SEPULUH TAHUN TELAH BERLALU…

Bag dalam biara Karmel OCD Bogenga Bajawa
Bagian dalam Biara Karmel OCD Bogenga Bajawa

Pertama kali bertemu, ada kesan. Kesan itu diteruskan dengan datang dan melihat dan tinggal hidup bersama dia, di Bajawa khususnya di Bogenga. Saya bangga dengan seorang P. Thom (Panggilan akrab untuk alm.  Pater Thomas Kalloor, OCD). Saya bangga karena sebagai imam dari India, ia sendiri berjalan tanpa kenal lelah mempromosikan panggilannya sampai ke Lembata. Saya pertama kali mengenal P. Thom di Lewoleba Lembata. Saat itu musim hujan angin. Setelah itu datang memberi test di Larantuka.  Saya ingat P. Thom bersama Bapak Petrus Puli, (Guru Bahasa Indonesia SMA Negeri Bajawa) dan Bapak Anton Riwu (Guru KepSek pada SDI Waturutu). Saat itu juga hujan angin dan mereka harus memutar tujuan. Seandainya keadaan normal maka mereka pulang lewat Ende . namun hujan membuat jalan di Ende runtuh. Maka mereka terpaksa mengalami gempuran ombak laut sawu ke kupang baru kemudian, dengan kapal ke Ende dan terus ke Bajawa. Kesan saya waktu masih remaja: orang ini punya kekhususan. Lalu saya datang, dan alami sendiri kekhususannya itu adalah: kesabaran, keRAMAHAN, ketabahan, keuletan dan kebapaan.

 

Kalau kita membandingkan kehidupan di Bogenga dan Paroki Santo Yosef sejak tahun awal sampai saat ini maka kita akan mendapatkan perbedaan yang amat besar. Dulu hanya ada dua pater, P John Britto, OCD dan P. Thom yang menangani pelayanan di Paroki serentak di Biara. Sekarang pelayanan rohani sdh ditangani oleh banyak Pater.  Dulu, P. Thom  tidak pakai mobil. Ia setiap setengah lima pagi, sudah menyalakan mesin motor Yamaha, yg sekarang diparkir rusak di samping aula belakang Paroki St. Yosef. Itu satu2nya kendaraan yg dimiliki biara ini saat itu. Bandingkan saat ini….kita harus berterima kasih kepada P. Thom dan P. John Britto  dan syukur kepada Tuhan. Selanjut setiap pagi kelihatan bahwa P. Thom  selalu menggunakan jaket tebal menembus dingin dan kabut pagi Bajawa waktu itu. Perlu diingat, daerah sekitar Biara masih dipenuhi dengan pepohonan kopi dan dadap dan enau. Karena itu udaranya masih terasa amat dingin dan menusuk sampai ke tulang. Namun, kelihatan bahwa P. Thom yang setiap hari misa jam 5 pagi itu tidak merasakannya. Suatu saat, P. John Britto, diserang stroke. Kami bingung, pastor sudah tinggal dua, sakit parah, mau jadi apa? Hanya satu-satunya harapan kami adalah P. Thom.

 

Merasa menjadi sandaran kami angkatan pertama, P. Thom begitu penuh pengorbanan. Bayangkan, misa di Paroki jam 5 pagi, melayani pengakuan, mememperhatikan kelanjutan pembangunan gereja, melayani misa di stasi-stasi dan tidak lupa, kami di Bogenga. Waktu itu P Thom sendiri yang menjadi magister kami. Kalau sudah sibuk, ia hanya tinggalkan tugas, terus kami selesaikan dan malam baru berkumpul.

 

Pertanyaan yang muncul: apakah ada novis angkatan perdana yang bolos di tengah pengorbanan seorang magister pertama? Kelihatan agak sulit untuk bolos. Belum ada rumah di sekitar sini. Batas hutan masih di SD I Watutura. Kemudian kalau muncul di kota semua orang pada tegur: Fraterr,  jalan-jalan  ke mana. Hati-hati…” jadi, sekalipun hanya satu pastor untuk kami, tetapi ada semacam karya Tuhan yang menyertai kami untuk bersemangat membantu P Thom.

