PERGI SAMPAI KE UJUNG “JONG”

Imagen

Perjalanan Bajawa ke Aimere memakan waktu 1 jam. Jeep melaju pasti menuruni lembah indah. Beberapa kali saya mengabadikan pemandangan alam yang tidak mungkin ditemui di belahan bumi lainnya. Betapa indah karya Tuhan. Bukit, lautan, hewan-hewan liar, padang dan hutan memberikan pesona jiwa tersendiri. Memang, tidak ada yang mampu menandingi kehebatan Insinyur Semesta Alam ini. Jeep memasuki kota pelabuhan Aimere. Rumah Fr. Erik Wanggus, anak seorang militer TNI Angkatan Darat, tidak sulit bagi Bapak Dion. Kami langung menuju ke rumah Fr. Erik. Di depan rumah, pensiunan tentara ini menyalami kami dengan begitu hangat. Kami diajak masuk ke dalam rumah dan bertemu dengan ibunda Fr. Erik. Ibunda Fr. Erik ternyata sedang sakit. Namun, ia rela bertahan mengobrol bersama kami. Sambil mengobrol datang pula saudari-saudari Fr. Erik dari sekolahan. Ada yang di SMU, ada pula yang di SMP. Selanjutnya kami membicarakan maksud kunjungan kami dan keluarga prajurit ini tidak berkeberatan dan bahkan menerima semua anjuran dan pesan kami dengan amat bahagia. Selanjutnya seperti biasa, orang Flores selalu menjamu tamu, apalagi tamu yang datang itu seorang pastor. Maka, makan tidak boleh dilewatkan begitu saja. Setelah menikmati jamuan makan pagi-siang, kami pun bergegas menuju mobil Jeep. Kami berangkat menuju Kabupaten Manggaria Timur, tepatnya ke Kisol.

Perjalanan Aimere Kisol memakan waktu kurang lebih satu jam. Jam 11.00 kami bertolak dari Aimere dan tiba di Kisol, Manggarai Timur, pukul 12.00. Di Kisol, sudah menanti Fr. Sergio, calon Novis dari Kisol. Ayah dan Ibu Fr. Sergio juga ada. Kesan pertama, keluarga ini sederhana. Rumah berbahan “naja” atau bamboo, menjadi tempat tinggal keluarga. Bapak dan Mama Fr. Sergio, adalah petani sederhana. Di balik kesederhanaan ini mereka tidak memiliki setitik keberatanpun untuk mengongkosi dan menyanggupi keinginan putra sulung mereka menjadi imam. Setelah mengutarakan maksud kunjungan kami, lagi-lagi “lunch” menjadi penutup acara bersama keluarga sederhana ini. Dari Kisol, kami memulai perjalanan resiko ke daerah Jong, suatu desa terpencil di Kabupaten Manggarai (Tengah). Fr. Sergio menawarkan diri untuk menemani kami. Persoalan timbul ketika, Fr. Sergio pun baru pertama kali menuju kea rah kota Ruteng. Satu-satunya keuntungan disertakan Fr. Sergio adalah bahasa Manggarainya. Ia bisa diandalkan untuk bertanya dalam bahasa Manggarai kepada penduduk desa yang akan kami temui.

