CINTA DI BIRUNYA LAUTAN

 

 

20160120_140651

          CINTA DI BIRUNYA LAUTAN, adalah sebuah kisah fiktif berangkat dari refleksi atas kehidupan di tempat yang barusan kami kunjungi. Sebagai refleksi, kami coba membawa siapa saja yang membaca tulisan ini ke tempat yang bernama Lembata. Refleksi yang menjadi suatu ajakan untuk berdialog dalam batin tentang proses maju dan mundurnya suatu kehidupan. Ternyata, proses kehidupan yang dibangun, mencatatkan sejarahnya sendiri. Sejarah yang tidak dapat direkayasa. Sejarah kehidupan yang terbangun begitu saja, sekaligus tercatat apik dalam sanubari setiap manusia yang pernah terlempar ke dalam kesejarahan itu sendiri. Dalamnya, tercatat abadi segala sesuatu yang indah dan menarik, segala yang baik dan menghidupkan, tetapi juga serentak merekam segala bentuk kejahatan, kebobrokan dan ketimpangan.

          Tidak dapat dilupakan suatu hal ini: kisah kasih dan cinta dari para pelaku sejarah kehidupan. Jika bukan karena cinta, maka kehidupan ini tak akan bertahan dan berkembang. Dengan demikian, benar kata-kata berbahasa Spanyol ini: “Pon amor y sacaras el amor”, “tanamkan cinta, maka cinta jua yang akan dipetik” (San Juan de la Cruz).

         Dalam cinta kepada semua yang mencintai, kisah Cinta di Birunya Lautan dihadirkan di hadapan kita semua. Cinta, bukan hanya sebatas soal erotika, cinta tidak hanya sebatas permainan emosi sesaat lalu lenyap. Cinta adalah segalanya, cinta adalah kehidupan dan kehidupan tidak hanya sampai pada hilangnya denyut nafas manusia. Cinta melampaui segalanya…. Selamat membaca, selamat bermenung dan selamat bercinta.

Lembata, Kupang, Yogyakarta, Surabaya dan Trawas

September-Oktober 2016