 

Saya juga ingat, kalau rekreasi, Pater Thom selalu memilih bermain kartu. Dan permainan menjadi amat serius. Kadang saling marah dan saling mempersalahkan. Tapi dari situ muncul keakraban. Keakraban juga terlihat dalam makan bersama. Ketika kembali dari pelayanan di stasi, P Thom  selalu bawa sesuatu. Misalnya pisang, advokad, markis, jambu air dll. Apakah ia simpan di kamarnya? Tidak pernah. Ia dari stasi bersama sopir waktu itu, Bapa Kobus, langsung bawa ke dapur untuk dihidangkan di kamar makan. Kalau tidak sempat dihantar ke kamar makan, beliau akan menyuguhkan saat rekreasi.

 

Dari  sedikit tentang P Thom di atas, kita dapat menarik satu pesan kecil untuk kita semua. P Thom. Kisah tentang sebuah  sepeda motor bebek Yamaha dan rekreasi dengan makanan camilan pisang masak kiriman dari stasi2 yang dibawa P. Thom.  Bagi saya, pesan itu adalah KASIH, AGAPE, kasih yang selalu memberi tanpa sisa untuk kehidupan dan kelanjutan hidup orang lain. P. Thom punya AGAPE, agar Ordo OCD ini bisa eksis terus di Indonesia. Agar, OCD yang pertama hanya mulai dengan ‘satu sepeda motor bebek Yamaha itu”, boleh memiliki lebih dari satu kendaraan. Tentu bukan untuk show dan hidup mewah, tetapi untuk semakin memperluas pelayanan dan pewartaan Injil dan juga menebarkan spiritualitas doa kontemplasi Karmel Teresa kepada sesama.  Hanya dengan kasih yang selalu memberi ini, kita bisa memberi diri, waktu, perhatian, pengorbanan kepada sesame.

 

Bapa kita P. Thom sudah menunjukkan hal itu. Ia memberi diri seutuhnya setiap hari kepada Tuhan dan sesame. Ia memberi diri dalam pelayanan kepada umat, dgn setiap pukul setengah lima pagi dalam dingin untuk misa pagi di Gereja. Terus misa lagi di Biara, terus misa di stasi. Belum lagi pembangunan Gereja dan BIara. Semua jika tanpa kasih yang memberi diri, tak mungkin ada sukses nyata seperti ini. Maka, mari kita belajar utk selalu siap memberi diri, mempersembahkan diri setiap hari. P. Thom sudah menjadi persembahan yang harum kepada Tuhan dengan sekian pencapaian kiprah OCD Indonesia. Semoga keharuman semangatnya itu juga menjadi semangat kita. Amin.

Iklan

RUMAH HATIKU
“Rumahku kini telah Sepi seluruh”

JOHN LEBE WUWUR, OCD

RUMAH HATIKU
“Rumahku kini telah Sepi seluruh”

Cetakan 1 : Januari 2012

PENERBIT INSTITUT SPIRITUALITAS
ORDO KARMEL TIDAK BERKASUT
Biara Karmel San Juan Penfui-Kupang-NTT
Telp.0380820927

Nihil Opstat : Komisaris OCD Indonesia
Kupang, 1 Januari 2012

Imprimatur: Mgr. Petrus Turang
Uskup Agung Kupang

ISBN 979-99932-2-9

Hak Cipta dilindungi Undang-undang
Dilarang memperbanyak karya tulis ini dalam bentuk dan cara apapun tanpa izin tertulis dari penerbit.

