MEMANDANG PADA YANG TERSALIB

Kristus mati di salib dan kematianNya itu membawa kesembuhan dan pengampunan dan kehidupan kekal. Itu inti diskusi antara Yesus dan Nikodemus. Tentang siapa diriNya, Yesus sudah menjelaskannya kepada Nikodemus dalam Injil Yohanes bab 3. Dalam DiskusiNya dengan Nikodemus, seorang farisi, golongan yang ketat menjalankan aturan agama Yahudi itu, Yesus menekankan bahwa orang harus lahir dua kali. Artinya, orang harus bertobat, dan bertobat berarti membaharui diri di dalam gerak Roh Kudus, Roh Yesus dan Bapa di Surga. Tetapi bagaimana orang harus lahir kembali, bagaimana orang harus bertobat? Yesus menjawab pertanyaan ini dengan menggunakan teks dari Kitab Ulangan, ketika Musa membawa orang-orang Israel keluar dari Mesir menuju ke Tanah Terjanji, Israel. Dalam perjalanan selama 40 tahun itu, dikisahkan bahwa ada banyak orang Israel yang mati dipagut ular berbisa. Melihat ancaman bencana serius itu, Tuhan menyuruh Musa membuat Ular dari Perunggu agar ketika orang yang dipagut ular itu melihat ke luar besi, dan bisa mendapatkan kesembuhan. Yesus menggunakan simbol ular yang diunjuk atau dinaikkan untuk menggambarkan siapa diriNya. Ada tiga hal di sini untuk kita lihat. Pertama, racun ular itu berbahaya dan mematikan. Karena itu perlu obat penangkalnya. Yakni Ular Besi. Racun ular itu bisa ditawarkan dengan kekuatan Ular Besi. Namun, patut diingat, bahwa bukan Ular Besi itu yang menyelamatkan melainkan kekuatan Tuhan yang memerintahkan Musa untuk membuat Ular Besi itulah yang menjadi kesembuhan. Kedua, dosa. Dosa itu berbahaya dan lebih berbahaya dari racun ular. Karena, dosa tidak hanya mematikan tubuh seperti ular, melainkan juga mematikan jiwa. Satu-satunya kesembuhan melawan racun dosa itu adalah “memandang Dia yang diunjukkan di atas salib”, Yesus Kristus, Tuhan yang menjadi manusia dan mati untuk menebus kita dari dosa. Hanya dengan memandang Dia, hanya dengan membuat mata kita fokus pada Yesus, kita bisa mendapatkan keselamatan. Keselamatan yang tidak hanya di sini, di dunia ini, melainkan juga keselamatan kekal. Keselamatan yang tidak dibatasi oleh waktu sebelum kematian badani dan sesudah kematian fisik kita. Soal ketiga adalah, bagaimana kita bisa selalu memandang pada Dia yang tersalib itu?

Sebab Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya oleh Dia. Barangsiapa percaya kepada-Nya, ia tidak akan dihukum; barangsiapa tidak percaya, ia telah berada di bawah hukuman, sebab ia tidak percaya dalam nama Anak Tunggal Allah.
“3:19 Dan inilah hukuman itu: Terang telah datang ke dalam dunia, tetapi manusia lebih menyukai kegelapan dari pada terang, sebab perbuatan-perbuatan mereka jahat.3:20 Sebab barangsiapa berbuat jahat, membenci terang dan tidak datang kepada terang itu, supaya perbuatan-perbuatannya yang jahat itu tidak nampak;3:21 tetapi barangsiapa melakukan yang benar, ia datang kepada terang, supaya menjadi nyata, bahwa perbuatan-perbuatannya dilakukan dalam Allah”.

