BARCELONA FC: REFLEKSI SEBUAH KEINDAHAN

Piala UEFA
Piala UEFA

Keindahan

Barangkali kita harus sepakat tentang arti kata keindahan. Keindahan tidak dapat didefinisikan,demikian menurut filsafat skolastik. Namun dengan demikian tidak berarti bahwa kita sulit bisa berbicara tentang keindahan. Keindahan dapat dideskripsikan sebagai sesuatu yang dapat membawa kepuasan pada indra pendengar, perasa, pelihat atau bahkan pada budi manusia. Keindahan sering berkaitan erat dengan kebaikan dan kecemerlangan. Dalam kaitan dengan sepak bola Barcelona FC, maka boleh saja dapat kita terapkan arti keindahan di atas. Pertandingan perebutan UEFA Cup (Union of European Football Associations) di stadion Olimpico- Roma menjadi bagi kita materia refleksi yang menarik.

Ketika gaung “perang” antara Barcelona FC dan Manchester United ditabuh, banyak pasangan mata sepertinya tidak sabar lagi menikmati aski dua “the best” klub bola kaki Eropa itu. Manchester United yang dari Inggris tidak dapat disangkal sebagai sebuah klub dengan catatan prestasi yang hebat. Namun kita tidak dapat menanggap enteng FC Barcelona, club sepak bola asal otonomi Catalan itu. Pada musim ini saja, dengan amat meyakinkan Barca meraih tiga gelar penting: Piala Raja, (Copa del Rey), Liga Española dan puncaknya… UEFA Cup.

Barcelona FC: suatu refleksi

Apa yang menjadi penentu kemenangan dan keindahan FC Barcelona? Tentunya kita tidak bisa mengabsolutkan suatu faktor saja. Ada banyak faktor yang bisa menjadi faktor kemenangan dan sukses Barcelona FC, antara lain: kesatuan, kedisplinan, kerja keras, penghargaan terhadap setiap pemain, harapan yang kuat dan kerendahan hati.
Kita lihat yang pertama adalah kesatuan.

Kesatuan adalah hal mutlak dalam mengusahakan tercapainya suatu cita-cita bersama. Tanpa kesatuan tidak mungkin ada kekuatan untuk menggapai cita-cita bersama. Tanpa kesatuan, cita-cita bersama hanya akan menjadi satu utopi belaka. Kesatuan team Barca terlihat utuh. Kesatuan itu dapat kita lihat dari relasi antara Presiden Klub, Joan La Porta, pelatih, Pep Guardiola dan para pemain, mulai dari Carlos Puyol, Sang Kapten “de los blaugrana”, Xavi Hernandez, hingga “duo pequeño Barca”, Lionel Messi dan Andres Iniesta. Cukup dengan kerlingan mata atau petunjuk tangan Pep Guardiola, para pemain Barca mampu melakukan gerakan-gerakan penuh makna di lapangan hijau. Tentunya, para pemainpun memiliki harapan besar pada analisa dan petunjuk sang pelatih. Satu hal yang penting, kesatuan seperti ini, tidak mungkin hadir begitu saja. Kesatuan yang erat-kuat ini berangkat dari usaha keras “equipo de los catalanes”.

Yang kedua adalah disiplin

Susunan pemain Barcelona adalah deretan para bintang. Mulai dari Lionel Messi, Samuel Etoó, Andres Iniesta, Xavi Hernandez, Carlos Puyol, Tierri Hendri, Kieta, dll adalah pemain-pemain dengan kelas internacional. Dari kapasitas mereka sebagai pemain bintang dunia tidak membuat mereka menjadi santai begitu saja. Mereka menjadikan disiplin sebagai ciri hidup mereka. Disiplin dalam berlatih, disiplin dalam hal makan (kalau soal makan, pasti sulit bagi klub-klub kita di Flores. Di Flores, kalau makan tanpa lombok sepertinya makan saat masa puasa. Lombok bagi kita orang Flores dan Lembata itu seperti makanan pokok. Sementara, dalam menú seorang olahragawan lombok adalah pantangan total. Karena apa? Karena lombok menjadikan perut sebagai tempat “memasak” makanan ulang. Karena itu pula, napas para pemain, menjadi berat dan hal ini sangat mempengaruhi stamina. Apalagi rokok). Itu disiplin makan, belum lagi disiplin dalam pergaulan dan sebagainya. Singkat kata, disiplin adalah ciri hidup seorang bintang.