PROLOG

Suatu hari di bulan Oktober 2011. Dalam suasana hati yang penuh gejolak, antara sedih dan gembira, saya meninggalkan kota Metropolitan Surabaya. Dari Bandara Juanda saya akhiri perjalanan hari itu di gerbang kota Bajawa. Bajawa, dalam selimut kabut tipis berada di sebuah lembah pegunungan yang sejuk dan sunyi. Dalam rasa yang sulit dilukiskan, Jeep Tua warisan dua Pendiri: Pater John Britto, OCD dan Pater Thom Kalloor, OCD, memasuki rumah Biara Santo Yosef – Bajawa, di dusun Bogenga, Kelurahan Susu. Sejenak saya sadari, ada suasana kontras antara Surabaya yang sibuk dan Bajawa yang tenang dan sunyi. Surabaya dan Bajawa memang beda. Surabaya dengan gaya hidup metropolis, kota besar, sementara Bajawa dengan kesederhanaan sebuah kota kecil yang sederhana. Kadang sunyi dan kadang dingin. Namun, di balik dua kontras ini, terkandung kemiripan. Kemiripan itu nampak dalam kehausan manusia untuk menimba “air spiritual” demi suatu kehidupan yang lebih bermakna. Jelasnya bahwa, di balik kesibukan dan ketenangan aktivitas manusia, terbersit kerinduan yang sama akan suatu relasi yang menguatkan dan mengisi penuh hati manusia; relasi dengan Allah.

Kerinduan dan rasa haus akan suatu “sumber air spiritual” dari manusia Metropolitan Surabaya dan Kota Kecil Bajawa ini dapat kita alami secara kuat ketika kita turut masuk ke dalam kehidupan kaum awam Katolik yang giat mempraktekkan iman kristiani secara sejati. Kehausan saudara-saudari awam inilah yang membuat kami berani menuangkan refleksi sederhana dalam catatan ini. Refleksi kecil ini kami timba dari kerendahan dan keagungan hati pembaharu Ordo Karmel, Santa Teresa dari Avila dan Santo Yohanes dari Salib. Tidak lupa pula buku tulisan Henri J. M. Nouwen, “Kembalinya Si Anak Hilang” buah tangan seorang sahabat rohani saya, Romo Bruno Joko, Pr, seorang imam diosesan Keuskupan Surabaya, pendamping frater TOR di Jatijejer-Trawas, Keuskupan Surabaya, telah sedikit memberikan kepada saya suatu pengertian yang semakin baik tentang arti kehadiran seorang Bapa dalam suatu komunitas kehidupan manusia.

Bukan tidak penting peran saudara sekomunitas. Mereka bertiga (P. Abdul, P Rikard dan P. Adam) menampakkan sosok Bapa Ilahi dalam kebersamaan kami yang saban hari mendampingi calon-calon biarawan OCD di Rumah Formasi Novisiat. Mungkin penampilan mereka sederhana. Namun dalam kesederhaan itu, terjalin suatu kerja sama dalam pelayanan kepada kehidupan komunitas Novisiat. Dari kesederhanaan ini juga muncul refleksi sederhana seperti yang ada di tangan kita ini. Ketiganya, “los tres padres” dari komunitas OCD Bogenga ini, memang berusaha memberikan yang terbaik dari kemampuan mereka untuk kehidupan rohani suatu komunitas dan pelayanan apostolik bagi umat di sekitar Bajawa. Tentunya, semangat ini muncul dari terpatrinya semboyan Karmel di hati mereka dan kita: Zelo zelatus sum pro Domine Deo excercituum”: Aku bekerja segiat-giatnya demi Allah bala tentara.

Semoga refleksi spiritual ini bermakna untuk kita semua, terutama bagi yang membacanya dalam cinta akan Allah. Shalom dalam nama Allah yang maha Tingggi.

Bogenga-Bajawa, Medio Januari 2012.

(Untuk mengetahui isi tulisan ini selanjutnya, nantikan penerbitan buku “Rumah Hatiku”. Semoga berguna. Shallom).

