SANG JANDA MISKIN DAN KITA……

Refleksi CN Tower Toronto Canada

MALEAKHI…..adalah seorang nabi. Nama ini berarti “Inilah utusan-Ku”. Maleakhi sebagai seorang nabi diutus untuk mewartakan pesan Allah kepada masyarakat Yahudi yang saat itu hidup melupakan hokum dan tradisi bijak Yahudi. Kecaman itu ditujukan kepada mereka yang melupakan para yatim piatu dan janda dan orang-orang miskin dan terlantar, sekaligus mengecam perilaku para imam yang tidak berpihak pada Allah, yang lebih senang berlindung dibalik kemegahan dan keindahan sebuah gedung Bait Allah, serentak mengeritik orang-orang kaya yang hidupnya tidak teratur. Dengan jelas ia katakan: “Bahwa sesungguhnya hari itu datang, menyala seperti perapian, maka semua orang gegabah dan setiap orang yang berbuat fasik menjadi seperti jerami dan akan terbakar oleh hari yang datang itu, firman TUHAN semesta alam, sampai tidak ditinggalkannya akar dan cabang mereka”. Suatu peringatan yang amat serius. Kita tahu bahwa api adalah symbol kehadiran Allah. Namun Allah yang membakar di Maleakhi ini berbeda dengan Allah Musa di Sinai. Allah Maleakhi membakar sampai habis, tanpa sisa. Ungkapan kemarahan dan hukuman Allah. Sedang pada Musa di Sinai, Allah hadir membakar namun tidak menghanguskan. Pada Musa, Allah hadir sebagai Allah yang menghangatkan. Menghangatkan bagi orang-orang yang mendengarkan Sabda-Nya,merenungkan-Nya dan mempraktekkannnya. Karena itu selanjutnya, Maleakhi berkata: “Tetapi kamu yang takut akan nama-Ku, bagimu akan terbit surya kebenaran dengan kesembuhan pada sayapnya. Kamu akan keluar dan berjingkrak-jingkrak seperti anak lembu lepas kandang”.

Pernah dalam Sejarah kehidupan bangsa kita, terjadi pergolakkan melawan situasi pemerintahan yang tidak adil. Mahasiswa bergerak meruntuhkan rezim ini, sekaligus menjadi tumbal perjuangan mereka. Mereka menuntut adanya perubahan yang membawa bangsa ini ke arah yang lebih baik, yang lebih adil dan sejahtera. Suara mereka lantang, sekalipun beberapa dari mereka harus merenggang nyawa. Suatu pengorbanan yang luar biasa.

Namun apakah semuanya sudah berubah? Pertanyaan ini mungkin hanya akan mendatangkan banyak penyesalan. Di mana-mana, terjadi ketimpangan dan ketidakadilan. Pemberontakan dan demonstrasi menjadi suatu makan setiap hari bagi pembaca Surat Kabar. Alampun sepertinya tidak ketinggalan menunjukkan gejolaknya. Cuaca ekstrim berubah dengan cepat dari saat ke saat. Bencana dan gempa bumi bukan hal asing lagi. Namun, mengutip Injil hari ini…. Apakah semuanya menjadi tanda bahwa semuanya akan berakhir? Apakah akan ada akhir zaman, akan ada kiamat? Yesus menjawab dalam perikop Injil yang sama ini: “Sebab, semuanya itu harus terjadi dahulu, tetapi itu tidak berarti kesudahannya akan datang segara”.

Injil hari ini adalah lanjutan dari kisah tentang seorang Janda miskin yang membawa persembahan. Berhadapan dengan orang-orang kaya, yang memberi dari surplus mereka, sang Janda miskin memberi dari apa yang ada padanya, seluruh dirinya, seluruh rejekinya hari itu ke dalam kotak derma. Dalam hubungan dengan Janda Miskin itu, Yesus melanjutkan kecamannya tentang keindahan sebuah bangunan Bait Allah yang berhias ornament batu-batu indah dan barang-barang persembahan mahal, dibalik situasi kemiskinan umat yang menyedihkan. Kecaman Yesus masih berlanjut: “”Apa yang kamu lihat di situ — akan datang harinya di mana tidak ada satu batu pun akan dibiarkan terletak di atas batu yang lain; semuanya akan diruntuhkan”. Selanjutnya Yesus menguatkan bahwa perjuangan membela kehidupan kaum kecil harus berhadapan dengan “tembok kuat kaum penuh kuasa”. Namun jangan takut. Ia lebih lanjut mengatakan: “ Tetapi sebelum semuanya itu kamu akan ditangkap dan dianiaya; kamu akan diserahkan ke rumah-rumah ibadat dan penjara-penjara, dan kamu akan dihadapkan kepada raja-raja dan penguasa-penguasa oleh karena nama-Ku. Hal itu akan menjadi kesempatan bagimu untuk bersaksi. Sebab itu tetapkanlah di dalam hatimu, supaya kamu jangan memikirkan lebih dahulu pembelaanmu. Sebab Aku sendiri akan memberikan kepadamu kata-kata hikmat, sehingga kamu tidak dapat ditentang atau dibantah lawan-lawanmu. Dan kamu akan diserahkan juga oleh orang tuamu, saudara-saudaramu, kaum keluargamu dan sahabat-sahabatmu dan beberapa orang di antara kamu akan dibunuh dan kamu akan dibenci semua orang oleh karena nama-Ku. Tetapi tidak sehelai pun dari rambut kepalamu akan hilang. Kalau kamu tetap bertahan, kamu akan memperoleh hidupmu.”
Jelas bahwa Yesus menawarkan dua pilihan: satu, teguh dalam mengimani Dia dalam segala situasi, dalm penderitaan apapun. Itu berarti, menjadikan Dia Tuhan, Putra Allah dalam hati kita, yang menguasai inti hati kita. Atau, dua, membiarkan hati kita ditaklukkan oleh penguasa-penguasa dan kefanaan. Kita takut terhadap ancaman dan terror sekaligus meletakkan Dia, Sang Juru Selamat Dunia, Sang Mesias di bawah hal-hal yang bukan Allah. Terserah, mau yang mana. Amiiiin.