RIGHT OR WRONG MY COUNTRY

Bandera de mi Patria

Rasa bangga sebagai anak bangsa…. Ah…pastor karmelit bisa berbicara seperti itu? Mana ga bisa…. Lihat dan baca baik-baik semboyan Karmelit yang dicetuskan Bapak “penganjur” Karmel, Nabi Elia: Zelo zelatus sum pro domino Deo excercituum. Artinya, aku memiliki semangat juang tinggi bagai bala tentara Allah yang maha tinggi. Nah… dari sini, ada ide bahwa menjadi Karmelit tidak harus terlepas dari kebangsaaan dan kewarganegaraannya. Bahkan Karmelit sejati adalah Karmelit yang terus menggali semangat cinta akan bangsa dan negaranya. Artinya, dengan semboyan Elia di atas, seorang Karmelit siap sedia untuk bekerja demi kemajuan bangsa dan negarannya.

Kalau di lihat anggota Karmelit bangsa lain, mereka juga amat nasionalis dengan negaranya. Salah satu contoh, Beato Titus Brandsma, pastor Karmel asal Belanda, wartawan terkenal dalam era Nazi, yang tidak mengenal kata takut terhadap rezim kejam Adolf Hitler itu. Titus Brandsma berani menulis dan mengeritik sepak terjang Nazi yang tidak berperikemanusiaan. Akibatnya, sudah jelas. Ia ditangkap dan nyawalah yang menjadi taruhan.

Kalau dari pihak Suster Karmel? Oh… ada banyak Suster Karmel yang amat mencintai negara dan bangsanya. Sebut saja, Ibu Teresa de Ävila. Ia amat mencintai Spanyol. Ia menghabiskan waktunya untuk turut membangun masyarakat Spanyol di zamannya. Di Ávila, pada bulan Oktober, segenap warga kota Ávila merayakan hari pesta Santa Teresa sebagai seorang pahlawan. Puisi-puisi dan renungan-renungannya dibacakan dan diulas dalam misa dan seminar-seminar. Puncaknya, pada tanggal 15 Oktober patungnya diarak secarah meriah oleh pasukan militer bersenjata, pelbagai pasukan drum band dan masyarakat. Malamnya, masyarakat disuguhi pesta kembang api di Plaza de la Santa. Lain santa Teresa lain pula Santa Edith Stein.

Santa Edith Stein adalah putri Karmel, keturunan Yahudi yang menjadi warga negara Jerman. Ia juga pernah terjun ke medan perang, namun bukan sebagai prajurit yang menenteng senjata. Ia memilih menjadi bagian dari pasukan Palang Merah dan membantu merawat prajurit-prajurit yang terluka. Waktu itu beliau baru saja menyelesaikan tesis doktornya di bawah asuhan filsuf kondang, Edmund Husserl. Teman-temannya, Martin Heidegger, Adolf Reinach, dll. Dalam perang itu, beberapa mantan rekan mahasiswanya terpaksa terjun ke medan perang. Melihat hal itu, Edith pun tidak tinggal diam. Ia membantu di bagian Palang Merah tadi.

Perang usai, Edith memilih mengajar dan memberikan seminar-seminar. Dalam masa itu, ia berdiri dalam dilema penting di inti jati dirinya. Ia berpikir, mau menjadi penganut protestan atau katolik. Suatu malam, ia mengunjungi rumah sahabatnya yang protestan. Sahabat protestannya ini menyimpan buku LA VIDA karangan Santa Teresa. Edith kemudian membaca habis buku tersebut dalam satu malam. Keesokan paginya ia berkeputusan: Saya menjadi Katolik.

Ia lau memutuskan menjadi biarawati Karmel. Salah satu motivasinya adalah: karena cinta akan bangsa dan negaraku. Bangsanya Yahudi dan negaranya Jerman. Ia memang hidup di Biara Karmel, tetapi tentara Nazi tetap saja mengendus keberadaannya. Terakhir, Edith harus menyerahkan diri, dihantar ke Auswitch, menderita penganiayaan dan wafat di ruang gas beracun. Sebelum dimasukkan ke dalam ruang gas beracun, Sr. Edith coba untuk tabah melayani anak-anak yang ditelantar ibu-ibu mereka lantaran putus asa di ambang kematian.

Inilah beberapa kisah heroik orang-orang Karmelit yang tidak melupakan bangsa dan negaranya. Bagaimana dengan kita yang hidup dewasa ini?

Karmelit America, (saya sedang berada di Amerika Serikat), kalau menyanyikan atau mendengarkan lagu kebangsaan Amerika Serikat, serentak berdiri dan tangan kanan mendekap jantung. Artinya, Amerika, bagi mereka sama saja dengan jantung mereka. Amerika is my life. Begitulah kira-kira spirit mereka. Kalau orang Italia? Mereka juga akan bernyanyi keras-keras ketika lagu kebangsaan diperdengarkan. Karmelit di Spanyol? Mereka akan selalu bersulang, “por amor de mi patria y querida tierra, España”. Demi cintaku terhadap bangsa dan tanahku tercinta, Spanyol. Lalu… bagaimana dengan Indonesia? Apakah ada semangat kebangsaan buat kita? Apakah ada cinta akan tanah air, bangsa dan negaraku? Right or wrong, my country. Ingat, Yesus pun mencintai bangsanya dan tanah air-Nya.

John Lebe Wuwur
50-20 45TH STREET
WOODSIDE, NEW YORK 11377
United States of Amecika