Siapa yang tidak percaya, tidak apa-apa. Tidak apa-apa buat Yesus, tetapi rugi besar buat yang sudah mendengar tentang Yesus tetapi tidak percaya. Kepercayaan dan keyakinan kita inilah yang membuat hidup kita berbeda. Siapa yang percaya kepada Yesus akan mengatur hidupnya agar sesuai dengan Sabda Dia yang bergantung di Kayu Salib. Siapa yang tidak percaya, ia berjalan sesuai dengan kehendaknya sendiri. Mengapa demikian? Manusia ini, kalau sendirian, kalau mau mengandalkan kekuatan sendiri, tidak punya arti apa-apa. Manusia kalau mau ikut diri sendiri, kemauan sendiri, ego sendiri, maka ia akan berjalan dalam kegelapan. Semuanya gelap. Lalu kita lihat: Lawan dari gelap adalah terang. Siapa yang percaya pada Dia yang ditinggikan, dan mengarahkan langkah hidupnya sesuai dengan Yang Tersalib, maka ia memiliki terang. Terang yang akan menuntun segala tindak tanduknya agar ia selalu berjalan menuju kehidupan yang kekal. Di sini, kita melihat, ada dua hal: terang dan gelap. Terang adalah simbol kebaikan. Gelap adalah simbol dosa. Siapa yang selalu berbuat baik, walaupun kulitnya hitam, dipandang sebagai orang yang berhati putih. Orang akan melihat perbedaan. Santa Teresa katakan di Buku Puri Batin, setiap kita yang memilih hal yang baik, perbuatan baik, kata-kata yang baik, memilih Allah. Sebab Allah itu Maha Baik, sumber segala kebaikan. Karena itu, Sekalipun Pater Rikar itu kulit hitam, tetapi ketika ia selalu tersenyum, tegur sapa dan membantu orang lain, mendengarkan orang lain, sekalipun itu orang kecil…anak-anak kecil, maka orang akan melihat “si pembalap ini’ (pemuda berbadan gelap ini) sebagai orang yang baik, orang terang, orang yang memberikan kegembiraan dan kebahagiaan bagi sesama. Beda dengan orang yang suka akan kegelapan: orang yang suka akan kegelapan lebih senang tinggal dalam dosa. Dosa yang membuat perselisihan, perbantahan, cekcok, trik-trik kotor dalam kehidupan bersama dll.

Kita sedang dalam persiapan menuju Paska. Malam Paska nanti akan ada pembaharuan janji pembaptisan. Kita berjanji untuk memerangi perselisihan, hiburan yang tidak sehat dan perjudian. Mengapa kita ulangi janji pembaptisan? Pembaptisan menjadi dasar bagi kita untuk hidup sesuai Yesus, hidup sebagai anak-anak terang. Tetapi pertanyaannya: sudahkah kita hidup sebagai anak-anak terang? Bukankah Bajawa ini sudah dikelilingi oleh tempat-tempat judi? Hampir di setiap sudut kota Bajawa ada judi Billiard. Uang yang didapat dari kerja untuk keluarga, dihabiskan dengan mengadu keuntungan yang belum jelas di meja judi Billiard. Padahal Billiard bukan pertama-tama untuk judi. Untuk olahraga. Hanya di sini Bajawa, kita sudah tukar menjadi alat judi, alat dosa. Dan dosa itu mematikan. Hal lain lagi: Bukankah kita sudah hidup dalam gairah hiburan yang tidak sehat? Kita coba cek di hp kita masing-masing? Mungkin ada gambar atau video yang tidak sehat….kita bergaul dengan budaya konsumeristik yang mematikan. Kita bergaul dengan dosa. Bahayanya, kita menjadi orang-orang gelap. Karena itu saatnya bagi kita untuk merubah diri. Kembalikan fokus mata kita hanya untuk memandang Tuhan yang tersalib. Salah satu caranya adalah dengan menyembuhkan hati kita dari racun dosa lewat Sakramen Pertobatan atau Pengakuan. Minggu ini kita siapkan hati kita untuk mengaku dosa dan membaharui diri. Ingat, Tuhan sudah membeli kita dengan DarahNya yang tertumpah di Kayu Salib. Jangan bilang, “epen ka”….dengan Sakramen Pengakuan? Mari kita siapkan diri kita untuk bertemu dengan Tuhan yang mengorbankan diriNya di altar kudus.