MELAWAN ZAMAN YANG SIBUK

Semakin kita sibuk, seharusnya semakin kita tahu menempatkan diri di hadapan Allah, semakin kita mampu menyisihkan waktu untuk berdoa, untuk berelasi dengan Allah. Semakin kita merasa tidak memiliki waktu untuk berdoa, seharusnya kita melawan kecendrungan ini dengan menyiapkan waktu untuk berdoa

MEMBEDAH SAMBUTAN VIKARIS DALAM BUKU KONSTITUSI OCDS

Malam itu, malam Minggu, 14 November 2010. Pak Lingga Putra bersama istrinya, Ibu Sherly Gunawan beserta dua putri mereka, menjemput saya di Hening Griya, Wisma Resi Aloysii, Claket-Pacet-Mojokerto. Singgah sebentar di Biara Bintang Kejora, milik Suster-suster Ursulin, mengintip sebentar kegiatan Marriage Encounter, Distrik IV Surabaya, berjabat tangan Yang Mulia, Uskup Surabaya, Mgr. Vinsentius Sutikno, lalu meluncur ke Surabaya. Di bilangan Sepanjang-Krian, saya di Jemput Bos OCDS Surabaya, Pak Yasin Onggara, untuk seterusnya melaju di tol menuju ke alamat Graha Familia Nomor 26, Surabaya.

Tiba di alamat tersebut, saudara-saudari OCDS telah lama menanti. Karena kelamaan menunggu, acara “persaudaraan” yakni makan bersama, dijadikan sebagai acara pembuka. Selanjutnya Doa Ibadat Sore kami daraskan bersama, dipimpin Saudari Mita. Proses acara pun memasuki tahap inti, yakni pembahasan Konstitusi yang telah disiapkan oleh para formatores. Pembahasan Konstitusi difokuskan pada topic “Membedah Sambutan Vikaris”. Alasannya, sambutan ini bisa menjadi materi refleksi yang mendalam. Saudari Lucy Damayanti mengawali “studi” Konstitusi OCDS ini dengan menyajikan apa arti nama Karmel. “Karem El” artinya kebun anggur, suatu tempat yang indah dan subur, berada di ketinggian sebuah bukit. Selanjutnya, dijelaskan pula letak geografis Gunung Karmel. Penyajian kedua, dipaparkan oleh saudara Rico Tancho. Rico menjelaskan tentang posisi penting Regula St. Albertus dan pentingnya penjabarannya dalam Konstitusi dan aturan-aturan suatu komunitas. Jadi, Aturan Albertus ini, menjadi suatu Undang-Undang Dasar Karmel, yang harus dirincikan lagi ke dalam Konstitusi setiap Ordo dan Kelompok untuk selanjutnya dijabarkan dalam praktek hidup komunitas, sesuai dengan cirri khas, kebutuhan dan kebudayaan suatu komunitas. Penyajian ketiga, diberikan oleh saudari Dr. Rita Sulantari. Dalam pembahasan ini, Beliau menjelaskan tentang susunan kepengurusan OCD, mulai dari jenjang pusat, Generalat di Roma hingga Kevikariatan Indonesia. Juga dijelaskan tentang adanya tiga kelompok dalam OCD. Kelompok Biarawati Kontemplasi dengan cirri klausura (tertutup untuk umum), kelompok Biarawan yang juga kontemplasi namun tidak terikat dalam suatu tembok klausura ketat, demi karya kerasulan dan kelompok Awam, yang juga menghayati suatu cirri kontemplasi dalam hidup bergereja dan bermasyarakat. Singkatnya, demikian Dr. Sulantari, “Inilah ‘three in one’, tiga dalam satu. Tiga kelompok besar dalam satu semangat Karmel Teresiani”. Sajian keempat, oleh Saudara Yasin Onggara, beliau menjelaskan tentang pengesahan Konstitusi OCDS oleh Kongregasi Suci Hidup Bakti dan Karya Kerasulan di Vatikan. Konstitusi OCDS ini disodorkan oleh Pater General bersama Dewannya kepada Kepausan untuk disahkan. Pengesahan itu diberikan oleh Kongregasi yang disebut di atas. Dengan demikian, kita memiliki keyakinan bahwa, Konstitusi OCDS ini adalah suatu petunjuk hidup yang bisa dipraktekkan Kaum Awam dalam Ordo Karmel Teresiani. Pada sajian ke lima, dijelaskan oleh kami tentang siapa itu Albertus, pemberi Regula Karmel dan siapa itu Brokardus.

