KECEMASAN DAN KEYAKINAN

Bunga di tepi jalan
Bunga di Tepi Jalan

“Dapatkah Tuhan melupakan anakNya?” Mungkin kita bertanya seperti itu,dan bacaan pertama, sabda Tuhan sendiri menjawab: “Dapatkah seorang perempuan melupakan bayinya,sehingga ia tidak menyayangi anak dari kandungannya? Sekalipun ….. ia melupakannya, Aku tidak akan melupakan engkau…..” Allah mau menggambarkan kasihNya, bahwa kasih yang Ia miliki melebih kelembutan kasih seorang perempuan kepada anaknya. Bisa juga, jadi kritik manusia dewasa ini dengan maraknya pembuangan bayi orang ibu yang mengandungnya atau aborsi provokatur (aborsi yang dilakukan dengan tahu dan mau dengan segala rencana….melenyapkan kehidupan seorang dari dalam rahimnya sendiri).

Seorang pemuda nakal, berubah menjadi baik, ketika ia bertemu dengan seorang gadis. Semasa SMA anak ini sudah bergaul dengan narkoba dan wanita-wanita yang tidak baik hidupnya. Ketika bertemu dengan “angelita”, anak muda ini terpengaruh dengan sikapnya yang lemah lembut. Ia diajak untuk tidak ugal-ugalan, agar melepaskan narkoba, agar lebih rajin ke Gereja dan berdoa. Terakhir, mereka memutuskan untuk berziarah bersama ke suatu tempat ziarah Bunda Maria yang terkenal. Mereka berjalan bersama, dan sungguh larut dalam suasana doa. Ia yakin, hidupnya berubah dengan perkenalannya dengan Angelita. Setelah pulang, Anjelita ternyata memutuskan masuk biara Suster. Ia kaget tapi tidak bisa menahan keinginan Angelita. Rasanya tulang-tulangnya menjadi lepas, ia lemas tapi apa mau dikata. Semuanya harus terjadi seperti ini. Ia kemudian memutuskan untuk kembali ke hidup yang lama. Beberapa hari tenggelam dalam kesalahan narkoba yang sama, perempuan-perempuan nakal dll, ia sadar bahwa ini semua tidak berarti. Namun ia bimbang, apakah sendirian ia mampu memulai hidup yang lebih baik? Di antara rasa bimbang, ia jalan saja ke Gereja di parokinya. Ternyata, umat yang lain sedang mengarak patung Bunda Maria. Melihat kedatangannya, beberapa orang pemuka umat memanggilnya untuk turut memikul tenda patung Bunda Maria. Ia merasa berat, tidak pantas dan kotor. Namun, semuanya sudah terjadi, keputusannya untuk datang ke Gereja saat itu telah mendorong dirinya untuk terus teratur datang ke Gereja dan berusaha hidup baik, seperti orang-orang lain di sekitarnya.

Kadang, ada suatu saat di mana kita harus memberi keputusan untuk menyatakan “ya” atau “tidak”. Keputusan kita ini yang akan menentukan seluruh diri kita. Jika kita terlambat melakukan keputusan, maka hidup kita bisa tidak memiliki orientasi. Kita berjalan dalam kegelapan.
Hari ini, injil mengajak kita untuk belajar memilih antara Allah atau mammon. Mari kita lihat secara lebih jeli tentang Injil ini: Tak seorang pun dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian, ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Mengabdi kepada dua tuan….ini bukan saja suatu peringatan, melainkan suatu kenyataan hidup. Yesus melihat kenyataan bahwa manusia gampang terpecah. Terpecah oleh apa? Oleh cinta dan benci. Kepribadian manusia bisa seimbang dan harmonis kalau satu, kalau hanya ada cinta. Kalau dibagi dengan kebencian, manusia tidak mengalami kebahagiaan atau disharmoni. Ini bukan soal sepeleh. Ini bukan soal perasaan dan emosi saja. Melainkan soal pilihan. Memilih hal yang lebih berguna dan melepas hal yang tidak berguna. Soal memilih ini berkaitan erat dengan soal cinta dan benci. Lebih lanjut mari kita baca lagi: kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon. …Ini yang menjadi soal bagi manusia. Mammon, dalam bahasa Yunani diterjemahkan sebagai kekayaan, namun harus diperhatikan baik-baik, jika kata Mammon itu diawali dengan huruf besar, M huruf besar, maka artinya sudah berubah. Mammon dengan awal huruf besar ini berarti nama dari seorang dewa bangsa kafir. Kafir artinya yang tidak memiliki agama. Orang yang tidak percaya pada Allah. Nah dalam hubungan dengan Mammon ini, kita harus melihatnya dalam dua segi. Pertama, kalau mammon ini dijadikan milik, itu bukan menjadi soal. Sehingga dikatakan, gunakan Mammon selagi ia dapat digunakan untuk kebaikan, namun jangan dikuasai oleh Mammon. Di sini Yesus tidak melarang orang menggusahakan kekayaan. Tetapi…Yesus menasihatkan lebih dalam: “Jangan menimbun harta kekayaanmu di bumi…tetapi…timbunlah kekayaan untuk masa depan di Surga. Dalam hal ini, kalau Mammon ini dijadikan tuan bagi diri kita, maka kita menjadi pelayan dan hambanya. Kita menjadi sama dengan tuan kita, “Mammom”yang tidak berguna ini.

