KATOLIK vs YAHUDI

996e4a4d44dbf10ab3808ab8bfab491d

Sore itu saya duduk sendirian di kamar makan. Sambil membaca harian New York Times, saya menunggu Ny. Blanc menghantar makan malam saya. Maklum. Sebagai pastor pengganti di musim panas, saya harus hidup sendiri. Pastor-pastor lain sedang menikmati liburan mereka. Jadi jelas, mereka tidak ada di tempat. Setelah menunggu seperempat jam, muncul Ny. Blanc lengkap dengan hidangan malam buat saya, seekor ayam panggang, kentang rebus, kol bunga rebus dan segelas anggur merah.

Saya lalu dipersilahkan makan. Saya makan. Tapi saya keberatan untuk sendirian makan seekor ayam panggang besar. Maka, saya mohon agar Ny. Blanc juga ikut makan. Mulanya ia menolak, namun karena desakan saya, maka beliau pun turut makan.

Ny. Blanc adalah perempuan berdarah Cekoslovakia, berkewarganegaraan Amerika Serikat. Suaminya seorang pebisnis hebat. Suaminya juga pria keturunan Cekoslovakia. Keduanya telah pensiun dari kerja mereka. Lalu mengapa memasak di pastoran para pastor?

“Pastor…saya bisa bekerja di mana saja. Saya masih bisa bekerja di kantor tetapi saya memilih memasak untuk para pastor sebagai kerja cinta kasih saya. Saya menganggap, pastor-pastor adalah anak saya sendir.” Demikian, alasan Ny. Blanc ketika saya bertanya tentang kegiatannya memasak di pastoran.

“Apakah dibayar?”
“Hiiii….. Saya cukup hidup dengan gaji pensiunan saya. Suami saya pensiunan bisnis kelas kakap. Kami hidup berkecukupan. Memasak di pastoran ini, sekali lagi, hanya sebagai kerja cinta kasih”.
“Walah…..hebat la”…. Bathin saya dalam hati.

Tapi mengapa bisa seperti ini?

“Pastor kenal orang Yahudi?”
“Tidak. Why?”
“Ada sesuatu yang positip dari orang Yahudi. Kita orang Katolik kalah jauh bila dibandingkan dengan orang mereka”.
“Apa itu?” Tanya saya penasaran.
“Look…. Mereka itu punya rasa persatuan yang amat kuat. Kita….orang Katolik hanya sebatas lips service saja. Hanya sebatas “credo” hari Minggu, lalu selesai. Sementar….orang Yahudi mereka sungguh-sungguh saling membantu”.
“Orang Katolik juga punya rasa persatuan kuat kok”. Bantah saya.
“Pastor….. Orang Yahudi itu, kalau tahu bahwa sesama Yahudinya lagi kekurangan, ia akan membantu sebisa mungkin. Apa pun yang terjadi, ia akan sangat memperhatikan sesama Yahudinya”.

Kami diam sejenak. Saya tuangkan anggur dalam gelas Ny. Blanc, biar bicaranya semakin semangat. Lalu ia tambahkan.

“Suami saya bekerja di perusahan orang Yahudi. Dan sebenarnya, perusahaan-perusahaan tingkat global itu dikuasai oleh orang Yahudi. Mereka menempati posisi-posisi penting dan kunci. Kita lain…… kere. Kita seumpama hanya ikut mencicipi dari bocoran-bocoran pipa bisnis global ini”.

“O….begitu ya”.
“Ya…jadi…suami saya juga begitu. Walaupun, kelihatan gajinya besar, hidup kami berkecukupan, tetapi, itu baru kami dapat dari “bocoran” Yahudi. Alasan utama itu, mereka saling bersatu, saling dukung mendukung, saling tolong menolong. Itu kelebihan mereka. Di tambah….Tuhan memberi kemampuan intelektual yang tinggi. Rata-rata kemampuan berpikir orang Yahudi dapat disebut: brilliant”.

Saya menyelesaikan porsi ayam goreng saya. Sementara itu si Nyonya masih berceloteh.
“Orang Yahudi berpikir baik, berpikir keras dan logis karena sudah dididik dari kecil untuk berefleksi. Ingat, Kitab Suci kita berakar pada Kitab Suci Yahudi, Torah. Anak-anak Yahudi dididk berdasarkan pesan pada Kitab Ulangan: ajarkan Kitab Suci ini, ketika di jalan, ketika sibuk bahkan ketika kamu tidur. Karena itu….orang Yahudi sudah dididik untuk kuat berpikir, berefleksi dan bermenung.Jangan heran….hasilnya, mereka menjadi pencetus banyak teori. Mereka juga penghasil banyak doktor. Dan perhatikan, mereka bisa menguasai banyak bahasa”.

“Jadi….itu kelebihan mereka. Mengapa kita tidak?
“Kita tidak karena, kita kurang belajar dan kurang bersandar pada Kitab Suci. Kalau kita sandarkan hidup pada ajaran Kitab Suci maka, cukuplah kita hidup dengan prinsip ini: Berbuat benar dan baik. Semuanya pasti beres, kalau kita berjalan pada ajaran Kitab Suci: Berbuat benar dan baik”. Demikian pesan Ny. Blanc. Semoga bisa dipraktekan.

“Thank you so much, for the delicious dinner. May God bless you, Mss. Blanc”.

2 pemikiran pada “KATOLIK vs YAHUDI

Komentar ditutup.