Ketiga: kerja keras.

Kerja keras menjadi ciri khas permainan Barca. Ketika peluit pembuka mulai ditiup, kaki-kaki para pemain Barca tidak pernah berhenti bergerak. Mereka berlari seirama mengalirnya si kulit bundar. Lihat saja Messi dalam pertandingan semalam. Sekalipun para defender MU rata-rata memiliki postur tubuh yang besar dan tinggi, tidak membuatnya keder. Ia harus berpikir keras. Ia rajin berlari mengganti posisi. Kadang ia berganti sebagai gelandang kiri maupun kanan, kadang striker bahkan beberapa kali mundur bersama rekan-rekannya mempertahankan “keperawanan” gawang Barca. Tentu pergerakan seperti ini menuntut saling pengertian dan kerja keras dan juga kerja sama yang apik dalam team. Hasilnya, MU dijadikan bulan-bulanan orang “orang-orang pendekar ini” (pendekar=pendek tetapi kekar).

Ke empat: rasa percaya kepada rekan se team

Kalau kita melihat sepintas, “el Blaugrana” terdiri dari pemain-pemain dari berbagai negara, benua dan ras. Dari Spanyol sudah tentu, dari Prancis, Argentina, Brasil, Kamerun. Jelas ada ras Eropa, Amerika Latin dan Afrika. Perbedaan asal negara, asal benua dan ras benar-benar luntur oleh kesatuan dan kerja sama team. Tidak ada yang merasa super lantaran berasal dari negara maju dan kaya. Yang ada hanya satu: kita semua bersaudara. Dengan keyakinan bahwa rekan se team saya adalah saudara saya sendiri, apa pun asal dan cirinya, memberikan kepercayaan kuat bahwa rekanku adalah andalan saya dan kami. Karena itu, aliran dan operan bola “feet to feet” menjadi begitu tepat dan akurat dalam team Barcelona FC. Tanpa kepercayaan kuat dalam hati terhadap rekan se team, maka sulit sekali mempercayakan “si kulit bundar” kepada teman yang lain. Hal ini gampang terlihat dalam permainan bola kaki, karena semuanya diolah dalam spontanitas; tanpa berpikir análisis dulu. Percaya terhadap rekan kerja ini juga tentunya tidak tumbuh begitu saja. Semua melalui proses panjang dan kerja keras.

Ke lima: harapan yang kuat

Harapan yang kuat adalah suatu hal mutlak dalam kerja dan perjuangan. Tentunya perjuangan untuk mencapai sukses. Harapan ini harus terus digemakan dan dihidupkan. Dalam pertandingan semalam, Barca hampir tidak bisa bergerak dalam sembilan menit awal. Tetapi karena harapan kuat yang memberi ketenangan pasti, membuat Etoó mampu mengoyak jala MU di menit ke sepuluh. Suatu harapan yang mendatangkan ketenangan dan penguasaan diri untuk berjuang efektif meraih hasil. Gol Etoó ini menggedor tanpa henti semangat juang El Barca. Jadi, dalam keadaan sulit apapun, dalam situasi terjepit, tetaplah menjaga nyala api harapan.

Ke enam dan terakhir: kerendahan hati.

Mungkin kelihatan bahwa kerendahan hati bukan merupakan hal penting dan menarik. Tetapi hanya dengan kerendahan hati, para pemain Barca bisa mendulang sukses berkali-kali. Hanya dengan kerendahan hati mereka bisa mendengar pelatih muda usia Pep Guardiola, (37 tahun) yang merayakan ulang tahunnya pada 18 Januari. Hanya dengan kerendahan hati orang-orang Eropa bisa menggalang kerja sama dengan orang Africa, dan juga dengan orang Amerika Latin. Hanya dengan kerendahan hati, tidak ada perbedaan antara kulit hitam dan kulit putih dan hanya dengan kerendahan hati semua merasa saling membutuhkan, saling memberi dan saling menerima menuju sukses. Dan sukses itu terjadi di stadion Olimpico – Roma –Italia.