Kita coba memberi waktu untuk melihat beberapa ayat dari Injil hari ini? Mungkin cukup satu ayat lagi. Yesus tidak berhenti dalam soal Mammon. Ia maju menggelitik hati manusia, Ia tahu, manusia itu seperti apa? Ia tahu…. Manusia itu makhluk yang selalu cemas. Dan kecemasan, kekawatiran dan kegelisahan itu melumpukan manusia. Salah satu iklan tv di Indonesia, tentang nasi kalau tidak salah….di situ ditayangkan dua anak yang mengeluh tentang makanan yang tidak enak: malessss. Ga enak dll. Dua ana kecil itu kelihatan males dan tidak bergairah. Itulah kecemasan … membuat kita tidak bergairah dan tidak bertenaga dan melumpuhkan usaha kerja di otak, memori dan hati. Lawannya…..keyakinan. keyakinan dan terlebih iman, menguatkan kita untuk menghadapi kehidupan ini dengan kepala tegak. Maka tidak mengherankan bahwa Yesus mengambil contoh tentang burung dan bunga yang tidak bekerja mengumpulkan harta namun indahnya melebih keindahan dari sebuah kekayaan manusia. Manusia lebih berharga dari burung dan bunga. Karena itu, benar juga ungkapan kebijaksanaan orang Jawa. Setiap manusia, setiap anak manusia ini, tidak mungkin hidup tanpa rejeki. Allah yang menghadirkan manusia, Allah juga pasti menyiapkan apa yang perlu untuk kehidupannya. Karena itu, bapa, ibu, saudara-saudari terkasih. Kuatlah dalam iman. Iman tidak membuat kita malas, iman tidak mengajarkan kita untuk tidak memiliki rencana hidup. Iman mengajarkan kita untuk kuat menghadapi kecendrungan manusia yang cemas dengan harta benda. Ingat, dunia ini hampir hancur dengan materi, dengan prinsip komunisme Marxis, bahwa segalanya materi dan kecendrungan manusia zaman ini, adalah mau kejar materi dan kenikmatan atas materi. Namun, apa yang ia hadapi? Kosong…hatinya kosong. Ia tidak memiliki semangat, ia tidak memiliki roh dan gairah kehidupan karena imannya lemah atau bahkan kosong. Jika demikian, manusia gampang jatuh dalam kecemasan. Setelah cemas, ia menjadi stress. Setelah stress ia kehilangan kesadarannya. Dan ini berbahaya. Orang gampang dihasut, orang mudah menjadi marah dan bisa melakukan kejahatan yang paling mengerikan. Mari….kita kembali ke pada iman, mari kita masuk dalam dada kita, menyatakan bahwa Aku mencintai imanku.

Iklan

MERENUNG SAMBIL MENGENANG PERJALANAN PERDANA OCD

Capilla de San Antonio - Basque Country
Pelabuhan hati

Setelah Gempa Bumi dan Tsunami Flores, 19 tahun yang lalu, kami terpaksa batal memulai studi filsafat teologi di Ledalero. Terus, tahun 1993, bersama P. Thomas Kalloor, OCD(alm) dan P. Joseph Marottikkai Parambil, OCD menumpang Kapal Pelni Kelimutu menuju Kupang. Dua puluh frater OCD angkatan perdana mengawali kuliah filsafat teologi di Fakultas Filasafat Unika Widya Mandira Kupang Timor, bergabung dengan 18 frater dari keuskupan Agung Kupang, Keuskupan Atambua, Keuskupan Dili (yang waktu itu masih menjadi bagian dari Republik Indonesia), Keuskupan Weetebula dan Fratres Kongregasi Claretian (CMF). Semuanya serba baru. Semuanya angkatan perdana. Semuanya harus bisa membagi waktu dan tenaga untuk belajar, membenahi Kampus, membenahi Rumah Pembinaan Masing-masing Komunitas (Seminari) dan menggauli kehidupan baru di tengah kota Kupang yang syarat dengan pelbagai macam problema perkotaan.

Ada satu hal menarik dari penampilan fraters OCD adalah memakai jaket warna biru tua, bertuliskan OCD (Ordo Karmel Tak Berkasut) saat perjalanan di Kapal Laut maupun di Ferry. Juga kadang, memakai kostum baju kaus coklat dengan tulisan yang sama. Maksudnya, supaya ketika berada di tempat umum, di antara orang banyak, kami dapat langsung saling mengenal.

Pada hari Minggu ini, kitapun mempersiapkan diri untuk ikut serta dalam Ibadat hari Minggu. Kelihatan bahwa banyak orang yang harus memakai pakaian necis, dan rambut yang tertata menarik dan rapi. Maksudnya bahwa, kita hendak masuk ke Gereja atau Kapel dengan penampilan yang pantas. Seingat saya, tahun 2007 di Madrid Spanyol, tepatnya di di Iglesia de San Andres, para wanita diwajibkan memakai pakaian yang pantas. Bukan rok mini yang terangkat ke atas atau juga bukan jeans. Kalau tidak, petugas di Gereja langsung menyodorkan kerudung tipis untuk disarungkan dan kerudung yang lain untuk dikenakan sebagai tutup kepala. (Mungkin mengacu pada pesan Santo Paulus, tentang bagaimana wanita beribadah dengan benar).

