RUMAH HATIKU
“Rumahku kini telah Sepi seluruh”

JOHN LEBE WUWUR, OCD

RUMAH HATIKU
“Rumahku kini telah Sepi seluruh”

Cetakan 1 : Januari 2012

PENERBIT INSTITUT SPIRITUALITAS
ORDO KARMEL TIDAK BERKASUT
Biara Karmel San Juan Penfui-Kupang-NTT
Telp.0380820927

Nihil Opstat : Komisaris OCD Indonesia
Kupang, 1 Januari 2012

Imprimatur: Mgr. Petrus Turang
Uskup Agung Kupang

ISBN 979-99932-2-9

Hak Cipta dilindungi Undang-undang
Dilarang memperbanyak karya tulis ini dalam bentuk dan cara apapun tanpa izin tertulis dari penerbit.

PROLOG

Suatu hari di bulan Oktober 2011. Dalam suasana hati yang penuh gejolak, antara sedih dan gembira, saya meninggalkan kota Metropolitan Surabaya. Dari Bandara Juanda saya akhiri perjalanan hari itu di gerbang kota Bajawa. Bajawa, dalam selimut kabut tipis berada di sebuah lembah pegunungan yang sejuk dan sunyi. Dalam rasa yang sulit dilukiskan, Jeep Tua warisan dua Pendiri: Pater John Britto, OCD dan Pater Thom Kalloor, OCD, memasuki rumah Biara Santo Yosef – Bajawa, di dusun Bogenga, Kelurahan Susu. Sejenak saya sadari, ada suasana kontras antara Surabaya yang sibuk dan Bajawa yang tenang dan sunyi. Surabaya dan Bajawa memang beda. Surabaya dengan gaya hidup metropolis, kota besar, sementara Bajawa dengan kesederhanaan sebuah kota kecil yang sederhana. Kadang sunyi dan kadang dingin. Namun, di balik dua kontras ini, terkandung kemiripan. Kemiripan itu nampak dalam kehausan manusia untuk menimba “air spiritual” demi suatu kehidupan yang lebih bermakna. Jelasnya bahwa, di balik kesibukan dan ketenangan aktivitas manusia, terbersit kerinduan yang sama akan suatu relasi yang menguatkan dan mengisi penuh hati manusia; relasi dengan Allah.

Kerinduan dan rasa haus akan suatu “sumber air spiritual” dari manusia Metropolitan Surabaya dan Kota Kecil Bajawa ini dapat kita alami secara kuat ketika kita turut masuk ke dalam kehidupan kaum awam Katolik yang giat mempraktekkan iman kristiani secara sejati. Kehausan saudara-saudari awam inilah yang membuat kami berani menuangkan refleksi sederhana dalam catatan ini. Refleksi kecil ini kami timba dari kerendahan dan keagungan hati pembaharu Ordo Karmel, Santa Teresa dari Avila dan Santo Yohanes dari Salib. Tidak lupa pula buku tulisan Henri J. M. Nouwen, “Kembalinya Si Anak Hilang” buah tangan seorang sahabat rohani saya, Romo Bruno Joko, Pr, seorang imam diosesan Keuskupan Surabaya, pendamping frater TOR di Jatijejer-Trawas, Keuskupan Surabaya, telah sedikit memberikan kepada saya suatu pengertian yang semakin baik tentang arti kehadiran seorang Bapa dalam suatu komunitas kehidupan manusia.

Bukan tidak penting peran saudara sekomunitas. Mereka bertiga (P. Abdul, P Rikard dan P. Adam) menampakkan sosok Bapa Ilahi dalam kebersamaan kami yang saban hari mendampingi calon-calon biarawan OCD di Rumah Formasi Novisiat. Mungkin penampilan mereka sederhana. Namun dalam kesederhaan itu, terjalin suatu kerja sama dalam pelayanan kepada kehidupan komunitas Novisiat. Dari kesederhanaan ini juga muncul refleksi sederhana seperti yang ada di tangan kita ini. Ketiganya, “los tres padres” dari komunitas OCD Bogenga ini, memang berusaha memberikan yang terbaik dari kemampuan mereka untuk kehidupan rohani suatu komunitas dan pelayanan apostolik bagi umat di sekitar Bajawa. Tentunya, semangat ini muncul dari terpatrinya semboyan Karmel di hati mereka dan kita: Zelo zelatus sum pro Domine Deo excercituum”: Aku bekerja segiat-giatnya demi Allah bala tentara.

Semoga refleksi spiritual ini bermakna untuk kita semua, terutama bagi yang membacanya dalam cinta akan Allah. Shalom dalam nama Allah yang maha Tingggi.

Bogenga-Bajawa, Medio Januari 2012.

(Untuk mengetahui isi tulisan ini selanjutnya, nantikan penerbitan buku “Rumah Hatiku”. Semoga berguna. Shallom).