MENCINTAI GEREJA KITA

1. Introduksi
a. Hari Minggu yg lalu kita merayakan pesta Penampakan Tuhan Yesus kepada tiga sarjana dari Timur. Kita lihat, Yesus masih kecil, seorang bayi yang harus menempuh perjalanan jauh ke Mesir. Korban utk Yesus pun tidak main-main: banyak anak kecil yang dibunuh oleh Herodes.
b. Minggu ini, (kita berada dalam hari Minggu, tradisi Gereja sore hari Sabtu, kita sudah mulai mendoakan Ibadat Sore satu untuk Hari Minggu. Jadi kita sudah berada dalam perayaan hari Minggu, secara khusus merayakan pesta pembaptisan Tuhan. Kita mau melihat dan menimba rahmat dan makna pembaptisan Tuhan. Gambaran yang penting di sini adalah kerendahan hati: kerendahan hati seorang hamba. Dalam kebersamaan kita mau melihat kerendahan hati dari Yesus, hamba Allah dan peristiwa pembaptisan sebagai symbol satunya Yesus dengan kita orang berdosa, sekalipun Ia tidak pernah berdosa.
c. Pemeriksaan Bathin.

Padre Antonio, Maria Jose Munoz y Padre Tomas
Padre Antonio, Maria Jose Munoz y Padre Tomas