Berpakaian pantas untuk mengikuti Ibadah adalah wajar. Namun ada sesuatu yang lebih penting dari itu. Pakaian yang dikenakan hati kita. Apakah hati kita sudah disiapkan dan didandani dengan pelbagai kebajikan sebagai Anak-anak Allah? Ataukah Gereja dan Ibadah hanya menjadi ajang “fashion show”. Mari kita siapkan diri kita……

Di atas Brooklyn Bridge
Di atas Brooklyn Bridge

DATANG DAN LIHATLAH….
Yesaya, seperti yang sering kita dengarkan dalam refleksi adven, mengingatkan orang Israel di pembuangan bahwa Allah masih dekat dengan mereka. Mereka diberikan harapan dan kegembiraan tentang suatu tanah air yang dijanjikan. Mereka ada bangsa yang dijanjikan Allah dengan suatu tanah terjanji. Ungkapan Yesaya yang baru kita dengar tentang Hamba Yahwe, bukan hanya ditujukan untuk dirinya sendiri, melainkan untuk semua dan setiap anak Israel.
Bacaan pertama dari Yesaya ini tidak berhenti di tema Israel sebagai Hamba Yahwe. Pesan Yesaya terus mengerucut kepada restorasi Israel, kepada pembaharuan kembali Israel. Namun lebih dari itu, terang yang lebih besar, terang kehidupan itu akan memancar dari kelompok kecil bangsa Israel dan menerangi bangsa-bangsa lain di muka bumi ini. Israel sebagai Hamba Allah, menjadi lebih focus dan bahkan sangat focus dalam diri Yesus, Hamba Allah yang menjadi perpanjangan tangan cinta Allah kepada manusia. Pewartaan kenabian pun diteruskan.
“Oh mi vida, mi amor….eres mi luz…(Oh hidupku, cintaku…engkaulah mentariku)…”. Demikian sepenggal puisi yang dibawakan teman kuliah saya, ketika suaminya meninggal di kota Vitoria – Gasteiz. Bagi dirinya, Ander adalah terang bagi jiwanya, terang yang menyinari hari-hari hidupnya. Bagi dia, tiada yang lebih indah di dunia ini selain Ander. Ia sering memberi bunga, ketika berjalan bersama, ia petik bunga-bunga musim semi yang kecil-kecil itu dan memberikannya kepada Maria Jose Munoa dengan kata-kata: “Eres mi amor”…(Engkaulah cintaku). Cinta itu begitu kuat, sekuat maut. Beberapa bulan setelah kematian Ander, Maria Jose divonis dokter bahwa ia mengidap kanker. Saya sering kuatkan dia bahwa hanya orang yang hidup yang memberikan diri dan hati untuk memuji Tuhan. Kuatkan hatimu dan lawanlah dengan segala daya, penderitaan dari sakit ini. Namun ia balas, tidak…saya hanya ingin menyanyikan pujian kepada Allah bersama Ander di Surga. Biarlah kami berdua bersama selamanya. Ketika saya pergi ke stasiun Kereta Api untuk seterusnya ke New York dan Indonesia, ia gantungkan sebuah gitar spanyol yang baru ia belikan di toko musik. Ia katakan: “Yohanes….Ander sudah berangkat. Sekarang engkau pergi, bawalah gitar ini …. dan ketika engkau memetiknya, ingatlah bahwa itu engkau persembahkan untuk aku dan Ander”. Saya tiba di Indonesia. Beberapa bulan masih ada email dari Maria Jose”. Sekarang sudah sekitar setahun tidak ada lagi email darinya. Semoga ia aman, jika Allah berkehendak. Hanya itu harapan dan doa saya.
Injil Yohanes hari ini menghantar kita untuk datang dan melihat. Terang itu ada dan terang itu ada untuk dilihat. Kalau kita membaca Prolog Injil Yohanes, kita akan melihat dan terpesona dengan 19 ayat pendahulu Injil Yohanes ini. Secara khusus kita datang dan melihat ayat 4-9: Dalam Dia ada hidup dan hidup itu adalah terang manusia.
1:5 Terang itu bercahaya di dalam kegelapan dan kegelapan itu tidak menguasainya.
1:6 Datanglah seorang yang diutus Allah, namanya Yohanes;
1:7 ia datang sebagai saksi untuk memberi kesaksian tentang terang itu, supaya oleh dia semua orang menjadi percaya.
1:8 Ia bukan terang itu, tetapi ia harus memberi kesaksian tentang terang itu.
1:9 Terang yang sesungguhnya, yang menerangi setiap orang, sedang datang ke dalam dunia.
Dua minggu yang lalu, kita merayakan pesta epifania. Yesus, sang terang itu menampakkan diriNya kepada orang-orang, majus dari dunia luar Israel-Yahudi. Kemudian, penampakan terus terjadi. Yesus dibaptis sebagai Anak yang dikasihi Bapa. Dan Yohanes selalu dengan segala cinta dan kerendahan hati menyatakan bahwa dirinya bukan Terang itu. Aku bukan Mesias, tetapi Ia yang datang kemudian, lebih besar daripadaku. Ia sebenarnya telah ada sebelum aku. Yohanes, tidak silau oleh cinta diri, ia tidak silau oleh kepentingan dan ambisi diri. Ia sungguh orang yang mempersiapkan kedatangan terang itu, Yesus Sang Mesias, Yesus Kristus.

