DURI DALAM DAGING

20140702_084201

Hidup adalah penderitaan. Lebih banyak susah dan derita. Apakah kita menyerah dan putus asa lalu lari mencari kehidupan lain di luar Tuhan?

Banyak orang yang demikian. Mereka lari dan tidak menghadapi tantangan kehidupan dan kenyataan yang tidak gampang ini. Mereka tidak seperti Yesus dan Paulus yang berani menghadapi tantangan, penolakan, penganiayaan bahkan nyawa menjadi taruhan mereka. Yesus yang Tuhan sendiri harus alami penolakan, penderitaan dan wafat di Salib. Lalu selesai. Apakah betul selesai? Ternyata tidak. Dibalik derita, di balik salib, ada kegembiraan dan sukacita Paskah Kebangkitan.
Mungkin ada banyak orang yang berkata, kita ikut Yesus supaya hidup kita aman. Kita dipanggil Tuhan supaya kita hidup tenang dan damai. Sabar dulu. Barangkali itu rayuan gombal. Sekadar suatu lips service. Ternyata ikut Yesus berarti: siapa yang mau mengikuti Aku harus bisa menyangkal diri….dan ….memanggul salib…baru ikut Aku….Kalau yang tidak bisa sangkal diri, maka salah satu syarat sudah tidak dipenuhi alias tidak lulus seleksi menjadi pengikut dan murid Kristus. Menjadi murid Kristus, kalau dalam bahasa Inggris disciples atau bahasa Spanyol, discipulos…berhubungan dengan disiplin. Itu berarti disiplin diri. Nah, di sini letak beratnya penyangkalan diri. Contoh menyangkal diri. Kalau sedang puasa…ada yang mengganggu saya…apakah saya bisa tahan marah atau tidak? Apakah saya bisa menyangkal kemarahan terhadap orang yang saya benci dan mengubahnya menjadi sebuah doa bagi dia dan berkat bagi dia ataukah saya mendamprat habis-habisan dengan kata-kata kebencian dan pandangan kebencian dan kutukan kebencian? Di sini letak kedisplinan diri yang berangkat dari kedispilinan roh dan batin. Santa Teresa dalam buku Jalan Kesempurnaan, coba baca cukup tiga bab dari bab 10, 11, 12…bagaimana dia ajak kita untuk sangkal diri. Sangkal diri dari ingat diri, dari rasa hormat dan dari rawat diri….

