MENGGUGAT “RASA ENAK” DAN “KEBAHAGIAAN”

Suatu hari di Santuari San Antonio de Padua Urkiola
Suatu hari di Santuari San Antonio de Padua Urkiola

Mahatma Gandhi, adalah nama yang tidak asing bagi manusia sejagad ini. Ia seorang Asia yang agung. Ia penganut Hindu tulen, namun tidak menolak kehadiran Injil dalam kehidupan-Nya alias terbuka terhadap ajaran Kristus. Mahatma, The Great Soul itu, begitu tertarik dengan “Kotbah di Bukit”. Bisa dilihat, bahwa ajaran ahimsa, jalan tanpa kekerasan, adalah buah refleksinya pada Kotbah Yesus di Bukit. Lalu apa sebenarnya rahasia “Kotbah di Bukit” itu?

Kotbah Yesus ini sebenarnya hanya sepotong kalimat namun menunjukkan dan meringkaskan segala apa yang akan dikatakan selama hidup public-Nya. Suatu tekanan penting di sini adalah keterangan tempat: gunung. Gunung dipilih menjadi tempat berkotbah Yesus. Dalam kitab-kitab Perjanjian Lama, dikisahkan bahwa Allah, demikian dapat kita baca, menampakkan diri-Nya kepada umat dari atas gunung. (Sebagai contohnya, dapat dilihat kisah gunung Sinai, gunung Horeb dll). Keterangan tempat ini menunjukkan bahwa pesan yang disampaikan Yesus ini amat penting; perlu didengarkan dengan seksama.

Kita melihat juga pemakaian kata. Kata yang paling banyak digunakan dalam kotbah ini adalah: BERBAHAGIA. Kata ini yang mendapat suatu tekanan penting. Kata BERBAHAGAIA dan arti kata ini yang disebarkan dan diusahakan Yesus. Kata ini pula, BERBAHAGIA atau TERBERKATI , yang dicari semua manusia.

Hanya perhatikan baik-baik, yang buruk bagi banyak orang di zaman ini adalah kekeliruan bahkan kesalahan menangkap dan menerjemahkan serta mempraktekkan kata BERBAHAGIALAH. Bagi segelintir orang-orang posmodern, jalan KEBAHAGIAAN yang ditawarkan Yesus dirasa teramat jauh dari impian dan cita-cita mereka. Lihat saja ciri ekonomi rumah tangga kita dipenuhi dengan pengaruh budaya “Light”. Buktinya…., bongkar di kulkas-kulkas yang ada di rumah orang-orang zaman ini, maka yang ditemui adalah “light drink, light food, light meat, light milk, light coffee”. Semuanya terkesan enak, namun nikmat sesaat. Enak sesaat, rasa senang diharga sama seperti sebuah kebahagiaan. Kebahagiaan yang sebenarnya menempati dasar hati manusia digantikan oleh suatu rasa nikmat atau enak sesaat. Dengan demikian, kita mau menggugat hati manusia posmodern bahwa “yang enak-enak sejenak” itu harus dicabut dan digantikan dengan sebuah kebahagiaan yang lebih bertahan dan bermakna. Memang benar, manusia adalah makhluk yang selalu mencari rasa aman dan pasti. Apakah kepastian dan keamanan itu dicapai? Barangkali ya. Tetapi tidak sedikit manusia-manusia posmodern yang didera depresi, gejala rasa ketakpastian dan keamanan manusia dari dalam hati, dari dalam inti keberadaannya. Kepastian dan keamanan “semu” yang dicari, diangan-angankan dan dibanggakan itu sepertinya tidak berdaya di hadapan ketidakberdayaan ontologis manusia. Manusia memang rapuh dari dalam, dari dasar, dari asasinya jika hanya mengandalkan sekadar kekuatannya sendiri.

Dalam hal ini, Yesus tahu dengan baik rahasia kelemahan manusia itu. Karena itu, Yesus memberikan tawaran lain: BERBAHAGIA dalam kaca mata ilahi. Mungkin sepintas kelihatan tawaran Yesus ini kering dan tidak membangkitkan semangat; alias non sense bagi orang-orang yang lebih bersandar pada olah ratio. Namun pesan-pesan BERBAHAGIALAH ATAU TERBERKATI dari kotbah di bukit ini penuh dengan warna dan dinámica kehidupan. Dalam hubungan dengan ini, kita melihat bahwa Yesus memiliki pribadi yang bebas dan bahagia. Ia dengan amat meyakinkan mau mengatakan bahwa hanya pada, dalam dan melalui Dia terdapat kehidupan, kepastian, keamanan dan kesejahteraan. Keyakinan ini mencermikan Identitas Yesus yang kaya cinta dan harapan akan suatu kehidupan dari kedalaman hati-Nya. Kehidupan yang muncul dari suatu keyakinan batin yang teguh. Kehidupan yang merupakan anugerah terbesar, yang diikuti anugerah berikut: iman. Iman dan kehidupan adalah karunia, rahmat dari Allah yang ditaruh dalam dalam inti keberadaan manusia. Kehadiran Yesus yang meyakinkan, yang menghidupkan dan yang mengimani itu diperkuat dengan kata-kata dan tindakan-Nya. Berpaling kepada Yesus atau bercermin pada pribadi Yesus adalah cara paling tepat untuk menerjemahkan pesan penting BERBAHAGIALAH dalam hidup kita masing-masing. Manakah yang kita cari? Kebahagiaan abadi dan asasi atau “light culture”?

John Lebe Wuwur

Lakua-Pais Vasco – España