Mengikuti ajakan Yohanes…Lihatlah…Anak Domba Allah. Datang dan lihat apa yang Ia lakukan. Ia yang membawa tanda-tanda. Ia yang adalah Anak Allah. Datang dan lihatlah, Air dijadikan Anggur, Orang Sakit disembuhkan, orang lumpuh berjalan, orang buta melihat, orang kusta menjadi sehat dan orang mati dibangkitkan. Mari….datang dan lihatlah Anak Domba Allah. Biarkan diriNya menjadi sinar jalan kehidupan kita. Biarlah sinar cinta menyinari hati dan seluruh diri serta seluruh kehidupan kita. Ketika kita adalah anak-anak terang, kebenaran dan kasih menjadi identitas diri kita. Semoga.

MENCINTAI GEREJA KITA

1. Introduksi
a. Hari Minggu yg lalu kita merayakan pesta Penampakan Tuhan Yesus kepada tiga sarjana dari Timur. Kita lihat, Yesus masih kecil, seorang bayi yang harus menempuh perjalanan jauh ke Mesir. Korban utk Yesus pun tidak main-main: banyak anak kecil yang dibunuh oleh Herodes.
b. Minggu ini, (kita berada dalam hari Minggu, tradisi Gereja sore hari Sabtu, kita sudah mulai mendoakan Ibadat Sore satu untuk Hari Minggu. Jadi kita sudah berada dalam perayaan hari Minggu, secara khusus merayakan pesta pembaptisan Tuhan. Kita mau melihat dan menimba rahmat dan makna pembaptisan Tuhan. Gambaran yang penting di sini adalah kerendahan hati: kerendahan hati seorang hamba. Dalam kebersamaan kita mau melihat kerendahan hati dari Yesus, hamba Allah dan peristiwa pembaptisan sebagai symbol satunya Yesus dengan kita orang berdosa, sekalipun Ia tidak pernah berdosa.
c. Pemeriksaan Bathin.

Padre Antonio, Maria Jose Munoz y Padre Tomas
Padre Antonio, Maria Jose Munoz y Padre Tomas

