YANG TERPENTING …. HIDUP

La Rosa de Bajawa
Hari-hari ini kita diselimuti baying-bayang kelam bencana meletusnya Gunung Merapi. Salah seorang yang turut menjadi korban adalah Mbah Maridjan. Mungkin bagi banyak orang kematian seorang Maridjan dan juga kematian begitu banyak korban adalah akibat dari suatu peristiwa gejala alam luar biasa. Namun ada suatu segi yang khusus dari sosok seorang Mbah Maridjan. Ia mati sebagai seorang abdi. Abdi yang setia kepada tugas yang diberikan tuannya, sekalipun bahaya maut menjadi resikonya. Kesetiaan itu, kesetiaan seorang abdi, seorang hamba itu terbayar tuntas, ketika awan panas merapi menerjang tempat “sang abdi Raja Yogyakarta” itu.

Kesetiaan itulah yang mau kita gali dalam refleksi kita. Dalam kitab Makabe, terlukis suatu kesetiaan akan keyakinan tujuh bersaudara plus ibu mereka dirajam dan dipaksa makan daging babi, yang dalam masyarakat Yahudi amat dilarang. Adalah najis makan daging babi. Kita tahu, Yesus dengan keras menghardik setan yang merasuki pribadi seseorang dan menyuruh setan itu masuk ke kawanan babi. Dan babi-babi itu mati. Babi menjadi symbol kenajisan. Karena itu, ketika dipaksa makan daging babi, dengan tegas anak kedua berkata dalam penderitaannya: “Memang benar,Bangsat, engkau dapat menghapus kami dari hidup di dunia ini, tetapi Raja alam semesta akan membangkitkan kami untuk kehidupan kekal, oleh karena kami mati demi hokum-hukum-Nya”. Mereka tetap menolak untuk tetap berpegang pada kesetiaan suatu keyakinan. Mereka tidak mau hanya melayani nilai sebuah rasa nikmat instant yang hilang seketika, mereka menolak demi pandangan spiritual mereka, bahkan lebih dari itu mereka menolak demi penghormatan mereka kepada Allah yang Maha Tinggi.

Kita juga melihat perikop Injil Lukas 20:27-38. Di sana ada dua kelompok dengan pandangan dan keyakinan yang berbeda saling berhadapan. Golongan Farisi meyakini dengan teguh akan adanya kebangkitan setelah mati. Sedangkan Golongan Saduki tidak percaya tentang kebangkitan setelah kematian. Bagi mereka adalah suatu ketidakmungkinan orang mati hidup, tidak ada harapan setelah kematian. Bahkan argument mereka ini dikuatkan dengan mengambil pandangan tokoh besar Musa dengan suatu setting kisah tentang tujuh bersaudara yang bergiliran mengawini seorang perempuan yang sama. Masing-masing berperan sebagai mempelai pria setelah setiap dari saudara mereka meninggal. Satu persatu mereka mati dan mengganti posisi sebagai suami. Persoalan di sini, demikian orang Saduki, salah satu fraksi kaum Yahudi itu, siapa yang akan menjadi suami saat kebangkitan orang-orang mati? Apa jawaban Yesus? Sederhana saja. Jawab Yesus: “Orang-orang dunia ini kawin dan dikawinkan, tetapi orang yang dianggap layak mendapat bagian dalam dunia yang lain itu dan dalam kebangkitan dari antara orang mati, tidak kawin dan dikawinkan”.

Lebih jauh, kita mau katakan bahwa pertanyaan orang –orang Saduki adalah perendahan terhadap esensi sebuah hidup perkawinan. Kisah yang dikarang kaum Saduki hanyalah sebuah kisah murahan untuk membenarkan kesempitan pandangan akan kehidupan yang dibatasi pada pandangan kehidupan material di dunia ini. Padahal manusia bukan hanya materi, bukan hanya badan. Manusia itu makhluk berbadan dan berroh dan berjiwa. Dalam kapasitasnya sebagai manusia yang memiliki badan, roh dan jiwa itu, perkawinan tidak bergantung pada suatu kewajiban menggantikan peran. Perkawinan adalah suatu relasi yang didasarkan pada CINTA. Oleh cinta itu, pasangan yang saling mengasihi, menjadi teman yang sepadan untuk saling bahu membahu menghantar langkah kepada kehidupan setelah kehidupan di dunia ini.

Topic karangan golongan Saduki ini juga bisa menjadi penghinaan kepada mereka yang memilih untuk hidup secara “single” alias tidak menikah. Seolah-olah orang diselamatkan kalau kawin. Padahal kawin atau tidak, merupakan suatu pilihan yang penuh tanggung jawab dalam kehidupan pribadi dan masyarakat. Orang yang single juga memiliki hak sebagai anak Allah untuk berjuang masuk melalui pintu yang sempit kepada persatuan dengan Allah itu sendiri.

Maka, persoalan keselamatan dan kebangkitan setelah kematian bukan soal kawin atau tidak, melainkan soal percaya dan sungguh mencintai Allah dan dalam kesetiaan mempraktekkan cinta Allah itu kepada sesame. Soal di sini adalah, apakah kita sungguh menghidupi nilai tertinggi yang kita yakini, Allah yang hidup dan membangkitkan atau kita terbentur pada jebakan nilai-nilai rendah materi dan kefanaan. Ingat, hidup di dunia ini adalah suatu hidup yang biasa saja. Namun hidup yang biasa itu hanya terjadi sekali. Tidak dua kali kita diberi kesempatan untuk hidup. Mana yang kita pilih, menjunjung nilai tertinggi itu, Allah sendiri atau kita terjerat pada nilai-nilai sekunder. Mari kita pilih.