Kami tinggalkan Kisol menuju Jong pada pukul 14.00. Tiba di cabang Baelaing, (15 Km sebelum kota Ruteng), kami mengambil arah perjalanan ke kanan. Perjalanan mendebarkan. Kabut tebal mengiringi perjalanan kami, dilengkapi dengan derasnya hujan di hutan Rana Meze. Jurang dan tebing menjadi hiburan untuk menaikan adrenalin. Sesekali mobil harus direm mendadak lantaran longsoran dan halangan tumbangnya pepohonan. Sekali lagi, jurang. Jurang mendalam, karena mobil harus menelurus jalanan di ketinggian Rana Meze, sebuah gunung berdanau di dekat kota Ruteng. Dari ketinggian itu, kampong Colol, Lengko Ajang dan Jong sekitarnya menjadi seperti mainan kotak-kotak kanak-kanak kecil yang dibalut awan dan kabut tipis maupun tebal. Oh “Fascinosum et Tremendum”. Pukul 17.00, kami melewati lembah Colol. Diskusi kami mengingatkan akan berita-berita Koran tentang masalah tanah dan keadilan di daerah ini. Memang tanah yang subur mengundang banyak hati untuk mendekatinya. Seterusnya, kami mendekati paroki Lengko Ajang. Jarum jam menunjuk pukul 18.00. Sambil terus menuruni lembah Lengko Ajang, doa Anjelus Sore dilantunkan diteruskan dengan doa Bapa Kami dan lagu-lagu pujian. Di samping Gereja Paroki Lengko Ajang, ternyata Fr. Eki Junaedi, calon Novis dari desa Jong, sudah menanti. Di tangannya terdapat 5 buah payung. Menurut rencana, payung-payung itu dipakai jika hujan. Lebih lagi, jalanan ke depan bukan jalanan beraspal, tetapi berbatu dan lumpur. Kemungkinan Jeep Tua ini tidak mampu mengarungi perjalanan siswa yang berjarak 15 km. Apaan ini? Lima belas kilo meter? Malam lagi!!!…. Keputusan ada pada Bapak Dion, sopir andalan kami. Bapak Dion berpikir sejenak, lalu katakan: Let it be, in the Lord. Maka, dengan penuh kecemasan kami menumpang Jeep. Benar-benar seperti balapan di arena “Off Road”. Jeep Tua itu, bergerak pasti, terguncang-guncang, terbanting namun tetap berada pada jalur. Saya tanyakan, Dion, mengapa Jeep ini bisa berjalan di batu-batu besar dan lumpur seperti ini? Ia menjawab, biar tua, tapi Jeep ini dilengkapi dengan Derek. Ini yang menjadikan Jeep ini siap tempur di medan seperti ini. Wuah…hebat ya. Hebat lagi, para pendahulu yang telah menghadirkan Jeep Tua ini. Seterusnya, jam menunjukkan waktu pukul 20.00. Rumah Fr. Eki pun telah kelihatan. Kendaraan berhenti karena jalanan memang berhenti di situ, tepat di depan rumah Fr. Eki. Kami pun berceletuk, ini benar-benar “Jong”, benar-benar sampai di ujung jalan di dunia ini.

Kami pun turun dari Jeep yang amat berjaza itu dan menuju ke depan rumah. Ada apa gerangan, ada beberapa tetua yang menunggu di pintu masuk. Kami mendekat dan ada sapaan adat bahasa Manggarai, istilah umumnya disebut “Kepok”. Kapok adalah ucapan selamat datang kepada tamu ke dalam suatu komunitas Manggarai. Dalam “Kepok” itu diberikan bir sebotol, seekor ayam putih hidup dan beberapa bungkus rokok. Setelah upacara sapaan “Kepok”, kami diundang masuk ke dalam rumah untuk selanjutnya membicarakan maksud kedatangan kami secara resmi. Kunjungan kekeluargaan dari Ordo OCD ke keluarga besar calon Novis OCD. Acara ini ditutup dengan makan malam.

Pagi, Sabtu 16 Februari 2013. Kampung Jong diselimuti sinar matahari pagi. Ada dingin yang menyaput kulit. Ada juga celoteh anak-anak sibuk berangkat ke sekolah di Desa itu. Aku ingin mandi, setelah sehari perjalanan yang melelahkan kemarin. Persoalannya, di mana aku dan kami harus mandi? Fr. Eki yang memecahkan persoalan. Yuuuk,  kita ke kali. Jarak ke kali kurang lebih 3 km, demikian ajak Fr. Eki. Maka kami pun berangkat ke kali dan membersihkan mulut dan badan di kali. Tak ada air hangat, tak ada shower yang ada adalah air penampungan yang dingin namun menyegarkan. Kami mandi di kali.

Setelah menyegarkan badan dengan mandi di kali, kami kembali ke rumah. Misa sudah disiapkan dan kami langung bertugas memimpin misa di tengah kesederhanaan masyarakat kampong Jong. Setelah misa syukur, kami pun tidak memiliki banyak waktu untuk bersantai mengingat jalanan pulang yang amat menantang. Jika hujan, makan perjalanan ini bisa menjadi amat sulit. Maka, kamipun segera meninggalkan kampong Jong ke Bajawa. Pukul 11.00 kami meninggalkan Jong, diiringi gerimis dan diteruskan guyuran hujan lebat. Mobil terombang ambing, namun kami harus mencapai Bajawa di Kabupaten Ngada malam  ini. Mobil tiba di Rumah Biara St. Yosef OCD Bogenga Bajawa, tepat pukul  21.00. Terima kasih Tuhan, sekalipun tergayut keletihan namun ada syukur berlimpah karena perlindunganMu, karena orang-orangMu dank arena kasihMU. Pujian bagi Allah kini dan selama-lamanya.