TERIMA KASIH UNTUK GADIS BERJILBAB

Imagen

Kemarin, 21 Januari 2014. Mobil Hardtop tua menuruni lembah berpemandangan indah Bajawa menuju ke dataran Soa, hingga tiba pada Bandara Turulelo. Saya menemani seorang saudara berkewarganegaraan Amerika Serikat, P. Alo G. Deney, OCD yang hendak berangkat ke Kupang, seterusnya mengunjungi beberapa negara Asia-Pasifik. Mumpung Beliau ditugaskan “Roma” sebagai orang yang mendampingi saudara-saudara OCD di Jepang, Filipina, Australia dll. Setelah check in pkl 06.00, kami menunggu sambil bersenda gurau menanti dengan harap besar, bahwa pesawat terbang milik maskapai Trans Nusa akan mendarat di Turulelo. Jam keberangkatan tiba, pukul 07.00. Tapi pesawat belum juga turun. Sesekali terdengar dengung pesawat di balik awan pekat langit Turulelo. Pukul 08.00, diumumkan pihak Bandara bahwa pesawat mengalami penundaan lantaran cuaca yang tidak bersahabat. Pukul 09.00 kembali terdengar pengumuman dari pengeras suara bahwa pesawat Merpati Airlines dan Trans Nusa batal mendarat di Bandara Turulelo Soa dengan alasan cuaca buruk. Lantas, saat itu juga, Bandara terlihat sibuk. Semua penumpang mencoba mencari Bandara alternatif di Ende maupun di Maumere. Kami ditawarkan untuk menghubungi pihak Trans Nusa di Bandara Ende. Setelah mengurus segala yang perlu dengan Trans Nusa Bajawa, kami diyakinkan untuk pergi ke Ende, menggunakan layanan penerbangan esok harinya via Ende.

Dengan keyakinan ini, pukul 02.00 dini hari tadi, kami bergegas menuju Bandara Ende dengan bermodalkan pesanan pihak Trans Nusa di Turulelo Soa bahwa “cukup melapor di Trans Nusa Ende dan siap terbang ke Kupang pada pukul 07.00. Artinya, setelah check in, pkl 06.00”. Dengan penuh keyakinan kami mendekati Ruang Trans Nusa. Namun keyakinan kami mulai susut, setelah mendapati bahwa Kantor TN masih tertutup. Kami mencoba mencari informasi tentang TN pada beberapa pihak Bandara Ende. Kepada kami diberitahu bahwa pkl 08.00, akan ada check in untuk TN. Kami menanti dengan penuh kecemasan. Pukul 08.00 sdh terlihat pegawai2 berseragam TN. Kami bertanya, apakah ada penerbangan TN pagi ini ke Kupang? Jawaban yang diberikan: “Trans Nusa akan terbang dari Ende ke Kupang pada pukul 16.00”. Kepercayaan kami langsung patah tak berdaya. Bayangkan, tanpa tidur semalam dan menempuh perjalanan Bajawa – Ende hanya demi mendapatkan pelayanan penerbangan ke Kupang, yang sudah dijanjikan, ternyata dibatalkan. Dibatalkan dengan cara yang tidak masuk di akal karena pernyataan asal omong dari orang-orang yang bertugas. Kami lalu mengecek status tiket kami. Ternyata, dari bantuan petugas Trans Nusa, seorang gadis berjilbab yang tak sempat aku tanyakan identitas dirinya, membuat kami terkejut. Nama Saudara saya yang berkewarganegaraan USA itu masih berstatus penumpang Bajawa – Kupang. Gila..Crazy. Demikian keluh Padre Opa yang terlihat keletihan.

Sejenak berpikir. Kami lalu menanyakan, apakah pagi ini ada penerbangan ke Kupang dengan pesawat apa saja? Kami dijawab: “Penerbangan ke Kupang akan terjadi pada sore hari”. Padahal, Padre Opa sudah harus terbang mengingat “connecting flight to Kupang” terjadi pada pukul 15.00 sore ini. Jelas, ini kacau. Padahal semuanya harus dijalani. Dari Flores, Yogyakarta, Jakarta, Manila, Kyoto dll.Kami coba lagi bertanya, apakah ada penerbangan ke luar Flores pada hari ini langsung ke Jawa? Gadis Berjilbab itu menjawab: “Ada. Mari saya bantu carikan. Itu….di Garuda”. Dengan harap-harap cemas, kami mendekati Kantor Garuda Indonesian Airways di Bandara Ende. Setelah berdialog dengan petugas Garuda, yang melayani dengan begitu baik, kami mendapat kepastian bahwa Padre Opa bisa mendapat pelayanan penerbangan hari ini pada pukul 15.00. Tiket bisa didapat saat itu juga. Setelah berpikir sejenak, dengan resiko harga tiket yang melangit mahal, kami berkeputusan untuk menggunakan Penerbangan Garuda pada sore itu dengan rute: Ende – Denpasar – Yogyakarta. Tiket kemudian diberikan dan terbang dengan Garuda menuju Yogyakarta pun menjadi suatu kepastian. Saya ucapkan terima kasih banyak untuk Gadis Berjilbab dari Trans Nusa: “Nona manis, kamu manis sekali. Terima kasih atas bantuanmu. Semoga Tuhan memberkatimu”. Saat kisah ini ku tulis, Padre Opa sedang dalam penerbangan Denpasar-Yogyakarta. Quidate Padre, hasta la vista. Que Dios el Buen Senyor le protege. Dios le bendiga.

Bajawa, 22 Januari 2014.

Diposting di Facebook tgl 22 Januari 2014