2. Homili
a. Kita melihat bagaimana dua tokoh besar: Yohanes Pembaptis dan Yesus Kristus saling ingin dibaptis, saling mau merendahkan diri. Selanjutnya, Yohanes Pembaptis mengalah dan mempermandikan Yesus. Dari peristiwa ini, sebenarnya yang lebih mendalam sikap kerendahan hatinya adalah Yesus. Mengapa? Karena Ia mau bersama, Ia sungguh bersatu dengan kita,manusia …orang yang berdosa. Pembaptisan, sebenarnya merupakan suatu ritus pembersihan diri manusia dari dosa. Apa Yesus berdosa? Apakah Yesus bersalah? Tidak. Yesus tidak berdosa dan tidak bersalah. Namun Ia mau dibaptis. Artinya Ia mau menyatukan diriNya sungguh-sungguh dengan manusia. Di sini, Ia mau menyatakan bahwa di awal tugas Pewartaan-Nya, di usiaNya yang ke 30 itu, Yesus mau menegaskan bahwa kelahiranNya sebagai Putra Allah, bukanlah suatu kesia-siaan. Allah sudah menjadi satu dengan manusia,dalam kelahiranNya di Natal pertama. Allah yang sama ini,yang mengambil rupa kedagingan kita (daging, napsu daging: kelemahan kita sebagai manusia), sungguh-sungguh mau hidup bersama kita. Lebih dari itu, Ia mau merasakan bagaimana satuNya Ia dengan kita, sementara Ia tidak berdosa, Ia tidak terpengaruh dengan cara hidup manusia yang penuh dengan kecurangan dan dosa.
b. Ada seorang Suster, bernama Sr Glenda. Ia seorang Mexico. Ia hebat dalam menyanyi. Dan lagu-lagunya rohaninya banyak digandrungi orang-orang di Italia, Spanyol dan Amerika. Suatu kali ia bernyanyi: Nada es imposilbe para Ti (tidak ada yang mustahil bagi-Mu)….sambil mempermainkan gitarnya, ia berkata: pernah terjadi…Napoleon,dikator Prancis itu pernah berkata kepada seorang Kardinal tua: Saya akan menghancurkan gereja, saya akan merusak gereja. Kardinal itu berkata sambil memperbaiki jubahnya: hmmmm silahkan. Raja Napoleon kembali berkata dengan lebih serius: Anda dengar, saya akan merusak dan menghancurkan Gereja. Sambil tertawa, Kardinal itu berkata: menghancurkan Gereja ? hahahaaa, silahkan. Raja Napoleon kembali berkata dengan keras: Supaya kau tahu, saya akan menghancurkan Gereja”. Kardinal itu tersenyum lalu berkata: hmmmm, kalau mau menghancurkan Gereja, silahkan saja. Gereja bukan hanya saya, bukan hanya imam suster dll, gereja juga bukan hanya awam. Gereja pertama-tama adalah Tuhan. Hancurkan dulu Tuhan….heheheh”. Napoleon lalu pergi dengan jengkel.
c. Kalau kita menjadi anggota Gereja, pertama-tama kita dibaptis. Dengan pembaptisan kita menyatakan bahwa kita satu dengan Tuhan Yesus, kita selalu bersama Yesus. Dengan pembaptisan, kita mau menyatakan bahwa hidup saya sekarang bukan hidup yang dulu lagi, hidup untuk diri sendiri, melainkan hidup untuk Tuhan dan sesame. Dalam merayakan pesta pembaptisan Tuhan hari ini, kita juga mau melihat arti pembaptisan kita. Salah satunya kita sudah lihat, bahwa dengan pembaptisan kita berada bersama Yesus, Tuhan dan kepala Gereja. Yang kedua, dengan pembaptisan, kita mau mengatakan bahwa saya tidak sendirian, saya bersama sama saudara-saudari yang lain yang sudah dibaptis. Saya menjadi anggota Gereja, saya menjadi anggota suatu keluarga besar, yang terus bertumbuh sekalipun ada begitu banyak rintangan dan tantangan yang datang menghadang. Gereja, kita terus bertumbuh dalam kebersamaan dan kesatuan yang erat berpadu. Ingat Yesus katakan: Petrus, di atas dasar ini, akan Ku dirikan Gerejaku dan alam maut tidak akan mengalahkannya”.
d. Namun bagaimana kita hidup sebagai anggota Gereja? Bagaimana agar semangat sebagai anggota Gereja itu tetap menyala dalam hati kita masing-masing?
i. Kita, sebagai anggota Gereja memiliki iman di dada sebagaimana iman para Rasul. Namun beda, para Rasul melihat Yesus dan tanda-tanda heran yang Ia lakukan dan menjadi percaya. Tanda heran terbesar adalah kebangkitan Yesus dari mati. Injil katakana: Ketika melihat kubur kosong dann kain peluh serta kain kafan yang letaknya terpisah, maka ia percaya”. Para Rasul menjadi saksi kebenaran Yesus yang hidup dan bangkit.
ii. Lalu kita? Kita memang tidak melihat tanda heran itu. Kita tidak melihat air jadi anggur, roti diperbanyak, orang lumpuh berjalan dan orang mati dibangkitkan. Namun, suatu tanda heran yang kita sekarang saksikan adalah bahwa Gereja terus bertumbuh dan berkembang. Gereja seumpama sebuah pohon raksasa yang tidak pernah berhenti bertumbuh.
iii. Lalu apa peran kita? Sebagai seorang yang sudah dibaptis, kita ditugaskan untuk mewartakan injil, kabar baik Yesus kepada sesame. Kalau tugas ini tidak kita laksanakan kita melemahkan Gereja. Kita seperti Napoleon yang ingin merusak Gereja.
iv. Pernah seorang suami marah-marah sama istrinya. Pulang dari kantor rumah berantakan, tidak sesuai dengan seleranya, begitu juga makanan yang disiapkan tidak enak. Padahal istrinya sudah setengah mati membereskan rumah, hanya karena anak-anak kecil mereka yang suka bermain2, maka barang-barang yang sudah tertata, menjadi berantakan lagi. Makanan juga ia sudah berusaha memasak dengan segala cara yang paling baik. Karena merasa bosan dengan situasi ini, mulai suatu penyakit baru. Makan di luar, di warung dll. Akibatnya tidak hanya makan, tidur pun di luar, maka godaan untuk tidak setia pada sakramen perkawinan pun menghampiri hatinya. Untung, bahwa ia cepat tersadar bahwa ternyata ia mempunya istri dan anak. Ia pulang ke rumah dan berkata: “Ma….maafkan papa, papa selama ini sudah melihat dengan sudut pandang yang salah. Mama sudah bekerja, bekerja seperti seorang pembantu, seperti seorang hamba. Mama sudah begitu setia tapi yang saya balas ada memberi mama kekecewaan. Saya tidak merasa bertanggung jawab. Saya sudah mengkhianati kebersamaan kita yang begitu berharga. Ma…maafkan saya, saya berjanji untuk tidak melakukan hal ini lagi”. Sejal saat itu, suami ini lebih rajin ada di rumah. Membantu membereskan rumah, bahkan memasak untuk rumah dan teman2 yang bertamu.
v. Kebersamaan itu penting. Gereja kita terdiri dari manusia yang memiliki iman dan diharapkan iman yang kuat dan iman yang hidup dalam kebersamaan. Sebab kita berkata,kita punya iman, tapi tidak mencintai sesame di sekitar kita, maka kita sebenarnya belum beriman kuat. Kebersamaan ini,cinta dalam keluarga ini harus pertama-tama dipupuk, karena keluarga adalah suatu Gereja Mini.
vi. Gereja ini juga ditampakan dalam kerja nyata kita. Dari keluarga, kita mau menampakkan keluarga-keluarga yang beriman dalam kegiatan bersama. Tanpa kegiatan bersama kita tidak bisa menguatkan Gereja, kita tidak bisa juga menguatkan iman kita. Kita bahkan merongrong Gereja. Cukup hadir dalam pertemuan, kita sudah bisa menjadi satu bagian yang sangat berarti bagi Gereja. Namun, sekarang….kenyataannya…pertemua di Gereja, di lingkungan kebanyakan orang-orang itu saja. Pengalaman saya di salah satu daerah, kalau pertemuan, kebanyakan ibu-ibu dan anak-anak yang datang. Katanya mereka diutus bapak. Bapak-bapak, setelah saya cek, ternyata sibuk baca kartu…..Lho ini gimana…makanya, kami buat program. Minggu depan, doa di rumah si A dan setelah doa ada makan-makan dan main kartu juga rekreasi bersama. Bapak-bapak boleh bawa kartu sedangkan anak-anak boleh bawa gitar dan catur. Sejak saat itu, pertemuan dan kebersamaan mereka bertambah semarak dan makin bermakna. Bapak-bapak pun tidak mencari pertemuan di luar lagi.
vii. Gereja adalah kita yang sudah dibatptis. Dari Paus sampai anak terkecil di dalam Keluarga, kita membentuk suatu keluarga besar Gereja. Mari kita cintai kebersamaan kita ini.