Tahap berikut, Saudari Lucy Damayanti membimbing peserta memasuki meditasi. Meditasi ini berlangsung selama kurang lebih tiga puluh menit. Setelah meditasi, pertemuan dilanjutkan dengan acara pengumuman dan pembahasan soal-soal keliling. Tahapan ini dipandu oleh Ketua OCDS Surabaya, Saudara Yasin Onggara. Dalam tahap ini, diputuskan beberapa kegiatan penting yang harus ditindaklanjuti, termasuk sumbangan kasih kepada Korban Letusan Merapi di Yogyakarta. Pertemuan ditutup dengan sebuah doa singkat dan berkat penutup.

Jam menunjukkan pukul 22.00. Rico Anja membawa saya ke terminal Bungurasi dan seterusnya mengambil bus malam menuju Mojokerto. Tiba di Mojokerto, pukul 11.30. Terima kasih kepada kebaikan hati Pak Sulkan yang menanti dengan sabar, dan dengan sabar pula membonceng saya kembali ke kesejukkan Bukit Claket. Saya lirik arloji tua saya, jam menunjukkan pukul 12.30. Waktu untuk beristirahat. Besok jam 6 harus memimpin Misa di Suster Karmel OCD. Terima kasih dan Tuhan memberkati.

MENGGALI MEDITASI DALAM TRADISI NUSANTARA

Roh Pembaharu
Roh Pembaharu

(Refleksi pribadi atas Meditasi Bali Usada dan Tradisi Spiritualitas Karmel Teresani)

1. Keunikan Bali Usada: Kesehatan manusia.
Tujuan belajar meditasi ini adalah untuk melatih pikiran agar menjadi harmonis, selanjutnya menjadi usaha menyehatkan pikiran ini bisa mendatangkan manfaat untuk:
– Menyehatkan badan.
– Menenangkan pikiran.
– Melepaskan reaksi buruk dari memori, pengalaman hidup yg tidak enak.

2. Mencari akar Bali Usada.
SECARA deskriptif MBU digambar sebagai berikut: ketika mendengar kata meditasi, orang yang belum mengetahui tentang meditasi akan berpikir lain. Ada yang menduga untuk mencari kesaktian, jadi peramal, melihat hal yang gaib dan sebagainya. Meditasi telah menjadi pelengkap pengobatan dan pennyembuhan di sejumlah rumah sakit di Amerika serikat. Meditasi dimaksud agar manusia memiliki pikiran yang sehat dan kuat. Karena itu, kadang ada rasa putus asa, stress karena pelbagai masalah,ini karena pikiran kita tidak kuat. Meditasi BU ini adalah sebuah teknik untuk menenangkan diri dan menyadari keberadaan kita. Memang di awal penjelasannya dikatakan bahwa Meditasi Usada Bali tidak berhubungan dengan kepercayaan tertentu. Namun kalau mau mencari akarnya, dapat kita katakan bahwa Meditasi ini berelasi erat dengan cirri meditasi Budha. Hal ini bisa disimpulkan dari sering disinggungnya pengaruh tradisi-tradisi kuno China dalam penjelasan-penjelasan Bapak Merta Ade, pendiri dan penganjur Meditasi Bali Usada. Atau, bisa jadi, karena berada di Bali, pulau “dewata” yang akrab dengan Hindu, maka bisa dikatakan bahwa pengaruh keyakinan ini pun bisa masuk dalam unsur-unsur Meditasi Bali Usada. Namun, dari namanya sendiri jelas, Bali Usada memiliki cirri Indonesia yang khas. Bali sebagai salah satu pulau di Republik ini memiliki kekhasan budaya dan tradisi serta kandungan spiritual yang khas. Dengan digalinya teks-teks asli dan kuno dari pujangga-pujangga terkenal Bali, dapat kita katakan bahwa Meditasi Bali Usada ini berangkat dari kekayaan spiritual asli Indonesia. Hebatnya, Meditasi ini sudah dipoles agar bisa diikuti oleh siapa saja, dari golongan umur mana saja, dari suku dan bangsa mana saja dan dari latarbelakang agama apa saja.
3. Antara Meditasi Bali Usada dan Meditasi Karmel Teresani.
Jika kita mengikuti dengan tekun Meditasi Bali Usada (khususnya tahap Tapa Brata I), maka kita bisa tiba pada kesimpulan bahwa Meditasi ini berusaha merasakan diri, sadar akan diri sendiri secara menyeluruh dan sedalam-dalamnya. Kalau dibandingkan dengan Meditasi Karmel Teresani, maka dapat diibaratkan dengan doktrin spiritual San Juan de la Cruz, yakni menyadari kekurangan-kekurangan kita dalam taraf indrawi di Malam Gelap Aktif dan Pasif Indrawi. Pada tahap indrawi ini pribadi manusia menyadari kehinaan dirinya dan mencoba membersihkan demi transendensinya ke tahap berikut Malam Gelap Aktif maupun pasif Roh. Penyadaran seperti ini bersinergi dengan tahap I-IV dalam Meditasi Tapa Brata. Dan ini juga terjadi misalnya dengan jelas dalam usaha pemurnian diri dalam Malam Gelap. Indra-indra dimurnikan sebelum maju pada tahap berikut, Malam Gelap Roh. Malam Gelap Roh ini (mungkin mirip dengan bagian-bagian tubuh yang paling atas dalam Meditasi Bali Usada: tubuh kasar, tubuh meridian, tubuh cakra dan tubuh halus) juga memerlukan pemurnian. Setelah itu, masih ada kelanjutan. Jiwa atau pribadi manusia menuju ke persatuan intim dengan Allah. Persatuan intim ini yang tidak ada dalam Meditasi Bali Usada. Namun, bukan berarti Bali Usada selesai dengan semua ini. Sebagaimana nama menunjukkan identitas, maka Meditasi Bali Usada membentuk pribadi sesorang agar bisa mengharmonikan dirinya dengan “self” dan itu secara langsung juga dengan Yang Maha Tinggi, manusia dan dunia. Dalam bahasa lain, Meditasi Bali Usada adalah sebuah latihan menuju cirri hidup sehat secara integral, sementara Meditasi Karmel Teresani (OCD) adalah suatu doktrin yang menjadi landasan sekaligus penuntun bagi mereka yang mau hidup erat mesra bersatu dengan Allah.

