini: Pergi dan Wartakanlah Kabar Gembira ke segala Pelosok dan kepada segala makhluk Ciptaan.

Saya hanya mau katakan bahwa:
Entah seberapa jauh kita melanglang buana, namun satu hal yang pasti kita sedang melakukan hal yang sama: mencoba mengaktualisasikan apa yang Yesus buat, tentu dalam konteks kita. Memang sulit sekali percaya seperti Yesus percaya, lebih sulit lagi buat apa yang Yesus buat. Namun kita tidak mesti mengambil sikap fatal, karena fatalisme berati pupus dari apa yang terakhir kita miliki: harapan. Maju terus… Dari Sabang sampai Marauke, dari Utara ke Selatan, dari Timur ke Barat, keselamatan umat manusia sejagad lewat hal-hal yang sederhana yang bisa kita buat.
Maaf untuk ide ngawur yang kebetulan tercecer di otak yang sempit ini. Hahaha

Salam dan berkat Tuhan