2. Homili
a. Kita melihat bagaimana dua tokoh besar: Yohanes Pembaptis dan Yesus Kristus saling ingin dibaptis, saling mau merendahkan diri. Selanjutnya, Yohanes Pembaptis mengalah dan mempermandikan Yesus. Dari peristiwa ini, sebenarnya yang lebih mendalam sikap kerendahan hatinya adalah Yesus. Mengapa? Karena Ia mau bersama, Ia sungguh bersatu dengan kita,manusia …orang yang berdosa. Pembaptisan, sebenarnya merupakan suatu ritus pembersihan diri manusia dari dosa. Apa Yesus berdosa? Apakah Yesus bersalah? Tidak. Yesus tidak berdosa dan tidak bersalah. Namun Ia mau dibaptis. Artinya Ia mau menyatukan diriNya sungguh-sungguh dengan manusia. Di sini, Ia mau menyatakan bahwa di awal tugas Pewartaan-Nya, di usiaNya yang ke 30 itu, Yesus mau menegaskan bahwa kelahiranNya sebagai Putra Allah, bukanlah suatu kesia-siaan. Allah sudah menjadi satu dengan manusia,dalam kelahiranNya di Natal pertama. Allah yang sama ini,yang mengambil rupa kedagingan kita (daging, napsu daging: kelemahan kita sebagai manusia), sungguh-sungguh mau hidup bersama kita. Lebih dari itu, Ia mau merasakan bagaimana satuNya Ia dengan kita, sementara Ia tidak berdosa, Ia tidak terpengaruh dengan cara hidup manusia yang penuh dengan kecurangan dan dosa.
b. Ada seorang Suster, bernama Sr Glenda. Ia seorang Mexico. Ia hebat dalam menyanyi. Dan lagu-lagunya rohaninya banyak digandrungi orang-orang di Italia, Spanyol dan Amerika. Suatu kali ia bernyanyi: Nada es imposilbe para Ti (tidak ada yang mustahil bagi-Mu)….sambil mempermainkan gitarnya, ia berkata: pernah terjadi…Napoleon,dikator Prancis itu pernah berkata kepada seorang Kardinal tua: Saya akan menghancurkan gereja, saya akan merusak gereja. Kardinal itu berkata sambil memperbaiki jubahnya: hmmmm silahkan. Raja Napoleon kembali berkata dengan lebih serius: Anda dengar, saya akan merusak dan menghancurkan Gereja. Sambil tertawa, Kardinal itu berkata: menghancurkan Gereja ? hahahaaa, silahkan. Raja Napoleon kembali berkata dengan keras: Supaya kau tahu, saya akan menghancurkan Gereja”. Kardinal itu tersenyum lalu berkata: hmmmm, kalau mau menghancurkan Gereja, silahkan saja. Gereja bukan hanya saya, bukan hanya imam suster dll, gereja juga bukan hanya awam. Gereja pertama-tama adalah Tuhan. Hancurkan dulu Tuhan….heheheh”. Napoleon lalu pergi dengan jengkel.
c. Kalau kita menjadi anggota Gereja, pertama-tama kita dibaptis. Dengan pembaptisan kita menyatakan bahwa kita satu dengan Tuhan Yesus, kita selalu bersama Yesus. Dengan pembaptisan, kita mau menyatakan bahwa hidup saya sekarang bukan hidup yang dulu lagi, hidup untuk diri sendiri, melainkan hidup untuk Tuhan dan sesame. Dalam merayakan pesta pembaptisan Tuhan hari ini, kita juga mau melihat arti pembaptisan kita. Salah satunya kita sudah lihat, bahwa dengan pembaptisan kita berada bersama Yesus, Tuhan dan kepala Gereja. Yang kedua, dengan pembaptisan, kita mau mengatakan bahwa saya tidak sendirian, saya bersama sama saudara-saudari yang lain yang sudah dibaptis. Saya menjadi anggota Gereja, saya menjadi anggota suatu keluarga besar, yang terus bertumbuh sekalipun ada begitu banyak rintangan dan tantangan yang datang menghadang. Gereja, kita terus bertumbuh dalam kebersamaan dan kesatuan yang erat berpadu. Ingat Yesus katakan: Petrus, di atas dasar ini, akan Ku dirikan Gerejaku dan alam maut tidak akan mengalahkannya”.
d. Namun bagaimana kita hidup sebagai anggota Gereja? Bagaimana agar semangat sebagai anggota Gereja itu tetap menyala dalam hati kita masing-masing?
i. Kita, sebagai anggota Gereja memiliki iman di dada sebagaimana iman para Rasul. Namun beda, para Rasul melihat Yesus dan tanda-tanda heran yang Ia lakukan dan menjadi percaya. Tanda heran terbesar adalah kebangkitan Yesus dari mati. Injil katakana: Ketika melihat kubur kosong dann kain peluh serta kain kafan yang letaknya terpisah, maka ia percaya”. Para Rasul menjadi saksi kebenaran Yesus yang hidup dan bangkit.
ii. Lalu kita? Kita memang tidak melihat tanda heran itu. Kita tidak melihat air jadi anggur, roti diperbanyak, orang lumpuh berjalan dan orang mati dibangkitkan. Namun, suatu tanda heran yang kita sekarang saksikan adalah bahwa Gereja terus bertumbuh dan berkembang. Gereja seumpama sebuah pohon raksasa yang tidak pernah berhenti bertumbuh.
iii. Lalu apa peran kita? Sebagai seorang yang sudah dibaptis, kita ditugaskan untuk mewartakan injil, kabar baik Yesus kepada sesame. Kalau tugas ini tidak kita laksanakan kita melemahkan Gereja. Kita seperti Napoleon yang ingin merusak Gereja.
iv. Pernah seorang suami marah-marah sama istrinya. Pulang dari kantor rumah berantakan, tidak sesuai dengan seleranya, begitu juga makanan yang disiapkan tidak enak. Padahal istrinya sudah setengah mati membereskan rumah, hanya karena anak-anak kecil mereka yang suka bermain2, maka barang-barang yang sudah tertata, menjadi berantakan lagi. Makanan juga ia sudah berusaha memasak dengan segala cara yang paling baik. Karena merasa bosan dengan situasi ini, mulai suatu penyakit baru. Makan di luar, di warung dll. Akibatnya tidak hanya makan, tidur pun di luar, maka godaan untuk tidak setia pada sakramen perkawinan pun menghampiri hatinya. Untung, bahwa ia cepat tersadar bahwa ternyata ia mempunya istri dan anak. Ia pulang ke rumah dan berkata: “Ma….maafkan papa, papa selama ini sudah melihat dengan sudut pandang yang salah. Mama sudah bekerja, bekerja seperti seorang pembantu, seperti seorang hamba. Mama sudah begitu setia tapi yang saya balas ada memberi mama kekecewaan. Saya tidak merasa bertanggung jawab. Saya sudah mengkhianati kebersamaan kita yang begitu berharga. Ma…maafkan saya, saya berjanji untuk tidak melakukan hal ini lagi”. Sejal saat itu, suami ini lebih rajin ada di rumah. Membantu membereskan rumah, bahkan memasak untuk rumah dan teman2 yang bertamu.
v. Kebersamaan itu penting. Gereja kita terdiri dari manusia yang memiliki iman dan diharapkan iman yang kuat dan iman yang hidup dalam kebersamaan. Sebab kita berkata,kita punya iman, tapi tidak mencintai sesame di sekitar kita, maka kita sebenarnya belum beriman kuat. Kebersamaan ini,cinta dalam keluarga ini harus pertama-tama dipupuk, karena keluarga adalah suatu Gereja Mini.
vi. Gereja ini juga ditampakan dalam kerja nyata kita. Dari keluarga, kita mau menampakkan keluarga-keluarga yang beriman dalam kegiatan bersama. Tanpa kegiatan bersama kita tidak bisa menguatkan Gereja, kita tidak bisa juga menguatkan iman kita. Kita bahkan merongrong Gereja. Cukup hadir dalam pertemuan, kita sudah bisa menjadi satu bagian yang sangat berarti bagi Gereja. Namun, sekarang….kenyataannya…pertemua di Gereja, di lingkungan kebanyakan orang-orang itu saja. Pengalaman saya di salah satu daerah, kalau pertemuan, kebanyakan ibu-ibu dan anak-anak yang datang. Katanya mereka diutus bapak. Bapak-bapak, setelah saya cek, ternyata sibuk baca kartu…..Lho ini gimana…makanya, kami buat program. Minggu depan, doa di rumah si A dan setelah doa ada makan-makan dan main kartu juga rekreasi bersama. Bapak-bapak boleh bawa kartu sedangkan anak-anak boleh bawa gitar dan catur. Sejak saat itu, pertemuan dan kebersamaan mereka bertambah semarak dan makin bermakna. Bapak-bapak pun tidak mencari pertemuan di luar lagi.
vii. Gereja adalah kita yang sudah dibatptis. Dari Paus sampai anak terkecil di dalam Keluarga, kita membentuk suatu keluarga besar Gereja. Mari kita cintai kebersamaan kita ini.