4. Sumbangan Meditasi Bali Usada bagi suatu spiritualitas
Sebagai anak-anak bangsa, Bali Usada sudah membantu banyak manusia untuk lebih menemukan arti dari suatu pencaharian diri dalam refleksi yang mendalam dan serius. Banyak orang mungkin berpikir bahwa meditasi itu sesuatu yang menyeramkan, Tapa Brata atau meditasi itu memiliki konotasi dengan soal mitis magis. Namun, semuanya bisa menjadi jelas ketika Meditasi Bali Usada dialami. Meditasi bisa dipahami dalam arti katanya: merenung, merasakan secara mendalam dan penuh perhatian dan bisa mengalami apa itu meditasi dalam cara yang sederhana.
Dalam kaitan dengan tradisi meditasi dalam ajaran Katolik, terutama dalam doktrin Karmel Teresani, meditasi memerlukan pengorbanan diri. Dalam kata lain, usaha mencapai tangga Allah tidak mungkin hanya dengan cara berfoya-foya. Perlu juga suatu “askese” atau matiraga dalam pencaharian moment persatuan dengan Allah. Askese ini bisa dipelajari dari Meditasi Bali Usada. Hal ini menjadi jelas dengan pengaturan waktu yang ketat, posisi duduk yang pasti dan tenang dan juga menu makan yang teratur. Semuanya demi menghasilkan suatu harmoni. Dan bukankah harmoni itu adalah satunya manusia sebagai pribadi dan satunya manusia dengan Sang Pencipta? Mari kita renungkan….

MERENUNGI MEDITASI

Kapel Kecil sebagai latar belakang pemandangan Biara Para Pater Karmel OCD di Kota Vittoria-Gazteiz, Spanyol.
Kapel Kecil sebagai latar belakang pemandangan Biara Para Pater Karmel OCD di Kota Vittoria-Gazteiz, Spanyol.