Tiga gelar: kenyataan sebuah perjuangan
Tiga gelar: kenyataan sebuah perjuangan
[

Roma-Italia: Menyontek catatan surat Santi Pauli

Sambil menyelam minum air. Sambil bermain bola kaki, berpikir tentang Sabda Allah, tapi…. Jangan sebaliknya. Artinya jangan menggunakan waktu merenungkan Sabda Allah, Kitab Suci, untuk asyik bermain sepak bola. Oke-oke saja. Semuanya baik, tidak mengapa. Kalau bermain bola pada saat meditasi, anggap bermain bersama pimpinan kapten kesebelasan kita: Yesus Kristus. Tapi…. Sekarang yang mau saya katakan adalah mengapa di Roma, mengapa pertandingan itu diadakan di Roma.

Roma adalah kota besar, sebut saja kota tujuan banyak peziarah dunia. Roma juga disebut “la ciudad eterna”, kota abadi. Di Roma, Barca mencatat namanya dan nama para pemainnya dalam lembaran sejarah abadi. Namun, di balik semua itu, apa kata Santo Paulus dalam pesan tertulisnya kepada orang-orang Roma:
Saudara-saudaraku yang terkasih, sebab aku yakin, bahwa penderitaan zaman sekarang ini tidak dapat dibandingkan dengan kemuliaan yang akan dinyatakan kepada kita. Sebab dengan sangat rindu seluruh makhluk menantikan saat anak-anak Allah dinyatakan.Karena seluruh makhluk telah ditaklukkan kepada kesia-siaan, bukan oleh kehendaknya sendiri, tetapi oleh kehendak Dia, yang telah menaklukkannya, tetapi dalam pengharapan, karena makhluk itu sendiri juga akan dimerdekakan dari perbudakan kebinasaan dan masuk ke dalam kemerdekaan kemuliaan anak-anak Allah. Sebab kita tahu, bahwa sampai sekarang segala makhluk sama-sama mengeluh dan sama-sama merasa sakit bersalin. Dan bukan hanya mereka saja, tetapi kita yang telah menerima karunia sulung Roh, kita juga mengeluh dalam hati kita sambil menantikan pengangkatan sebagai anak, yaitu pembebasan tubuh kita….. ……………………………………………………………………..Tetapi dalam semuanya itu kita lebih dari pada orang-orang yang menang, oleh Dia yang telah mengasihi kita. Sebab aku yakin, bahwa baik maut, maupun hidup, baik malaikat-malaikat, maupun pemerintah-pemerintah, baik yang ada sekarang, maupun yang akan datang,atau kuasa-kuasa, baik yang di atas, maupun yang di bawah, ataupun sesuatu makhluk lain, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.

Apa yang yang dapat kita petik dari pesan Santo Paulus ini?
Surat Paulus ini menyatakan suatu keyakinan amat kuat dari “orang Tarsus” ini akan kasih Kristus. Ia, dalam akhir bab delapan ini mau menggugah hati kita untuk tidak berputus asa alias selalu berharap teguh pada kasih Kristus. Sekalipun ada berupa krisis dan kesulitan, jangan putus asa. Berharaplah pada Allah, berharaplah pada Kristus. Berjuang dan jangan berhenti berjuang selama hayat di kandung badan. Ingat….lagu yang dilantunkan penyanyi remaja almarhumah Nike Ardila: Dunia ini panggung sandiwara ¿???? Dunia dan hidup ini adalah panggung sandiwara. Mari kita bermain cantik dalam kerja sama indah dengan sesama saudara dalam perjuangan hidup ini. Tetapi satu hal teramat penting… jangan mempermainkan kehidupan. Salam…..

John Lebe Wuwur.