YANG TERPENTING …. HIDUP

La Rosa de Bajawa
Hari-hari ini kita diselimuti baying-bayang kelam bencana meletusnya Gunung Merapi. Salah seorang yang turut menjadi korban adalah Mbah Maridjan. Mungkin bagi banyak orang kematian seorang Maridjan dan juga kematian begitu banyak korban adalah akibat dari suatu peristiwa gejala alam luar biasa. Namun ada suatu segi yang khusus dari sosok seorang Mbah Maridjan. Ia mati sebagai seorang abdi. Abdi yang setia kepada tugas yang diberikan tuannya, sekalipun bahaya maut menjadi resikonya. Kesetiaan itu, kesetiaan seorang abdi, seorang hamba itu terbayar tuntas, ketika awan panas merapi menerjang tempat “sang abdi Raja Yogyakarta” itu.

Kesetiaan itulah yang mau kita gali dalam refleksi kita. Dalam kitab Makabe, terlukis suatu kesetiaan akan keyakinan tujuh bersaudara plus ibu mereka dirajam dan dipaksa makan daging babi, yang dalam masyarakat Yahudi amat dilarang. Adalah najis makan daging babi. Kita tahu, Yesus dengan keras menghardik setan yang merasuki pribadi seseorang dan menyuruh setan itu masuk ke kawanan babi. Dan babi-babi itu mati. Babi menjadi symbol kenajisan. Karena itu, ketika dipaksa makan daging babi, dengan tegas anak kedua berkata dalam penderitaannya: “Memang benar,Bangsat, engkau dapat menghapus kami dari hidup di dunia ini, tetapi Raja alam semesta akan membangkitkan kami untuk kehidupan kekal, oleh karena kami mati demi hokum-hukum-Nya”. Mereka tetap menolak untuk tetap berpegang pada kesetiaan suatu keyakinan. Mereka tidak mau hanya melayani nilai sebuah rasa nikmat instant yang hilang seketika, mereka menolak demi pandangan spiritual mereka, bahkan lebih dari itu mereka menolak demi penghormatan mereka kepada Allah yang Maha Tinggi.

Kita juga melihat perikop Injil Lukas 20:27-38. Di sana ada dua kelompok dengan pandangan dan keyakinan yang berbeda saling berhadapan. Golongan Farisi meyakini dengan teguh akan adanya kebangkitan setelah mati. Sedangkan Golongan Saduki tidak percaya tentang kebangkitan setelah kematian. Bagi mereka adalah suatu ketidakmungkinan orang mati hidup, tidak ada harapan setelah kematian. Bahkan argument mereka ini dikuatkan dengan mengambil pandangan tokoh besar Musa dengan suatu setting kisah tentang tujuh bersaudara yang bergiliran mengawini seorang perempuan yang sama. Masing-masing berperan sebagai mempelai pria setelah setiap dari saudara mereka meninggal. Satu persatu mereka mati dan mengganti posisi sebagai suami. Persoalan di sini, demikian orang Saduki, salah satu fraksi kaum Yahudi itu, siapa yang akan menjadi suami saat kebangkitan orang-orang mati? Apa jawaban Yesus? Sederhana saja. Jawab Yesus: “Orang-orang dunia ini kawin dan dikawinkan, tetapi orang yang dianggap layak mendapat bagian dalam dunia yang lain itu dan dalam kebangkitan dari antara orang mati, tidak kawin dan dikawinkan”.

Lebih jauh, kita mau katakan bahwa pertanyaan orang –orang Saduki adalah perendahan terhadap esensi sebuah hidup perkawinan. Kisah yang dikarang kaum Saduki hanyalah sebuah kisah murahan untuk membenarkan kesempitan pandangan akan kehidupan yang dibatasi pada pandangan kehidupan material di dunia ini. Padahal manusia bukan hanya materi, bukan hanya badan. Manusia itu makhluk berbadan dan berroh dan berjiwa. Dalam kapasitasnya sebagai manusia yang memiliki badan, roh dan jiwa itu, perkawinan tidak bergantung pada suatu kewajiban menggantikan peran. Perkawinan adalah suatu relasi yang didasarkan pada CINTA. Oleh cinta itu, pasangan yang saling mengasihi, menjadi teman yang sepadan untuk saling bahu membahu menghantar langkah kepada kehidupan setelah kehidupan di dunia ini.

