MAKAN JAGUNG TITI DI NEW YORK, AMERIKA SERIKAT

Mengolah jagung titi dalam kesederhanaan
Mengolah jagung titi dalam kesederhanaan

Mungkin orang akan berpikir macam-macam tentang judul kisah ini, Jagung Titi di New York, USA. Ini kisah nyata bahwa saya atau kami sarapan pakai jagung titi. Jagung titi ala Amerika memang lain, agak lebih ringan dan lebih gurih. Soal rasaya? Tentu beda dong. Bagi saya, Jagung Titi Flores-Lembata masih lebih enak ketimbang jagung titi produk pabrik-pabrik Amerika dan Eropa.

Menpersoalkan Jagung sebagai makanan tingkat tinggi

Pernah saya berdiskusi tentang jagung sebagai makanan. Menurut saya, di Flores, jagung dianggap sebagai makanan kelas dua. Beras lebih diutamakan. Saya kira hamper semua orang Flores dan Lembata sepakat dengan pendapat saya ini. Teman saya, sebut saja Robert bahkan lebih tegas. Ia pernah berkelakar:
“Kawan, supaya engko tau e, untuk kami di Flores, jagung itu makanan kuda”.
“Wahhh, ruar biasa ya….”.
“Jagung itu makanan untuk kuda, babi dan unggas, tau”. Beliau beri penjelasan tambahan. Mungkin ia berpikir saya tidak percaya akan pernyataannya. Lalu ia lanjutkan.
“Supaya lu tau lagi, kami punya kuda tu banyak. Maka perlu jagung juga.”
“Di mana kuda yang banyak itu?” Tanya saya, sambil membayangkan bahwa kudanya sama banyak dan sama kualitasnya sama kuda calon wakil presiden RI, Prabowo.
“Oh… kuda kami sih banyak. Karena terlalu banyak, kami lepas saja di padang. Itu di bukit-bukit sana, biar mereka hidup bersama dengan Komodo dan buaya”. Jelasnya dengan penuh semangat.
“Oh begitu. Lalu kalau nanti kuda mau makan jagung, gi mana tu?”
“Oh.. itu sih gampang. Biarkan saja mereka masuk kebun, makan batang sekaligus buah jagung. Sudah itu, mereka bebas berkeliaran. Habis perkara”.

“Ok. Ok,… saya mengerti. Saya paham. Manusia tanam jagung, kuda yang petik. Hheeeee”.

Kalau berbicara tentang jagung, konsep kita mungkin masih sama seperti diskusi kami di atas. Jagung tidak punya arti. Hanya jangan kaget, kalau di tempat lain, jagung dihargai sebagai makanan tingkat tinggi. Ya tergantung bagaimana mengolahnya.

Dinner dengan jagung rebús di New York

Suatu hari di bulan Agustus tahun 2008, saya makan malam (dinner) bersama beberapa Monsiñur di New York. Saya memang merasa agak canggung, seorang pastor kecil, , dari Indonesia apalagi dari Lembata di sudut laut Sawu sana, harus duduk dengan Monsinur-monsiñur di kota New York. Saya piker, apa yang akan dibicarakan nanti. Pasti yang paling banyak pembicaraan berkutat pada soal pemilihan presiden AS; soal Barrack Obama dan Hilary Clinton vs John Mc Cain dan Sarah Palin. Soal lain, mereka pasti datang dengan pakaian kebesaran persis para cardinal dan sebagainya. Jam yang ditunggu pun tiba. Apa yang terjadi? Mereka datang tanpa embel-embel seorang Mgrs. Mereka mengenakan pakaian biasa, seperti orang lain. Bahkan segera setelah tiba di pastoran, mereka mulai bagi tugas. Yang satu ke toko buah, yang satu ke toko minuman, yang lain, memasak dan yang lain lagi mencuci alat-alat masak dan alat-alat makan. Wah…. Saya pikir …. Soal ini menjadi amat menarik. Mereka menjadi contoh dalam melayani. Karena apa, di gereja mereka tampil penuh wibawa dalam pakaian kebesaran, sebagai seorang pemimpin. Hanya sekarang lain. Mereka bekerja, memasak dan mencuci seperti biasa. Rasanya, jadi teman di antara mereka.

Kembali ke topik jagung. Ketika makanan sudah siap di meja, untuk dinner (untuk orang Amerika makan malam adalah waktu makan utama, kalau kita di Indonesia, makan siang yang jadi santapan utaman), pikiran saya jadi bingung. Koq ada jagung. Jagung rebús lagi. Wah,… ini kembali ke kampung ini. Saya ikut makan. Piring pertama, sayuran segar. Selesai. Piring kedua, kentang bakar berukuran besar dengan sayuran rebus kacang panjang. Kalau kentangnya cukup besar, ukurannya hampir sama dengan ubi kayu atau singkong. Piring ke tiga, daging ayam. Sorry, ayam bukan satu potong, tetapi satu orang satu ekor. Plus, anggur merah merk Italia. Setelah piring ketiga, yakni daging ayam disantap, giliran untuk menyantap buah atau istilah para ibu, desert. Tunggu punya tunggu tak ada buah yang muncul. Apa yang terjadi? Ternyata, jagunglah yang menjadi menu terakhir. Jagung rebús yang terlihat tadi, ternyata dijadikan makanan penutup. Dalam hati saya bertanya, “gi mana ya rasanya, jagung yang direbus para Monsiñur?”. Saya coba mengigit sedikit jagung rebús itu, rasanya manis, enak dan lembut. Pikiran saya bernostalgia ke Lembata, “Ohhh.. ini yang mungkin disebut jagung pulut. Habis warnanya putih dan rasanya agak manis dan enak. Tapi ini pasti dari bibit unggul. Habis bijinya dan batangnya besar-besar sih”. Jagung tetap saya nikmati, sambil pikiran saya beberapa kali terbang kembali ke Lembata. Lalu jagung yang lain???? Kami makan satu-satu batang lagi. Jadi para Monsiñur dari keuskupan Brooklyn, New York, USA itu, makan dua batang jagung rebús di malam itu.

Setelah makan malam, semua berkumpul di Kapela mendaraskan doa malam. Kemudian para Mgrs itu kembali ke penginapan masing-masing. Saya terus memasang alaram dan mengaktifkan pengaman di sudut-sudut Gereja dan pastoran (wajib dilakukan di Amerika). Saya kemudian menyetel tv dan menikmati acara American Idol yang hampir mirip Indonesian Idol. Saya pikir, orang Amerika yang meniru Indonesian Idol atau sebaliknya. Ahhh….. tidak terlalu penting berpikir tentang itu. Saya tersenyum sendiri membayangkan ketololanku menganggap bahwa jagung itu makanan yang tidak punya arti. Padahal, di kota paling besar di dunia, di pusat ekonomi sejagad, jagung begitu dinikmati. Saya tidur tanpa mimpi apa-apa. Tapi saya tahu pasti bahwa besok pagi ada Jagung Titi ala Amerika untuk sarapan pagi dan secangkir kopi susu. Saya juga tahu, bahwa Mgrs. Perfecto Vasques, seorang Spanyol, akan menyantap sarapan yang sama dengan apa yang saya santap. Jagung…. Di New York. Oh… wata biti: jagung titi dalam bahasa Lamaholot di Flores Timur dan Lembata. Adios compadres.

John Lebe Wuwur