TELADAN YANG SELALU MEMBAHARUI

 

Imagen

Hari ini Gereja sedunia merayakan pesta St Petrus dan Paulus, dua saudara sejati dalam iman akan Yesus Kristus. Kedua tokoh ini disebut sebagai pillar-pilar utama bangunan Gereja. Dari dua saudara sejati ini, Petrus dikenal sebagai BATU, seorang yang teguh, berdiri kokoh sebagai pemimpin Komunitas Kristen Yahudi, Antiokia dan Roma. Kemudian, Paulus adalah rasul bangsa-bangsa yang dikirim ke daerah-daerah terpencil, daerah-daerah perbatasan untuk pekabaran Injil Yesus Kristus kepada kaum luar Yahudi di Galatia, Atena dan Tesalonika.

Namun dua saudara sejati ini, bukan saja selalu akur, mereka bahkan pernah saling debat. Ambil contoh di Surat kepada umat di Galatia 2: 11-12. Paulus katakan: “Saya menentang Petrus dari muka ke muka sebab ia benar-benar salah”. Petrus lalu mengubah pandangannya yang tidak mau menerima perbedaan antara orang-orang bersunat dan tidak bersunat, agar mereka bisa duduk makan semeja. Bagi Paulus, semua harus satu, semua diterima, semua Katolik, bisa menerima perbedaan dan mengenyahkan sikap yang membedakan.

Kesempatan lain juga menjadi inspitasi bagi kita, yakni bagaimana Petrus harus mengubah masa lalunya. Petrus membolehkan dirinya dikuasai oleh Roh Kudus, dan karena itu ia dapat mengenal Yesus Kristus sebagai Mesias, Putra Allah yang hidup. Tuhan pun menghembusi kelembutan Roh Kudus kepada Petrus dan menjadikan Petrus dengan nama baru: Simon anak Yonas, engkau adalah Petrus (Kefas) dan di atas batu karang ini, akan Kudirikan GerejaKU.

Masih dalam injil Matius, 5 ayat setelah ini, kita temukan bahwa Yesus tidak memanggil Petrus sebagai Kefas tetapi sebagai setan penggoda. Apa kiranya yang menjadi pembeda antara Kefas dan setan?

 

Paus Emeritus Benediktus ke 16 berkata: yang menjadi pembeda Kefas dan setan adalah saat di mana Simon Petrus bertindak berdasarkan darah dan dagingnya sendiri. Itulah yang membedakan bahwa manusia bukan apa-apa. Manusia tanpa Tuhan hanyalah seonggok daging lemah. Persoalnya, manusia suka menonjolkan dirinya. Manusia sering lupa sama Tuhan. Beda kalau saat Petrus menggunakan kuasa dari Roh Allah: semuanya ajaib.

Kalau dari Allah, maka segalanya menjadi baik. Contoh bagi kita, yakni ketika Petrus dan rasul-rasul ditangkap dan dipenjarakan di Yerusalem. Sebagai tokoh pewarta Kabar Baik, Petrus dkk pernah ditangkap dan dipenjarakan. Dalam Kisah Rasul-rasul bab 5 diberitakan bahwa pada malam hari, malaikat Tuhan datang dan membebaskan Petrus dkk. Caranya pun mencengangkan para sekuriti di sana. Pintu-pintu penjara terkunci sementara para rasul itu telah bebas dan memberitakan Kabar Gembira di Bait Allah, tanpa takut ancaman. Yang menarik juga adalah tentang cara malaikat Tuhan memerintah Petrus: Siapkan diri, pergi, berdirilah dan beritakanlah.

Petrus pun bersiap, ia pergi ke mana-mana, siap berdiri mewartakan berita kesukaan tentang Yesus Kristus dan bahkan siap menyerahkan nyawa di kota Roma.

Kitapun bisa seperti Petrus. Petrus pernah berdosa. Pernah 3 kali menyangkal. Pernah dicap setan oleh Yesus. Petrus itu orang berdosa. Kita juga orang berdosa. Bedanya, Petrus sadar dan bertobat dan membiarkan diri dikuasai oleh Tuhan. Kita? Masih tanda tanya. Namun tidak salah juga kalau kita mau belajar dari sikap Petrus. Kita bisa dipenjara. Kita dipenjara dosa. Kalau kita lebih tonjolkan daging dan darah manusia kita, maka kita akan tetap dipenjara dosa. Kalau kita tetap hidup dalam kedagingang, kita hanya akan menuai kebencian, konflik, pertikaian, perbantahan, permusuhan dan tak ada kedamaian.

Maka, belajar pada Petrus. Kalau ada penjara dosa dan salah jangan simpan di dalam hati. Biarkan hati kita dikuasai oleh hembusan lembut Roh Tuhan. Minta Tuhan beri petunjuk dan bimbingan. Kalau kita tonjolkan Tuhan, maka hidup kita pun lebih diwarnai oleh kasih dari Tuhan. Di sana kita akan membawa damai, kelembutan, kehalusan budi. Kalau ada persoalan, jangan putus asa. Ingat, Petrus sekalipun di malam gelap, dalam penjara yang mengungkung, dibebaskan oleh Tuhan, maka kita pun percaya bahwa sekalipun hidup ini kadang gelap dan pekat, namun kalau ada Tuhan semuanya pasti berubah. Kita juga berdoa pada kesempatan ini untuk bangsa dan negara kita. Lagi beberapa hari kita melaksanakan pilpres. Kita doakan semoga bangsa kita dilindungi dan dibimbing Tuhan. Apa pun perbedaan kita, kita serahkan pada Tuhan. Tuhan bisa bekerja dahsyat dalam kelembutan. Kekuatan doa sudah terbukti dengan rosario yang digalakkan Santo Yohanes Paulus II ketika meruntuhkan sebuah kejayaan komunisme Uni Syoviet. Kita percayakan negara dan bangsa kita dalam doa-doa kita. Amin.