MERENUNG SAMBIL MENGENANG PERJALANAN PERDANA OCD

Capilla de San Antonio - Basque Country
Pelabuhan hati

Setelah Gempa Bumi dan Tsunami Flores, 19 tahun yang lalu, kami terpaksa batal memulai studi filsafat teologi di Ledalero. Terus, tahun 1993, bersama P. Thomas Kalloor, OCD(alm) dan P. Joseph Marottikkai Parambil, OCD menumpang Kapal Pelni Kelimutu menuju Kupang. Dua puluh frater OCD angkatan perdana mengawali kuliah filsafat teologi di Fakultas Filasafat Unika Widya Mandira Kupang Timor, bergabung dengan 18 frater dari keuskupan Agung Kupang, Keuskupan Atambua, Keuskupan Dili (yang waktu itu masih menjadi bagian dari Republik Indonesia), Keuskupan Weetebula dan Fratres Kongregasi Claretian (CMF). Semuanya serba baru. Semuanya angkatan perdana. Semuanya harus bisa membagi waktu dan tenaga untuk belajar, membenahi Kampus, membenahi Rumah Pembinaan Masing-masing Komunitas (Seminari) dan menggauli kehidupan baru di tengah kota Kupang yang syarat dengan pelbagai macam problema perkotaan.

Ada satu hal menarik dari penampilan fraters OCD adalah memakai jaket warna biru tua, bertuliskan OCD (Ordo Karmel Tak Berkasut) saat perjalanan di Kapal Laut maupun di Ferry. Juga kadang, memakai kostum baju kaus coklat dengan tulisan yang sama. Maksudnya, supaya ketika berada di tempat umum, di antara orang banyak, kami dapat langsung saling mengenal.

Pada hari Minggu ini, kitapun mempersiapkan diri untuk ikut serta dalam Ibadat hari Minggu. Kelihatan bahwa banyak orang yang harus memakai pakaian necis, dan rambut yang tertata menarik dan rapi. Maksudnya bahwa, kita hendak masuk ke Gereja atau Kapel dengan penampilan yang pantas. Seingat saya, tahun 2007 di Madrid Spanyol, tepatnya di di Iglesia de San Andres, para wanita diwajibkan memakai pakaian yang pantas. Bukan rok mini yang terangkat ke atas atau juga bukan jeans. Kalau tidak, petugas di Gereja langsung menyodorkan kerudung tipis untuk disarungkan dan kerudung yang lain untuk dikenakan sebagai tutup kepala. (Mungkin mengacu pada pesan Santo Paulus, tentang bagaimana wanita beribadah dengan benar).

Berpakaian pantas untuk mengikuti Ibadah adalah wajar. Namun ada sesuatu yang lebih penting dari itu. Pakaian yang dikenakan hati kita. Apakah hati kita sudah disiapkan dan didandani dengan pelbagai kebajikan sebagai Anak-anak Allah? Ataukah Gereja dan Ibadah hanya menjadi ajang “fashion show”. Mari kita siapkan diri kita……