Meditasi

Meditasi adalah suatu tema yang sangat popular dalam dunia zaman ini. Dengan penekanan yang selalu baru dalam bidang spiritualitas dan pelayanan kesehatan alternative modern, meditasi menjadi semakin digandrungi manusia zaman ini. Namun, tergantung pada konteksnya. Meditasi dapat dipandang dalam pelbagai bentuk. Bentuk yang paling sederhana, adalah meditasi sama saja dengan merenung atau merefleksi atau berkontemplasi. Tak ada penilaian yang melebihi istilah ini yang dapat diimbangi dengan berpikir atau bermimpi. Subyek dari meditasi seseorang adalah nilai untuk tindakan yang keluar dari hasil meditasi.

Meditasi: siapa yang menjadi tokoh utama Meditasi Transendental?

Meditasi, merupakan suatu gerakan yang bisa saja datang dari berbagai latar belakang. Bisa saja meditasi datang dari perkumpulan atau gerakan yang disebut Meditasi Transendental. Meditasi Transendental didirikan oleh Maharishi Mahesh Yogui, seorang beragama Hindu. Menurut beliau, meditasi adalah “suatu proses sederhana, alamiah tanpa memerlukan usaha energy yang besar dan dipaksakan”. Selama teknik ini dijalankan, kesadaran pribadi ditenangkan dan mengalami suatu keadaan unik karena kewaspadaan yang tenang. Melalui ukuran bahwa tubuh menjadi rileks secara lebih mendalam, pikiran kita mengangkat semua aktivitas mental untuk mengalami bentuk paling sederhana dari kesadaran, yakni Kesadaran Transendental. Pada keadaan ini , kesadaran terbuka kepada “saya”. Mereka yang menjadi pendukung Meditasi Transendental ini berkata bahwa dengannya mereka dapat memperbaiki kerativitas, efektivitas dan kepuasan hidup mereka. Menurut mereka, siapa saya, golongan usia mana saja, agama mana saja dapat mempraktekkan Meditasi Transendental ini.
Meskipun demikian, Meditasi Transental diyakini berasal dari filsafat Hindu. Pendiri Meditasi Transendental ini, menunjukkan keyakinannya dengan jelas bahwa ia seorang Hindu. Kelihatan dengan jelas bahwa filsafat dan manfaat di balik Meditasi Transendental ini berasal dar tradisi Hindu. Praktek ini mirip dengan cara Hinduisme mencari dan menemukan dalam pribadi manusia suatu persatuan dengan “saya yang lebih tinggi/mendalam” dari pribadi seseorang. Ini adalah cirri khas Hindu (Cf. Corte de Distrito de los Estados Unidos, Newark, NJ, en octubre 29, 1977, y la Corte de Apelaciones de los Estados Unidos, Filadelfia, PA, febrero 2, 1979.)

Meditasi Alkitabiah

Tidak semua meditasi adalah Meditasi Transendental. Pernyataan ini dapat dibuktikan bahwa Alkitab menyuruh kita untuk bermeditasi, bermenung, berefleksi. Dalam Yosua 1:8, Allah mengatakan kepada kita untuk merenungkan Sabda-Nya, siang dan malam dan agar kita menaati Sabda Allah itu. Kata-kata “meditasi” atau “merenung” dapat ditemukan 20 kali dalam Kitab yang sama. Bisa juga dibaca dalam Kitab Ulangan 6:4-7. “ Dengarlah, hai orang Israel: TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu esa! Kasihilah TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu. Apa yang kuperintahkan kepadamu pada hari ini haruslah engkau perhatikan, haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun. Haruslah juga engkau mengikatkannya sebagai tanda pada tanganmu dan haruslah itu menjadi lambang di dahimu, dan haruslah engkau menuliskannya pada tiang pintu rumahmu dan pada pintu gerbangmu”. Suatu ajakan untuk merenungkannya berulang-ulang, meditasi….. Dalam Perjanjian Lama terdapat dua istilah pokok dalam bahasa Ibrani untuk mengungkapkan soal meditasi. HAGA yang berarti merenungkan atau meditasi. SIHACH, berarti merenungkan dalam-dalam, memasukkan ke dalam pikiran seseorang atau mengontemplasi. Kata-kata ini bisa juga berarti berdiam, dipandang bijaksana dan memberikan perhatian.

