SEMALAM DI WASHINGTON DC

Tampak depan Biara OCD Washington DC
Tampak depan Biara OCD Washington DC

Hari Minggu, tanggal 6 September tahun 2009. Setelah memimpin misa pertama, sarapan dan bereskan kamar. Terus menenteng komputer dan sebuah ransel, menuju stasiun subways “St. Bliss” di daerah Green Points Queens, Sunnyside – New York. Kereta nomor tujuh saya pilih menuju Pensylvania Station, dekat dengan Times Square Garden, di down town Manhattan, New York. Dari sana, saya ambil bis paling murah menuju Baltimor dan Washington. Menarik….. Mengapa pilih bis murah? Kan ada Kereta Api cepat dengan ruangan kelas kayak pesawat terbang? Tanya Mgr. Herron, pimpinan saya di New York. Saya beralasan, kalau Kereta Api sih cepat, hanya kebanyakan lari dalam tanah. Nah…. Bis kan lain. Agak lambat, tapi kita bisa menikmati keindahan alam antara New York, Baltimor dan Washington. Alamnya indah? Tentu saja dong….. Amerika Serikat koq mau dilawan. Alamnya amat hijau dan udaranya amat segar, sekalipun kita masih berada dalam musim panas. Heeee…. Mengapa bis murah? Bisa ditebak, di mana ada saudara-saudari China, di situ ada sesuatu yang murah. Tetapi jangan bilang yang murah itu tidak punya kualitas. Tergantung, bagaimana kita melihatnya. Bis murah itu berangkat tepat waktu dan tiba juga tepat waktu. Malah….ada satu kelebihan.

Gi mana kelebihan itu? Lihat, ketika saya kesulitan mencari alamat Biara Carmel OCD di Washington, saya dibantu. Ini “Baba China Amerika” membantu saya menemukan Biara saya. Ia menelpon alamat biara yang saya berikan dan bersama saya menunggu jemputan. “Telima kasih ya Om Baba”. Dengan bantuannya saya bisa dijemput Frater Michael dari pemberhentian bus di Km 610. Itulah kelebihan “orang Asia” yang pasti akan peduli kepada sesama. Sosialitasnya teramat tinggi, semoga Tuhan memberkati jaza baiknya.

Seterusnya, Bro. Michael membawa saya ke Biara. Ternyata Biara OCD Washington terletak di pinggir salah satu Kuburan di Kota Washington. Mungkin…. Di sana ada kesunyian bersama mereka yang tidak bisa bersuara lagi heheeeeeee… Setelah meletakkan barang bawaan saya, Bro. Michael memperkenalkan saya pada Fr. David of St. Josef and Mother of God, Fr. Gregory (dari Malaysia, propinsi Singapura), Fr. Mark (Prior), Bro. Anthony (sudah agak pikun) dan Fr. Thomas (dari Kenya). Lalu, sambil bercakap-cakap dengan P. David dan P. Gregory, saya mengambil makan malam saya. Kebetulan, nasi, cerizo (masakan Spanyol), jagung dan sayuran wortel). Semuanya hasil masakan P. David.

Dari kamar makan, saya di hantar untuk mengenal bagian-bagian penting biara. Ada hal yang menarik. Di ruang kerja P. David, ada sebuah buku tentang Tenun Ikat Tradisional Flores dan Solor. P. David, setelah menyelesaikan doktornya, mendalami lagi seni tenun di salah satu universitas di New York. Beliau amat ahli dalam soal “perkainan” dan “pertenunan”. Menurut beliau, mengapa buku tentang tenun ikat Flores dan Solor itu ia beli? Karena, menurut para ahli, salah satu kualitas tenun terbaik di dunia ada di Flores dan Solor. Haaaaa….. Pater jangan begitu ka…. Saya katakan padanya, tentu dalam bahasa Inggris campur Spanyol. Lalu dia jelaskan, bahwa Flores itu punya kekhasan tenun di daerah Ngada, Riung, Ende dan Maumere. Terus dia jelaskan tentang gaya khas menenun dari Solor, Adonara dan Lembata dan terus ia pamer pengetahuannya tentang tenun Sumba dan Timor.

Pater…. Apakah Pater pernah ke Indonesia dan ke Timor dan Flores. “No, no. This book, this book: GIFT OF THE COTTON MAIDEN – Textiles of Flores and The Solor Islands, have made me mad for your country. It was written by an American, ROY W. HAMILTON”.
“Oh yea…. I will be very happy if one day you can visit Indonesia. ”
Sure, I promise”.
Ok…. May God grant our wishes. God bless you, God bless America and also God bless Indonesia. Have a good night”.

Ku tutup hari ini di kamar nomor 203 di Biara Karmel OCD Washington, USA. Thanks dan praise be God, for ever and ever. Amen.

The Book: Gift of the Cotton Maiden:  Textiles of Flores and The Solor Islands
The Book: Gift of the Cotton Maiden: Textiles of Flores and The Solor Islands