KECEMASAN DAN KEYAKINAN

Bunga di tepi jalan
Bunga di Tepi Jalan

“Dapatkah Tuhan melupakan anakNya?” Mungkin kita bertanya seperti itu,dan bacaan pertama, sabda Tuhan sendiri menjawab: “Dapatkah seorang perempuan melupakan bayinya,sehingga ia tidak menyayangi anak dari kandungannya? Sekalipun ….. ia melupakannya, Aku tidak akan melupakan engkau…..” Allah mau menggambarkan kasihNya, bahwa kasih yang Ia miliki melebih kelembutan kasih seorang perempuan kepada anaknya. Bisa juga, jadi kritik manusia dewasa ini dengan maraknya pembuangan bayi orang ibu yang mengandungnya atau aborsi provokatur (aborsi yang dilakukan dengan tahu dan mau dengan segala rencana….melenyapkan kehidupan seorang dari dalam rahimnya sendiri).

Seorang pemuda nakal, berubah menjadi baik, ketika ia bertemu dengan seorang gadis. Semasa SMA anak ini sudah bergaul dengan narkoba dan wanita-wanita yang tidak baik hidupnya. Ketika bertemu dengan “angelita”, anak muda ini terpengaruh dengan sikapnya yang lemah lembut. Ia diajak untuk tidak ugal-ugalan, agar melepaskan narkoba, agar lebih rajin ke Gereja dan berdoa. Terakhir, mereka memutuskan untuk berziarah bersama ke suatu tempat ziarah Bunda Maria yang terkenal. Mereka berjalan bersama, dan sungguh larut dalam suasana doa. Ia yakin, hidupnya berubah dengan perkenalannya dengan Angelita. Setelah pulang, Anjelita ternyata memutuskan masuk biara Suster. Ia kaget tapi tidak bisa menahan keinginan Angelita. Rasanya tulang-tulangnya menjadi lepas, ia lemas tapi apa mau dikata. Semuanya harus terjadi seperti ini. Ia kemudian memutuskan untuk kembali ke hidup yang lama. Beberapa hari tenggelam dalam kesalahan narkoba yang sama, perempuan-perempuan nakal dll, ia sadar bahwa ini semua tidak berarti. Namun ia bimbang, apakah sendirian ia mampu memulai hidup yang lebih baik? Di antara rasa bimbang, ia jalan saja ke Gereja di parokinya. Ternyata, umat yang lain sedang mengarak patung Bunda Maria. Melihat kedatangannya, beberapa orang pemuka umat memanggilnya untuk turut memikul tenda patung Bunda Maria. Ia merasa berat, tidak pantas dan kotor. Namun, semuanya sudah terjadi, keputusannya untuk datang ke Gereja saat itu telah mendorong dirinya untuk terus teratur datang ke Gereja dan berusaha hidup baik, seperti orang-orang lain di sekitarnya.