Tapi baik kalau kita kembali ke bacaan kita. Kita coba lihat St. Paulus. Bacaan ini  diambil dari Surat kedua Santu Paulus kepada jemaat di Korintus. Kita baca dari bab 12. Dari ayat satu, kita lihat suatu warna mistik yang kuat dari pengalaman Paulus, yang dipanggil Tuhan dengan cara khusus. Paulus alami penglihatan-penglihatan, visiones, dan dia tahu ada orang yang sudah tiba pada ruang ketiga bahkan sudah sampai pada Firdaus, ruang ke tujuh…kita teliti bacaan ini….biar seperti kursus Kitab Suci, tak apalah, hitung-hitung belajar lagi….: “12:1 Aku harus bermegah, sekalipun memang hal itu tidak ada faedahnya, namun demikian aku hendak memberitakan penglihatan-penglihatan dan penyataan-penyataan yang kuterima dari Tuhan.12:2 Aku tahu tentang seorang Kristen; empat belas tahun yang lampau — entah di dalam tubuh, aku tidak tahu, entah di luar tubuh, aku tidak tahu, Allah yang mengetahuinya — orang itu tiba-tiba diangkat ke tingkat yang ketiga dari sorga.12:3 Aku juga tahu tentang orang itu, — entah di dalam tubuh entah di luar tubuh, aku tidak tahu, Allah yang mengetahuinya –12:4 ia tiba-tiba diangkat ke Firdaus dan ia mendengar kata-kata yang tak terkatakan, yang tidak boleh diucapkan manusia.
12:5 Atas orang itu aku hendak bermegah, tetapi atas diriku sendiri aku tidak akan bermegah, selain atas kelemahan-kelemahanku.(kerendahan hati Paulus)12:6 Sebab sekiranya aku hendak bermegah juga, aku bukan orang bodoh lagi, karena aku mengatakan kebenaran. Tetapi aku menahan diriku, supaya jangan ada orang yang menghitungkan kepadaku lebih dari pada yang mereka lihat padaku atau yang mereka dengar dari padaku.12:7 Dan supaya aku jangan meninggikan diri karena penyataan-penyataan yang luar biasa itu, maka aku diberi suatu duri di dalam dagingku, yaitu seorang utusan Iblis untuk menggocoh aku, supaya aku jangan meninggikan diri.12:8 Tentang hal itu aku sudah tiga kali berseru kepada Tuhan, supaya utusan Iblis itu mundur dari padaku.12:9 Tetapi jawab Tuhan kepadaku: “Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna.” Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku.
12:10 Karena itu aku senang dan rela di dalam kelemahan, di dalam siksaan, di dalam kesukaran, di dalam penganiayaan dan kesesakan oleh karena Kristus. Sebab jika aku lemah, maka aku kuat.
Kita lihat, Paulus seorang yang dekat dengan Tuhan, seorang mistik hebat dan rendah hati. Hebatnya Paulus, hanya orang-orang hebat, yang tidak membanggakan apapun dari dirinya sendiri. Ia yang tidak bodoh membuat dirinya biasa saja supaya Dia yang memilih dan memanggil Paulus, Tuhan yang lebih diagungkan dan dibanggakan, bukan diri sendiri”.

Santa Teresa juga demikian. Ibu kita ini seorang mistik yang tidak kalah hebatnya. Tetapi kerendahan hati yang selalu mendorong dia berkata: Aku seorang wanita yang bodoh. Namun kita lihat secara teleti, ternyata Teresa juga pernah digoda dan diganggu iblis dalam doa-doa yang mendalam. Ia nasihatkan supaya hati-hati dengan setan Lusifer. Lusifer itu dari kata Lucem, yang berarti terang. Bahasa Spanyol, la Luz berarti terang. Nah, Lucifer sebenarnya malaikat terang tetapi karena kesombongannya ia melawan Allah. Terus ia didepak dari hadapan Allah dan harus terus berada dalam pertempuran dengan malaikat-malaikat yang baik dan rendah hati dan setia terhadap Tuhan. Nah, St. Teresa nasihatkan, jangan sekali-kali percaya pada Lucifer, si iblis bapak dari segala kebohongan. Santa Teresa katakan bahwa ada beda yang besar sekali antara malaikat pembohong dan malaikat yang baik. Bisa baca di buku Hidup, saya juga baca di buku The Eternal Mystic, tulisan Pater Joseph Glynn, OCD dan sangat bagus. Di situ, Pater Glynn jelaskan bahwa kalau malaikat yang baik itu bawa damai sejati, cinta sejati, sahabat sejati dan keheningan batin dan lahir. Tapi kalau Luci…bawa yang buruk-buruk. Maka jangan percaya. Dia hanya tawarkan yang bagus, terang yang sangat terang tapi silau.  Penderitaan harus kita hadapi dengan keberanian di dalam iman. Jangan takut karena Yesus sendiri juga pernah alami. Dia pernah menderita dan sangat menderita dan Dia tahu jalan-jalan yang benar untuk mengatasi semua itu. Dia bukan orang lain, Yesus itu sahaba kita; sahabat yang paling dekat. Dia katakan, Aku telah memberitahukan semua yang Ku dengar dari BapaKu, kamu ada sahabatKu, bukan hambaKu. Aku telah memilih kamu supaya kamu berbuah banyak dan buahmu itu tetap. Kita serahkan segala doa kita,  ke dalam tangan Sahabat paling setia kita, Yesus Kristus.