Di atas Brooklyn Bridge
Di atas Brooklyn Bridge

DATANG DAN LIHATLAH….
Yesaya, seperti yang sering kita dengarkan dalam refleksi adven, mengingatkan orang Israel di pembuangan bahwa Allah masih dekat dengan mereka. Mereka diberikan harapan dan kegembiraan tentang suatu tanah air yang dijanjikan. Mereka ada bangsa yang dijanjikan Allah dengan suatu tanah terjanji. Ungkapan Yesaya yang baru kita dengar tentang Hamba Yahwe, bukan hanya ditujukan untuk dirinya sendiri, melainkan untuk semua dan setiap anak Israel.
Bacaan pertama dari Yesaya ini tidak berhenti di tema Israel sebagai Hamba Yahwe. Pesan Yesaya terus mengerucut kepada restorasi Israel, kepada pembaharuan kembali Israel. Namun lebih dari itu, terang yang lebih besar, terang kehidupan itu akan memancar dari kelompok kecil bangsa Israel dan menerangi bangsa-bangsa lain di muka bumi ini. Israel sebagai Hamba Allah, menjadi lebih focus dan bahkan sangat focus dalam diri Yesus, Hamba Allah yang menjadi perpanjangan tangan cinta Allah kepada manusia. Pewartaan kenabian pun diteruskan.
“Oh mi vida, mi amor….eres mi luz…(Oh hidupku, cintaku…engkaulah mentariku)…”. Demikian sepenggal puisi yang dibawakan teman kuliah saya, ketika suaminya meninggal di kota Vitoria – Gasteiz. Bagi dirinya, Ander adalah terang bagi jiwanya, terang yang menyinari hari-hari hidupnya. Bagi dia, tiada yang lebih indah di dunia ini selain Ander. Ia sering memberi bunga, ketika berjalan bersama, ia petik bunga-bunga musim semi yang kecil-kecil itu dan memberikannya kepada Maria Jose Munoa dengan kata-kata: “Eres mi amor”…(Engkaulah cintaku). Cinta itu begitu kuat, sekuat maut. Beberapa bulan setelah kematian Ander, Maria Jose divonis dokter bahwa ia mengidap kanker. Saya sering kuatkan dia bahwa hanya orang yang hidup yang memberikan diri dan hati untuk memuji Tuhan. Kuatkan hatimu dan lawanlah dengan segala daya, penderitaan dari sakit ini. Namun ia balas, tidak…saya hanya ingin menyanyikan pujian kepada Allah bersama Ander di Surga. Biarlah kami berdua bersama selamanya. Ketika saya pergi ke stasiun Kereta Api untuk seterusnya ke New York dan Indonesia, ia gantungkan sebuah gitar spanyol yang baru ia belikan di toko musik. Ia katakan: “Yohanes….Ander sudah berangkat. Sekarang engkau pergi, bawalah gitar ini …. dan ketika engkau memetiknya, ingatlah bahwa itu engkau persembahkan untuk aku dan Ander”. Saya tiba di Indonesia. Beberapa bulan masih ada email dari Maria Jose”. Sekarang sudah sekitar setahun tidak ada lagi email darinya. Semoga ia aman, jika Allah berkehendak. Hanya itu harapan dan doa saya.
Injil Yohanes hari ini menghantar kita untuk datang dan melihat. Terang itu ada dan terang itu ada untuk dilihat. Kalau kita membaca Prolog Injil Yohanes, kita akan melihat dan terpesona dengan 19 ayat pendahulu Injil Yohanes ini. Secara khusus kita datang dan melihat ayat 4-9: Dalam Dia ada hidup dan hidup itu adalah terang manusia.
1:5 Terang itu bercahaya di dalam kegelapan dan kegelapan itu tidak menguasainya.
1:6 Datanglah seorang yang diutus Allah, namanya Yohanes;
1:7 ia datang sebagai saksi untuk memberi kesaksian tentang terang itu, supaya oleh dia semua orang menjadi percaya.
1:8 Ia bukan terang itu, tetapi ia harus memberi kesaksian tentang terang itu.
1:9 Terang yang sesungguhnya, yang menerangi setiap orang, sedang datang ke dalam dunia.
Dua minggu yang lalu, kita merayakan pesta epifania. Yesus, sang terang itu menampakkan diriNya kepada orang-orang, majus dari dunia luar Israel-Yahudi. Kemudian, penampakan terus terjadi. Yesus dibaptis sebagai Anak yang dikasihi Bapa. Dan Yohanes selalu dengan segala cinta dan kerendahan hati menyatakan bahwa dirinya bukan Terang itu. Aku bukan Mesias, tetapi Ia yang datang kemudian, lebih besar daripadaku. Ia sebenarnya telah ada sebelum aku. Yohanes, tidak silau oleh cinta diri, ia tidak silau oleh kepentingan dan ambisi diri. Ia sungguh orang yang mempersiapkan kedatangan terang itu, Yesus Sang Mesias, Yesus Kristus.

Mengikuti ajakan Yohanes…Lihatlah…Anak Domba Allah. Datang dan lihat apa yang Ia lakukan. Ia yang membawa tanda-tanda. Ia yang adalah Anak Allah. Datang dan lihatlah, Air dijadikan Anggur, Orang Sakit disembuhkan, orang lumpuh berjalan, orang buta melihat, orang kusta menjadi sehat dan orang mati dibangkitkan. Mari….datang dan lihatlah Anak Domba Allah. Biarkan diriNya menjadi sinar jalan kehidupan kita. Biarlah sinar cinta menyinari hati dan seluruh diri serta seluruh kehidupan kita. Ketika kita adalah anak-anak terang, kebenaran dan kasih menjadi identitas diri kita. Semoga.