MERENUNGI MEDITASI

Kapel Kecil sebagai latar belakang pemandangan Biara Para Pater Karmel OCD di Kota Vittoria-Gazteiz, Spanyol.
Kapel Kecil sebagai latar belakang pemandangan Biara Para Pater Karmel OCD di Kota Vittoria-Gazteiz, Spanyol.

Meditasi

Meditasi adalah suatu tema yang sangat popular dalam dunia zaman ini. Dengan penekanan yang selalu baru dalam bidang spiritualitas dan pelayanan kesehatan alternative modern, meditasi menjadi semakin digandrungi manusia zaman ini. Namun, tergantung pada konteksnya. Meditasi dapat dipandang dalam pelbagai bentuk. Bentuk yang paling sederhana, adalah meditasi sama saja dengan merenung atau merefleksi atau berkontemplasi. Tak ada penilaian yang melebihi istilah ini yang dapat diimbangi dengan berpikir atau bermimpi. Subyek dari meditasi seseorang adalah nilai untuk tindakan yang keluar dari hasil meditasi.

Meditasi: siapa yang menjadi tokoh utama Meditasi Transendental?

Meditasi, merupakan suatu gerakan yang bisa saja datang dari berbagai latar belakang. Bisa saja meditasi datang dari perkumpulan atau gerakan yang disebut Meditasi Transendental. Meditasi Transendental didirikan oleh Maharishi Mahesh Yogui, seorang beragama Hindu. Menurut beliau, meditasi adalah “suatu proses sederhana, alamiah tanpa memerlukan usaha energy yang besar dan dipaksakan”. Selama teknik ini dijalankan, kesadaran pribadi ditenangkan dan mengalami suatu keadaan unik karena kewaspadaan yang tenang. Melalui ukuran bahwa tubuh menjadi rileks secara lebih mendalam, pikiran kita mengangkat semua aktivitas mental untuk mengalami bentuk paling sederhana dari kesadaran, yakni Kesadaran Transendental. Pada keadaan ini , kesadaran terbuka kepada “saya”. Mereka yang menjadi pendukung Meditasi Transendental ini berkata bahwa dengannya mereka dapat memperbaiki kerativitas, efektivitas dan kepuasan hidup mereka. Menurut mereka, siapa saya, golongan usia mana saja, agama mana saja dapat mempraktekkan Meditasi Transendental ini.
Meskipun demikian, Meditasi Transental diyakini berasal dari filsafat Hindu. Pendiri Meditasi Transendental ini, menunjukkan keyakinannya dengan jelas bahwa ia seorang Hindu. Kelihatan dengan jelas bahwa filsafat dan manfaat di balik Meditasi Transendental ini berasal dar tradisi Hindu. Praktek ini mirip dengan cara Hinduisme mencari dan menemukan dalam pribadi manusia suatu persatuan dengan “saya yang lebih tinggi/mendalam” dari pribadi seseorang. Ini adalah cirri khas Hindu (Cf. Corte de Distrito de los Estados Unidos, Newark, NJ, en octubre 29, 1977, y la Corte de Apelaciones de los Estados Unidos, Filadelfia, PA, febrero 2, 1979.)

Meditasi Alkitabiah

Tidak semua meditasi adalah Meditasi Transendental. Pernyataan ini dapat dibuktikan bahwa Alkitab menyuruh kita untuk bermeditasi, bermenung, berefleksi. Dalam Yosua 1:8, Allah mengatakan kepada kita untuk merenungkan Sabda-Nya, siang dan malam dan agar kita menaati Sabda Allah itu. Kata-kata “meditasi” atau “merenung” dapat ditemukan 20 kali dalam Kitab yang sama. Bisa juga dibaca dalam Kitab Ulangan 6:4-7. “ Dengarlah, hai orang Israel: TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu esa! Kasihilah TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu. Apa yang kuperintahkan kepadamu pada hari ini haruslah engkau perhatikan, haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun. Haruslah juga engkau mengikatkannya sebagai tanda pada tanganmu dan haruslah itu menjadi lambang di dahimu, dan haruslah engkau menuliskannya pada tiang pintu rumahmu dan pada pintu gerbangmu”. Suatu ajakan untuk merenungkannya berulang-ulang, meditasi….. Dalam Perjanjian Lama terdapat dua istilah pokok dalam bahasa Ibrani untuk mengungkapkan soal meditasi. HAGA yang berarti merenungkan atau meditasi. SIHACH, berarti merenungkan dalam-dalam, memasukkan ke dalam pikiran seseorang atau mengontemplasi. Kata-kata ini bisa juga berarti berdiam, dipandang bijaksana dan memberikan perhatian.

Meditasi: suatu sejarah

Salah satu bentuk meditasi yang sudah dipraktekkan kaum kristiani sejak paling lambat pada awal abad ke IV adalah LECTIO DIVINA. Praktek ini sudah digunakan secara tradisional dalam Ordo-ordo religious monastic dan sekarang dinikmati dengan suatu kesadaran baru. Lectio Divina berarti, “bacaan suci”, dan memiliki 4 etapa: lectio (baca), meditation (meditasi diskursif – merenung dengan memakai daya pikiran dan memori), oratio (doa efektif) dan contemplation (kontemplasi). Pada tahap Lectio, seseorang menemukan suatu bacaan dan dibaca dengan penuh konsentrasi atau perhatian. Kemudian, dalam tahap meditation, teks yang dibaca direnungkan atau diulang kembali melalui ingatan atau daya memori. Dalam tahap oratio, kita berbicara atau bercakap-cakap dengan Tuhan melalui inspirasi Sabda yang tadi dibaca, sambil memohon agar Ia boleh memberikan kebijaksanaanNya kepada kita. Tahap akhir, contemplation, seseorang secara rileks beristirahat di hadirat Allah.

Sebagaimana kita lihat, meditasi, secara sepintas dilihat sebagai merenung atau berpikir tentang sesuatu. Subyek dari meditasi adalah seorang pribadi dan tujuan meditasi adalah apa yang ditangkap dari suatu tahap meditasi ke tahap meditasi yang lain. Jika Dia, Tuhan yang dipilih sebagai subyek refleksi kita, maka Ia sendiri yang menerangi pikiran kita dan membuat suatu perbedaan besar dalam cara kita memandang hidup ini. “Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu. Dan apa yang telah kamu pelajari dan apa yang telah kamu terima, dan apa yang telah kamu dengar dan apa yang telah kamu lihat padaku, lakukanlah itu. Maka Allah sumber damai sejahtera akan menyertai kamu (Filipi 4:8-9).

RESI ALOYSII – CLAKET, SURABAYA, 26 JANUARI 2011