PATER DAMIAN: SANG GEMBALA DI PADANG MARONGGELA

Sang Gembala: P. Damianus L. Lengary, OCD
Sang Gembala: P. Damianus L. Lengary, OCD

Di copy paste dari Kompas, 24 September 2009.

Luasnya padang rumput bukit Poso di Maronggela tak lagi terlihat hijau. Namun, dengan ketelatenan, kawanan ternak sapi ras Bali di sana bisa berkembang biak dengan baik.

Dari jumlah awal 50 sapi tahun 2007, hingga saat ini telah berkembang menjadi 110 ekor. Pengembangan dan penggemukan sapi itu dilakukan lewat program Lembaga Mandiri yang Mengakar di Masyarakat (LM3) di Kampung Maronggela, Desa Wolomeze, Kecamatan Riung Barat, Kabupaten Ngada, Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur.

Di Maronggela yang letaknya sekitar 75 kilometer sebelah utara dari kota Bajawa, Ngada, itu telah berdiri tarekat Katolik tahun 2000, Seminari atau Biara Karmel (OCD) St Edith Stein.

Biara Karmel tahun 2007 memperoleh dana hibah LM3 dari Departemen Pertanian Rp 290 juta. Sesuai dengan potensi alam setempat, yaitu padang sabana luas, pihak biara kemudian mengelola peternakan sapi.

Sebagian dana LM3 itu digunakan untuk membeli sapi dari warga setempat 50 ekor di samping untuk pembuatan kandang pagar yang meliputi lahan peternakan seluas 100 hektar, ruang pertemuan, sepeda motor, seperangkat komputer untuk kegiatan administrasi dan pembukuan, serta biaya 3 tenaga kerja. ”Sebelum kami memperoleh dana LM3, sebenarnya kami sudah memelihara 20 sapi. Namun, berhubung pola yang diterapkan waktu itu seadanya, hasilnya pun kurang bagus. Jumlah sapi dari tahun ke tahun berkurang menjadi sekitar 17 ekor karena dicuri. Lewat program LM3, pola yang diterapkan lebih intensif menggunakan manajemen modern. Hasilnya pun menggembirakan,” kata Rektor Rumah Biara Karmel Pater Damianus Leang Lengari OCD.

Kecamatan Riung Barat merupakan kawasan potensial ternak. Populasi ternak di Riung Barat tahun 2008 untuk sapi 1.883 ekor, kerbau 1.020 ekor, kuda 1.306 ekor, kambing 731 ekor, domba 32 ekor, dan babi 7.107 ekor. Adapun bebek 79 ekor dan ayam 27.533 ekor. Luas padang sabana di Riung Barat 2.250 hektar dengan kepadatan ternak 2 ekor per hektar.

Namun, warga Riung Barat umumnya masih beternak secara tradisional dengan melepas begitu saja sapi maupun kerbau di padang. Akibatnya, pertumbuhan populasi ternak setempat relatif lambat karena selain rawan pencurian, juga kurang perhatian dari aspek pemeliharaan.

Pemerintah lewat program LM3 lalu menunjuk lembaga agama sebagai pengelola, selain dimaksudkan sebagai proyek percontohan untuk pembelajaran bagi masyarakat, juga pemberdayaan masyarakat agar mereka mandiri.

Sejak peternakan sapi dikembangkan Biara Karmel, sampai kini 15 kelompok tani dari 4 desa di Riung Barat, yaitu Desa Ngara, Lana Mai, Ria, dan Wolomeze, sering melakukan kunjungan.

Pihak biara hingga tahun ini masih fokus pada pembibitan sapi maupun pengembangan pakan ternak. Untuk penjualan ternak, direncanakan baru dilakukan tahun ketiga dengan catatan jika populasinya sudah memadai. ”Yang menjadi kendala ketika populasi ternak makin banyak, pakan ternak kurang.”

Menurut Damianus, salah satu kendala peternakan sapi, misalnya masih maraknya pembakaran liar padang rumput oleh warga. Alasannya, selain untuk berburu rusa dan babi hutan, juga untuk menumbuhkan rumput baru saat kemarau.

Problem lain, kondisi ekonomi warga yang umumnya dari kalangan menengah ke bawah. Sapi bantuan dari Pemerintah Kabupaten Ngada rawan dijual meski dalam usia produktif, biasanya karena tekanan ekonomi.

”Upaya gubernur mengembalikan NTT sebagai gudang ternak nasional memang patut diapresiasi. Namun, program ini tak akan optimal, begitu pula dengan program swasembada daging nasional 2010, jika tak ada gerakan bersama dari semua lini, termasuk pentingnya penegakan aturan dan aspek pengawasan. Jangan sampai NTT disebut sebagai gudang ternak, tetapi ternaknya banyak di Jeneponto,” kata Pater Damianus.

Camat Riung Barat Kosmas D Tagu menambahkan, guna mencegah ternak produktif keluar dari wilayahnya, pengawasan di pintu keluar di Kampung Lampatabi, Desa Ngara, diperketat melalui surat keterangan asal barang.

Yoseph Lengu dan Paulus Mas Muda, warga Maronggela, mengatakan, usulan pemkab mendirikan koperasi bagi peternak serta menambah embung-embung di Riung Barat disebabkan pada musim kemarau warga kesulitan air, sementara ternak juga membutuhkan air.