SEPULUH TAHUN TELAH BERLALU…

Bag dalam biara Karmel OCD Bogenga Bajawa
Bagian dalam Biara Karmel OCD Bogenga Bajawa

Pertama kali bertemu, ada kesan. Kesan itu diteruskan dengan datang dan melihat dan tinggal hidup bersama dia, di Bajawa khususnya di Bogenga. Saya bangga dengan seorang P. Thom (Panggilan akrab untuk alm.  Pater Thomas Kalloor, OCD). Saya bangga karena sebagai imam dari India, ia sendiri berjalan tanpa kenal lelah mempromosikan panggilannya sampai ke Lembata. Saya pertama kali mengenal P. Thom di Lewoleba Lembata. Saat itu musim hujan angin. Setelah itu datang memberi test di Larantuka.  Saya ingat P. Thom bersama Bapak Petrus Puli, (Guru Bahasa Indonesia SMA Negeri Bajawa) dan Bapak Anton Riwu (Guru KepSek pada SDI Waturutu). Saat itu juga hujan angin dan mereka harus memutar tujuan. Seandainya keadaan normal maka mereka pulang lewat Ende . namun hujan membuat jalan di Ende runtuh. Maka mereka terpaksa mengalami gempuran ombak laut sawu ke kupang baru kemudian, dengan kapal ke Ende dan terus ke Bajawa. Kesan saya waktu masih remaja: orang ini punya kekhususan. Lalu saya datang, dan alami sendiri kekhususannya itu adalah: kesabaran, keRAMAHAN, ketabahan, keuletan dan kebapaan.

 

Kalau kita membandingkan kehidupan di Bogenga dan Paroki Santo Yosef sejak tahun awal sampai saat ini maka kita akan mendapatkan perbedaan yang amat besar. Dulu hanya ada dua pater, P John Britto, OCD dan P. Thom yang menangani pelayanan di Paroki serentak di Biara. Sekarang pelayanan rohani sdh ditangani oleh banyak Pater.  Dulu, P. Thom  tidak pakai mobil. Ia setiap setengah lima pagi, sudah menyalakan mesin motor Yamaha, yg sekarang diparkir rusak di samping aula belakang Paroki St. Yosef. Itu satu2nya kendaraan yg dimiliki biara ini saat itu. Bandingkan saat ini….kita harus berterima kasih kepada P. Thom dan P. John Britto  dan syukur kepada Tuhan. Selanjut setiap pagi kelihatan bahwa P. Thom  selalu menggunakan jaket tebal menembus dingin dan kabut pagi Bajawa waktu itu. Perlu diingat, daerah sekitar Biara masih dipenuhi dengan pepohonan kopi dan dadap dan enau. Karena itu udaranya masih terasa amat dingin dan menusuk sampai ke tulang. Namun, kelihatan bahwa P. Thom yang setiap hari misa jam 5 pagi itu tidak merasakannya. Suatu saat, P. John Britto, diserang stroke. Kami bingung, pastor sudah tinggal dua, sakit parah, mau jadi apa? Hanya satu-satunya harapan kami adalah P. Thom.

 

Merasa menjadi sandaran kami angkatan pertama, P. Thom begitu penuh pengorbanan. Bayangkan, misa di Paroki jam 5 pagi, melayani pengakuan, mememperhatikan kelanjutan pembangunan gereja, melayani misa di stasi-stasi dan tidak lupa, kami di Bogenga. Waktu itu P Thom sendiri yang menjadi magister kami. Kalau sudah sibuk, ia hanya tinggalkan tugas, terus kami selesaikan dan malam baru berkumpul.

 

Pertanyaan yang muncul: apakah ada novis angkatan perdana yang bolos di tengah pengorbanan seorang magister pertama? Kelihatan agak sulit untuk bolos. Belum ada rumah di sekitar sini. Batas hutan masih di SD I Watutura. Kemudian kalau muncul di kota semua orang pada tegur: Fraterr,  jalan-jalan  ke mana. Hati-hati…” jadi, sekalipun hanya satu pastor untuk kami, tetapi ada semacam karya Tuhan yang menyertai kami untuk bersemangat membantu P Thom.

 

Saya juga ingat, kalau rekreasi, Pater Thom selalu memilih bermain kartu. Dan permainan menjadi amat serius. Kadang saling marah dan saling mempersalahkan. Tapi dari situ muncul keakraban. Keakraban juga terlihat dalam makan bersama. Ketika kembali dari pelayanan di stasi, P Thom  selalu bawa sesuatu. Misalnya pisang, advokad, markis, jambu air dll. Apakah ia simpan di kamarnya? Tidak pernah. Ia dari stasi bersama sopir waktu itu, Bapa Kobus, langsung bawa ke dapur untuk dihidangkan di kamar makan. Kalau tidak sempat dihantar ke kamar makan, beliau akan menyuguhkan saat rekreasi.

 

Dari  sedikit tentang P Thom di atas, kita dapat menarik satu pesan kecil untuk kita semua. P Thom. Kisah tentang sebuah  sepeda motor bebek Yamaha dan rekreasi dengan makanan camilan pisang masak kiriman dari stasi2 yang dibawa P. Thom.  Bagi saya, pesan itu adalah KASIH, AGAPE, kasih yang selalu memberi tanpa sisa untuk kehidupan dan kelanjutan hidup orang lain. P. Thom punya AGAPE, agar Ordo OCD ini bisa eksis terus di Indonesia. Agar, OCD yang pertama hanya mulai dengan ‘satu sepeda motor bebek Yamaha itu”, boleh memiliki lebih dari satu kendaraan. Tentu bukan untuk show dan hidup mewah, tetapi untuk semakin memperluas pelayanan dan pewartaan Injil dan juga menebarkan spiritualitas doa kontemplasi Karmel Teresa kepada sesama.  Hanya dengan kasih yang selalu memberi ini, kita bisa memberi diri, waktu, perhatian, pengorbanan kepada sesame.

 

Bapa kita P. Thom sudah menunjukkan hal itu. Ia memberi diri seutuhnya setiap hari kepada Tuhan dan sesame. Ia memberi diri dalam pelayanan kepada umat, dgn setiap pukul setengah lima pagi dalam dingin untuk misa pagi di Gereja. Terus misa lagi di Biara, terus misa di stasi. Belum lagi pembangunan Gereja dan BIara. Semua jika tanpa kasih yang memberi diri, tak mungkin ada sukses nyata seperti ini. Maka, mari kita belajar utk selalu siap memberi diri, mempersembahkan diri setiap hari. P. Thom sudah menjadi persembahan yang harum kepada Tuhan dengan sekian pencapaian kiprah OCD Indonesia. Semoga keharuman semangatnya itu juga menjadi semangat kita. Amin.