Topic karangan golongan Saduki ini juga bisa menjadi penghinaan kepada mereka yang memilih untuk hidup secara “single” alias tidak menikah. Seolah-olah orang diselamatkan kalau kawin. Padahal kawin atau tidak, merupakan suatu pilihan yang penuh tanggung jawab dalam kehidupan pribadi dan masyarakat. Orang yang single juga memiliki hak sebagai anak Allah untuk berjuang masuk melalui pintu yang sempit kepada persatuan dengan Allah itu sendiri.

Maka, persoalan keselamatan dan kebangkitan setelah kematian bukan soal kawin atau tidak, melainkan soal percaya dan sungguh mencintai Allah dan dalam kesetiaan mempraktekkan cinta Allah itu kepada sesame. Soal di sini adalah, apakah kita sungguh menghidupi nilai tertinggi yang kita yakini, Allah yang hidup dan membangkitkan atau kita terbentur pada jebakan nilai-nilai rendah materi dan kefanaan. Ingat, hidup di dunia ini adalah suatu hidup yang biasa saja. Namun hidup yang biasa itu hanya terjadi sekali. Tidak dua kali kita diberi kesempatan untuk hidup. Mana yang kita pilih, menjunjung nilai tertinggi itu, Allah sendiri atau kita terjerat pada nilai-nilai sekunder. Mari kita pilih.

PRO OR CONTRA TO JESUS

They are the lectors of the Church of Santa Teresa: Stephany, La Niña and Alison. God bless you all.
They are the lectors of the Church of Santa Teresa- New York: Stephany, La Niña and Alison, God bless you all.

God’s choices are often surprising to us, and we might even be tempted to say: incomprehensible! For in today’s gospel we hear about someone who, no doubt having heard of the power of Jesus’ name, uses this strength and power to cast out demons, but without belonging to the group of disciples that the Lord had called to himself.
This word of the Lord is precious for our everyday life: “He that is not against us is for us.” When someone does not manifest hostility toward Christ’s faithful, how could we judge his intention toward us? God alone knows the depths of our heart, and all of the thoughts of men! Who could say that the Lord had not given such and such a person the gift of his grace in order that this same person might love him in his heart? God is free, at all times and in all things!

Certainly, this is beyond us: we do not understand how it could be possible for such a person to serve God as we do, yet without belonging to our ecclesial community. We are quickly tempted, like the disciples, to forbid him to cast out demons and propagate the kingdom of God. If someone does not exteriorly belong to our group, then he cannot be a faithful servant of God. And yet this person will manifest a real gesture of communion. But this gesture will not be one that openly testifies to his religious membership in the Church of Christ; it will be but a simple human gesture: “Whoever gives you a cup of water to drink because you bear the name of Christ, will by no means lose his reward.”
So we can see that the evil might come from within an ecclesial community, or might come from a convent of the monks or from a Catholic family. In this case, let us see and reflect about the origin of the sin. Where is the source of the sin? It is in the world? It is in the heart of a man? Or it comes from the Law? Let us see it.
” «Whoever causes one of these little ones who believe in me to sin, it would be better for him if a great millstone were hung round his neck and he were thrown into the sea.» ”
These verses continue from last week’s Gospel. Jesus is still holding a child in His arms and refers to this little person as He makes a wisdom statement. Those who are with us cannot be against us. The more important thing is to live the holy life of reflecting the love of God and thereby not spreading the plague of sin to others. Holding the child, Jesus, as did Moses, wishes all to live in such a way as not to cause even this child to know what sin is. This is a stronger way to drive out the evil spirit in Christ’s name.
The final verses are a strong condemnation of those who cause sin to flourish and so infect others. They would be better not to have had a beginning than to experience the endings of their lives in torment and for ever.
There is a cute little theory that sin is spread genetically. At the moment of conception, when human life begins, that life is tilting a bit toward what we call “sin”. You might say that we don’t have a chance. It is one of many thoughts. It is true that we have to spend years learning to be virtuous. So we are born into and live our days in the tension between being “with” Jesus and being “against”. The real sin which gains such condemnation by Jesus is that of causing others to tilt even more toward being “against”.