Meditasi: suatu sejarah

Salah satu bentuk meditasi yang sudah dipraktekkan kaum kristiani sejak paling lambat pada awal abad ke IV adalah LECTIO DIVINA. Praktek ini sudah digunakan secara tradisional dalam Ordo-ordo religious monastic dan sekarang dinikmati dengan suatu kesadaran baru. Lectio Divina berarti, “bacaan suci”, dan memiliki 4 etapa: lectio (baca), meditation (meditasi diskursif – merenung dengan memakai daya pikiran dan memori), oratio (doa efektif) dan contemplation (kontemplasi). Pada tahap Lectio, seseorang menemukan suatu bacaan dan dibaca dengan penuh konsentrasi atau perhatian. Kemudian, dalam tahap meditation, teks yang dibaca direnungkan atau diulang kembali melalui ingatan atau daya memori. Dalam tahap oratio, kita berbicara atau bercakap-cakap dengan Tuhan melalui inspirasi Sabda yang tadi dibaca, sambil memohon agar Ia boleh memberikan kebijaksanaanNya kepada kita. Tahap akhir, contemplation, seseorang secara rileks beristirahat di hadirat Allah.

Sebagaimana kita lihat, meditasi, secara sepintas dilihat sebagai merenung atau berpikir tentang sesuatu. Subyek dari meditasi adalah seorang pribadi dan tujuan meditasi adalah apa yang ditangkap dari suatu tahap meditasi ke tahap meditasi yang lain. Jika Dia, Tuhan yang dipilih sebagai subyek refleksi kita, maka Ia sendiri yang menerangi pikiran kita dan membuat suatu perbedaan besar dalam cara kita memandang hidup ini. “Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu. Dan apa yang telah kamu pelajari dan apa yang telah kamu terima, dan apa yang telah kamu dengar dan apa yang telah kamu lihat padaku, lakukanlah itu. Maka Allah sumber damai sejahtera akan menyertai kamu (Filipi 4:8-9).

RESI ALOYSII – CLAKET, SURABAYA, 26 JANUARI 2011

MISTIK….APA ITU ….

Trenvia atau Kereta Listrik yang menjadi angkutan umum di kota Vittoria-Spanyol
Trenvia atau Kereta Listrik yang menjadi angkutan umum di kota Vittoria-Spanyol

Istilah mistik bisa ditelusuri ke beberapa kata dalam bahasa Yunani. Pertama, kata mio yang berarti menutup mata. Kita kenal kata miope yang berarti orang yang tidak bisa melihat kalau tidak berada sedemikian dekat. Orang seperti ini mempunyai cacat penglihatan. Kata mio mempunyai kaitan dengan kemampuan melihat. Cakupannya ialah orang yang secara dekat melihat, memandang ke dalam diri sendiri; maka istilah mistik bisa berarti usaha menyelami, melihat yang di dalam diri.
Kedua, kata myeo yang berarti mengantar ke dalam dunia misteri; seperti orang yang mau memasuki ruang gelap. Di sini dibutuhkan orang yang biasa masuk dalam ruang itu untuk membimbing orang lain masuk ke dalamnya. Maka istilah mistik di sini berarti usaha bersama untuk mengalami misteri-misteri.

Pengalaman mistik adalah pengalaman yang melampaui pengalaman harian ( ada segi transcendental dalam pengalaman itu). Salah satunya adalah pengalaman pribadi, pertemuan dengan Yang Ilahi. Pengalaman ini berusaha menyentuh atau bahkan bersatu dengan Yang Ilahi atau Yang Maha Dalam (unio mystica). Usaha itu bisa mencakup: matiraga (askese), bertapa (menyendiri) dan meditasi (merenung). Pengalaman mistik bisa berupa: vision, ekstase (keadaan tak sadarkan diri karena diisi oleh Yang Ilahi), peramalan (kenabian), elevasi (pengangkatan dll). Semoga bermanfaat.