Lizets Minati

Seorang gadis America pada pesta Bunda Maria di Vitoria-Spanyol
Gadis America pada pesta Bunda Maria di Vitoria-Spanyol
Lizets Minati, gadis cantik, tinggi, menguasai bahasa Spanyol, Inggris dan Yunani mengemudikan mobil itu dengan lincah membelah keramaian senja kota New York. Kami tenggelam dalam dialog serius. Tentang kerja, tentang apa yang akan kami lakukan dan sebagainya. Ah… ia ternyata seorang psikolog. Spesialisasinya di bidang pendidikan anak-anak. Ia psikolog anak-anak. Kerja yang cukup memberi jaminan bagi orang-orang America.

Lizets, gadis berdarah Yunani-Ecuador, berkewarganegaraan Amerika Serikat itu membawa saya menuju “Rumah Kedukaan” (Funeral Home). Saya diminta untuk memimpin kebaktian (Wake), tradisi orang Amerika, sebelum misa pemakaman besok. Alm. Hendry John Andrews (66 tahun), adalah alasan mengapa Lizets mengenal dan berkenalan dengan saya. Saya kemudian memimpin ibadat dalam bahasa Inggris dengan sebuah renungan singkat. Lalu, membereskan urusan di kantor Funeral Home tersebut. Untuk diketahui, di Amerika, jenazah tidak disimpan di rumah penduduk. Jenazah di dandan dan disemayamkan di Funeral Home, lalu semua sanak famili dan sahabat kenalan datang menjenguk. Kelihatan hampir tidak ada rasa duka. Ada gelak tawa, ada banyak bunga, ada banyak kursi dan jangan heran, musik diputar lembut.

Saya tanya: “Lizets…apakah kalian tidak merasa berduka? Kelihatan kamu semua hanya tertawa-tertawa, tidak ada yang menangis dan pokoknya senang aja begitu”.

“Father John…. As you know. It´s a painfull thing. Kami tertawa, kami berbicara, tetapi di dalam hati kami, kami menangis. Di dalam hati, tersimpan duka yang mendalam. Hanya kami menutupi semuanya itu dengan senyum. Dan lebih penting, seperti kebanyakan kotbah pastor,…. Kami coba kuat karena iman. Iman yang menguatkan dan yang mengajarkan bahwa… semuanya tidak berakhir di sini. Iman….yang beri kami harapan di hati yang lagi menangis”.

“Ok…. Lizets. Be ease. Tranquilla mujer…. You lihat…. Kita sudah salah jalan. Ini bukan jalan menuju Queens Boulevard. Soriii, kita terlalu asyik berbicara”.

Lizets terkejut. Tapi ia masih bisa mengendalikan dirinya. Ia kemudian mengeluarkan GPS-nya dan mengandalkan GPS sebagai penunjuk jalan menuju pastoran tempat tinggal saya.

“Ok… Father, good night. See you tommorow”. Sapa Lizets akrab. Sebelum ia memacu kendaraannya pulang, saya nasihatkan ia mengendarai dengan pelan dan santai aja. Juga saya meminta agar besok ia bisa melayani misa menjadi lektor dan pengantar persembahan.

“It´s easy Father. Doesn´t matter. I did it in the university. I will do it tommorow”.
“OK…. Good night. God bless you this night, Lizets”.

Saya lalu menuju lantai tiga, singgah sebentar di meja piket. Mengambil novel berjudul “The Alexandria Link” dan membacanya semalam ini. Kisahnya tentang pergolakkan dan permasalahan kekal abadi, Jerusalem-Palestina. Semoga ada damai. Chao.