But what is sin? From where sin comes? For our understanding let us take the letter of Saint Paul Chapter Seven verses seven to twelve.
7:7 What shall we say then? Is the law sin? God forbid. Nay, I had not known sin, but by the law: for I had not known lust, except the law had said, Thou shalt not covet.
7:8 But sin, taking occasion by the commandment, wrought in me all manner of concupiscence. For without the law sin was dead.
7:9 For I was alive without the law once: but when the commandment came, sin revived, and I died.
7:10 And the commandment, which was ordained to life, I found to be unto death.
7:11 For sin, taking occasion by the commandment, deceived me, and by it slew me.
7:12 Wherefore the law is holy, and the commandment holy, and just, and good.
In these words of Saint Paul, we come to know that sin not comes from the law or the commandment. The law is holy, just and good….. For some reason we may think that sin comes through the Law. In the other words, the Law is the reason for people to know what the sin is. Yes, it is right. Because, before the Law or in the Hebrew called TORAH, people didn’t know that killing someone is sin or commit adultery is sin or robbery is sin. Torah comes to open the mind of the people to see that all immoral actions are sin; the Ten Commandments could speak what the sins are. And what Paul says? Paul says that he is death by that Law. The Law made him suffers much, he can do nothing. Than, what is the door for Paul to feel free, to live freely in his faith to God? Only one way, and that way is Jesus Christ. Jesus came and frees us from the prison of the Law. Jesus come to free us and free us totally that we may walk with joy to the eternal salvation. So the question for us is where comes sin? Sin comes from our hearts, if we are away from God. But it doesn’t mean that human being is the origin of sin. No… sin comes where ever it wants. He comes to the hearts when we are not prepared, when we forget to pray, when we forget to love. Sin in like a roaring lion eager to swallow us. For that, holy bible told us that do not lose our hope. Be ready always; be prepared with the arms of God that are prayers and his holy words and his holy sacraments.
Where sin comes? Sin comes from our selfish hearts and we blamed Adam, we blamed our parents, we blamed other persons that are not as important. Sin is like this “Swine Flu” going around the world? Sin is different, sin is more dangerous. Sin tilts us toward the selfishness and violence.
Let us pray that the Lord keep us from all sin and evil. Amen.

Prepared by Fr. John Lebe Wuwur, OCD
for the Sunday´s preaching (26th Sunday of Ordinary Time)
in St. Teresa Church
50 -20 45 St
Woodside Queens – New York
United States of America

LISTEN TO HIS WORD

National Shrine of Unites States of America: Basilica of The Immaculate Conception, Washington DC
National Shrine of Unites States of America: Basilica of The Immaculate Conception, Washington DC

How good is our listening, especially for the word of God? God is ever ready to speak to each of us and to give us understanding of his word. God inspire us. Jesus’ parable of the sower is aimed at the listeners of his word. There are different ways of accepting God’s word and they produce different kinds of fruit accordingly. The first is the prejudiced listeners who has a shut mind. Such a person is unteachable and blind to the things of God.

The second is the shallow listeners who fails to think things out or think them through; such a person lacks spiritual depth. They may initially respond with an emotional fervor; but when it wears off their mind wanders to something else.

The third type of listeners is the person who has many interests or cares, but who lacks the ability to hear or comprehend what is truly important. Such a person is for ever too busy to pray or too preoccupied to study and meditate on God’s word. He or she may work so hard that they are too tired to even think of anything else but their work.

The forth type is the one whose mind is open. Such a person is at all times willing to listen and to learn. He or she is never too proud or too busy to learn. They listen in order to understand. God gives grace to those who hunger for his word that they may understand his will and have the strength to live according to it. Do you hunger for God’s word?

MARY: MOTHER OF THOSE WHO SUFFER

Corazones de Jesus y María
Corazones de Jesus y María

We all have pain and suffering in our lives. Part of life is our own aging and diminishment and a growing awareness of our physical and mental frailty or the worries we have about our children, our grandchildren and other family members. The profound disappointments of life – the state of our marriages; the realilty of the youthful life dreams we once had; or perhaps disappointment in the decisions made by our children – are part of the experience of so many of us. Sometimes there is the anxiety of waiting for the results of medical tests and the unknown changes to us and our family if the results are bad.
How do we live with this, share this experience or make sense of it? When Simeon met Mary and Joseph in the Temple and saw the infant Jesus, he knew that Jesus was “destined for the fall and rise of many in Israel,” but Simeon also was predicting that Jesus’ life would cause Mary tremendous sorrow. She had the pain and emptiness as her son left their home and town for the unknown life of a teacher. Not only did she probably miss his presence, but she had to open her heart and ask God to help her let go. She knew her son needed to leave and fulfill his call, but she did not always understand it. Her confidence in him was clear as she paved the way for her son’s first miracle at the wedding in Cana. “Do as he tells you,” is all she whispered to the servants.
She saw him move out farther into the region, accompanied by an unimportant group of ragtag followers that puzzled some. She listened as Jesus became more outspoken against the religious authorities. She was there as he was arrested, humiliated, and executed. This was her own son, once her cherished little boy, now the beloved man with whom she had such a deep bond of love and faith. She watched as he was spit on and tortured and finally endured the crucifixion. While other followers ran, Mary stood there at the foot of the cross, looking up at her son’s agonizingly slow death.
Mary is a woman who has suffered deeply in life. This is a very real and very human Mary, who understands our losses and tragedies. She knew what pain and suffering is and surely she also know to help us in our pain and suffering.
Dear Mary,
Help us to see you more clearly as a mother, a sister, daughter and friend. Help us to turn to you and to your son, Jesus with my own sorrow. Sometimes our heart is paralyzed by fear and pain and we don’t know where to start. May our heart be open to God freely, as you did, and let us feel the peace and love of Jesus flooding into the our. Amen.