MEMBEDAH SAMBUTAN VIKARIS DALAM BUKU KONSTITUSI OCDS

Avila Nocturna
Avila Nocturna

MALAM MINGGU, 14 November 2010. Pak Lingga Putra bersama istrinya, Ibu Sherly Gunawan beserta dua putri mereka, menjemput saya di Hening Griya, Wisma Resi Aloysii, Claket-Pacet-Mojokerto. Singgah sebentar di Biara Bintang Kejora, milik Suster-suster Ursulin, mengintip sebentar kegiatan Marriage Encounter, Distrik IV Surabaya, berjabat tangan Yang Mulia, Uskup Surabaya, Mgr. Vinsentius Sutikno dan Pasutri Anton Lien, lalu meluncur ke Surabaya. Di bilangan Sepanjang-Krian, saya di Jemput Bos OCDS Surabaya, Pak Yasin Onggara, untuk seterusnya melaju di jalan tol menuju ke alamat Graha Familia Nomor 26, Surabaya.

Tiba di alamat tersebut, saudara-saudari OCDS telah lama menanti. Karena kelamaan menunggu, acara “persaudaraan” yakni makan bersama, dijadikan sebagai acara pembuka. Selanjutnya Doa Ibadat Sore kami daraskan bersama, dipimpin Saudari Mita. Proses acara pun memasuki tahap inti, yakni pembahasan Konstitusi yang telah disiapkan oleh para formatores. Pembahasan Konstitusi difokuskan pada topic “Membedah Sambutan Vikaris”. Alasannya, sambutan ini bisa menjadi materi refleksi kita. Saudari Lucy Damayanti mengawali “studi” Konstitusi OCDS ini dengan menyajikan apa arti nama Karmel. “Karem El” artinya kebun anggur, suatu tempat yang indah dan subur, berada di ketinggian sebuah bukit. Selanjutnya, dijelaskan pula letak geografis Gunung Karmel. Penyajian kedua, dipaparkan oleh saudara Rico Tancho. Rico menjelaskan tentang posisi penting Regula St. Albertus dan pentingnya penjabarannya dalam Konstitusi dan aturan-aturan suatu komunitas. Jadi, Aturan Albertus ini, menjadi suatu Undang-Undang Dasar Karmel, yang harus dirinci lagi ke dalam Konstitusi setiap Ordo dan Kelompok untuk selanjutnya dijabarkan dalam praktek hidup komunitas, sesuai dengan cirri khas, kebutuhan dan kebudayaan suatu komunitas. Penyajian ketiga, diberikan oleh saudari Dr. Rita Sulantari. Dalam pembahasan ini, Beliau menjelaskan tentang susunan kepengurusan OCD, mulai dari jenjang pusat, Generalat di Roma hingga Kevikariatan Indonesia. Juga dijelaskan tentang adanya tiga kelompok dalam OCD. Kelompok Biarawati Kontemplasi dengan cirri klausura (tertutup untuk umum). Kelompok Biarawan juga menghidupi kontemplasi namun tidak terikat dalam suatu tembok klausura ketat, demi karya kerasulan. Kelompok Awam, juga menghayati dan menghidupi semangat kontemplasi itu sesuai dengan panggilan hidup berkeluarga atau “single” dalam hidup menggereja dan bermasyarakat. Singkatnya, demikian Dr. Sulantari, “Inilah ‘three in one’, tiga dalam satu. Tiga kelompok besar dalam satu semangat Karmel Teresiani”. Sajian keempat, oleh Saudara Yasin Onggara, beliau menjelaskan tentang pengesahan Konstitusi OCDS oleh Kongregasi Suci Hidup Bakti dan Karya Kerasulan di Vatikan. Konstitusi OCDS ini disodorkan oleh Pater General bersama Dewannya kepada Kepausan untuk disahkan. Pengesahan itu diberikan oleh Kongregasi yang disebut di atas. Dengan demikian, kita memiliki keyakinan bahwa, Konstitusi OCDS ini memiliki kekuatan legal untuk bisa dipraktekkan Kaum Awam dalam Ordo Karmel Teresiani di seluruh dunia. Pada sajian ke lima, dijelaskan oleh kami tentang siapa itu Albertus, pemberi Regula Karmel dan siapa itu Brokardus, Prior yang menjabat saat Albertus ditugaskan menjadi Patrik Yerusalem.

Tahap berikut, Saudari Lucy Damayanti membimbing peserta memasuki meditasi. Meditasi ini berlangsung selama kurang lebih tiga puluh menit. Setelah meditasi, pertemuan dilanjutkan dengan acara pengumuman dan pembahasan soal-soal keliling. Tahapan ini dipandu oleh Ketua OCDS Surabaya, Saudara Yasin Onggara. Dalam tahap ini, diputuskan beberapa kegiatan penting yang harus ditindaklanjuti, termasuk sumbangan kasih kepada Korban Letusan Merapi di Yogyakarta. Pertemuan ditutup dengan sebuah doa singkat dan berkat penutup.

Jam menunjukkan pukul 22.00. Rico Anja membawa saya ke terminal Bungurasi dan seterusnya mengambil bus malam menuju Mojokerto. Tiba di Mojokerto, pukul 11.30. Terima kasih kepada kebaikan hati Pak Sulkan yang menanti dengan sabar, dan dengan sabar pula membonceng saya kembali ke kesejukan Bukit Claket. Saya lirik arloji tua saya, jam menunjukkan pukul 12.30. Waktu untuk beristirahat. Besok jam 6 harus memimpin Misa di Suster Karmel OCD. Terima kasih dan Tuhan memberkati.