Kadang, ada suatu saat di mana kita harus memberi keputusan untuk menyatakan “ya” atau “tidak”. Keputusan kita ini yang akan menentukan seluruh diri kita. Jika kita terlambat melakukan keputusan, maka hidup kita bisa tidak memiliki orientasi. Kita berjalan dalam kegelapan.
Hari ini, injil mengajak kita untuk belajar memilih antara Allah atau mammon. Mari kita lihat secara lebih jeli tentang Injil ini: Tak seorang pun dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian, ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Mengabdi kepada dua tuan….ini bukan saja suatu peringatan, melainkan suatu kenyataan hidup. Yesus melihat kenyataan bahwa manusia gampang terpecah. Terpecah oleh apa? Oleh cinta dan benci. Kepribadian manusia bisa seimbang dan harmonis kalau satu, kalau hanya ada cinta. Kalau dibagi dengan kebencian, manusia tidak mengalami kebahagiaan atau disharmoni. Ini bukan soal sepeleh. Ini bukan soal perasaan dan emosi saja. Melainkan soal pilihan. Memilih hal yang lebih berguna dan melepas hal yang tidak berguna. Soal memilih ini berkaitan erat dengan soal cinta dan benci. Lebih lanjut mari kita baca lagi: kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon. …Ini yang menjadi soal bagi manusia. Mammon, dalam bahasa Yunani diterjemahkan sebagai kekayaan, namun harus diperhatikan baik-baik, jika kata Mammon itu diawali dengan huruf besar, M huruf besar, maka artinya sudah berubah. Mammon dengan awal huruf besar ini berarti nama dari seorang dewa bangsa kafir. Kafir artinya yang tidak memiliki agama. Orang yang tidak percaya pada Allah. Nah dalam hubungan dengan Mammon ini, kita harus melihatnya dalam dua segi. Pertama, kalau mammon ini dijadikan milik, itu bukan menjadi soal. Sehingga dikatakan, gunakan Mammon selagi ia dapat digunakan untuk kebaikan, namun jangan dikuasai oleh Mammon. Di sini Yesus tidak melarang orang menggusahakan kekayaan. Tetapi…Yesus menasihatkan lebih dalam: “Jangan menimbun harta kekayaanmu di bumi…tetapi…timbunlah kekayaan untuk masa depan di Surga. Dalam hal ini, kalau Mammon ini dijadikan tuan bagi diri kita, maka kita menjadi pelayan dan hambanya. Kita menjadi sama dengan tuan kita, “Mammom”yang tidak berguna ini.

Kita coba memberi waktu untuk melihat beberapa ayat dari Injil hari ini? Mungkin cukup satu ayat lagi. Yesus tidak berhenti dalam soal Mammon. Ia maju menggelitik hati manusia, Ia tahu, manusia itu seperti apa? Ia tahu…. Manusia itu makhluk yang selalu cemas. Dan kecemasan, kekawatiran dan kegelisahan itu melumpukan manusia. Salah satu iklan tv di Indonesia, tentang nasi kalau tidak salah….di situ ditayangkan dua anak yang mengeluh tentang makanan yang tidak enak: malessss. Ga enak dll. Dua ana kecil itu kelihatan males dan tidak bergairah. Itulah kecemasan … membuat kita tidak bergairah dan tidak bertenaga dan melumpuhkan usaha kerja di otak, memori dan hati. Lawannya…..keyakinan. keyakinan dan terlebih iman, menguatkan kita untuk menghadapi kehidupan ini dengan kepala tegak. Maka tidak mengherankan bahwa Yesus mengambil contoh tentang burung dan bunga yang tidak bekerja mengumpulkan harta namun indahnya melebih keindahan dari sebuah kekayaan manusia. Manusia lebih berharga dari burung dan bunga. Karena itu, benar juga ungkapan kebijaksanaan orang Jawa. Setiap manusia, setiap anak manusia ini, tidak mungkin hidup tanpa rejeki. Allah yang menghadirkan manusia, Allah juga pasti menyiapkan apa yang perlu untuk kehidupannya. Karena itu, bapa, ibu, saudara-saudari terkasih. Kuatlah dalam iman. Iman tidak membuat kita malas, iman tidak mengajarkan kita untuk tidak memiliki rencana hidup. Iman mengajarkan kita untuk kuat menghadapi kecendrungan manusia yang cemas dengan harta benda. Ingat, dunia ini hampir hancur dengan materi, dengan prinsip komunisme Marxis, bahwa segalanya materi dan kecendrungan manusia zaman ini, adalah mau kejar materi dan kenikmatan atas materi. Namun, apa yang ia hadapi? Kosong…hatinya kosong. Ia tidak memiliki semangat, ia tidak memiliki roh dan gairah kehidupan karena imannya lemah atau bahkan kosong. Jika demikian, manusia gampang jatuh dalam kecemasan. Setelah cemas, ia menjadi stress. Setelah stress ia kehilangan kesadarannya. Dan ini berbahaya. Orang gampang dihasut, orang mudah menjadi marah dan bisa melakukan kejahatan yang paling mengerikan. Mari….kita kembali ke pada iman, mari kita masuk dalam dada kita, menyatakan bahwa Aku mencintai imanku.